
Tok tok tok!
“Permisi, selamat pagi!” panggil seseorang sambil mengetuk pintu.
Kebetulan sekali, Mei yang baru saja bangun menuruni anak tangga sambil sesekali menguap.
“Bah! Siapa sih, subuh-subuh udah datang?” gerutu Mei dengan kesal. Ia pun mempercepat langkahnya menuju pintu utama rumah tersebut.
“Siapa?” Mei membuka pintu rumah itu. Dan tampaklah sosok laki-laki seusia Arya, sedang berdiri tegap sambil memegangi sebuah map berwarna biru.
“Dik, Pak Arya nya ada?” tanya orang itu.
Mei di buat kesal dua kali oleh orang itu, pertama kesal karena di sebut adik. Kedua, ia kesal, karena orang itu bertanya tanpa expresi.
“Siapa? Siapa yang adik nya situ?” Mei menujuk-nunjuk wajah orang itu. Orang itu spontan menjauh dari hadapan Mei yang seperti singa.
“Maaf! Tolong bisa beri tahu, di mana Pak Arya?”
Bukannya menjawab, Mei malah terus mengomel. Akhirnya, pria itu menelpon Arya yang masih terlelap di alam mimpi.
“Siapa sih ganggu pagi-pagi!” gerutu Arya sembari meraba-raba pojokan kasur.
“[Hallo, Pak. Maaf menganggu waktu ada, ini saya sudah di bawah. Tetapi, ada seorang perempuan yang marah-marah. Apakah dia adik anda?]”
Tut..! Arya memutuskan sambungan telpon itu, Lalu Arya turun dari atas ranjang dan segera keluar kamar. Meninggalkan Zivanya yang masih terlelap.
“Mei!” tegur Arya yang sudah berada di depan pintu, tepat di belakang Mei.
__ADS_1
“Ehh.. Bang Arya, ini nih Bang, ada orang kaya mayat idup. Bertanya tanpa expresi,” ucap Mei sambil menujuk wajah pria itu.
Arya tersenyum setelah mendengar Mei menyebut pris itu dengan sebutan mayat hidup. “Dia mamang seperti itu, namanya Willy,” kata Arya.
“Oh, namanya Willy. Willy Willy love you never never life you, maafkan aku memarahimu!” Mei mencebikan bibirnya lalu segera meninggalkan Arya dan Willy di depan pintu rumah itu.
“Mei masuk dulu, Bang. Mau urus kerjaan dapur,” kata Mei pada Arya.
“Pergi sana! Saya doakan, anda terbakar karena gas yang meledak!” ujar Willy.
“Wil, tidak bisakah kau merubah kebiasaanmu? Semua wanita tidak akan nyaman jika kau terus bersikap seperti itu!”
“Maaf, Pak Arya. Saya lebih nyaman seperti ini!”
“Ya sudah, terserah kamu aja. Tapi, tolong, berhenti memanggil saya dengan sebutan bapak, saya belum tua loh!” protes Arya. Ia tidak nyaman di sebut bapak oleh Willy, tapi, Willy sudah kebiasaan dan sulit merubah kebiasaannya itu.
“Sini berkas nya. Bawa beberapa orang untuk ikut saya dan Zivanya ke komplek anggrek pagi ini!”
Willy segera memberikan berkas dan dokumen yang ia bawa.
“Kalau begitu, saya pamit undur diri dulu!” ujar Willy.
“Mau undur diri kemana? Masuk!” perintah Arya.
“Tapi, Pak Arya. Saya harus memanggil orang yang akan ikut Pak Arya dan Nona Zivanya ke komplek anggrek,” kata Willy dengan tubuhnya yang tegap seperti patung.
“Telpon bisa, kalau kamu pergi lagi. Saya jamin, kamu akan telat datang!”
__ADS_1
Willy pun hanya bisa menurut, ia mengikuti Arya masuk kedalam rumah.
.
.
.
Kini, Arya, Zivanya, Willy serta beberapa anak buah Arya. Telah berada di komplek anggrek. Mereka mengumpulkan warga komplek anggrek itu di depan rumah yang di tinggali Zivanya dan anak-anaknya.
“Yang memiliki uang, silahkan lunasi tunggakan kalian! Karena, Nona Zivanya Anatasya tidak akan mentoleransi lagi!” tegas Arya.
Beberapa di antara warga komplek itu, segera maju dan menyerahkan tunggakan mereka. Tapi, beberapa di antaranya diam di tempat.
“Mana yang lain?” tanya Arya.
“Saya tidak mau bayar, sebelum orangnya muncul di hadapan saya. Jangan-jangan kalian Cuma nipu!” ujar ibu-ibu yang selalu saja menghina Zivanya. Ingatkah kalian? Seorang ibu-ibu yang ngutang tempe sama Kang Udin? Wkwkwk
“Jika tidak mau bayar, silahkan angkat kaki dari rumah yang kalian tempati!” tegas Arya dengan tatapan sinisnya.
“Willy, jemput Nona Zivanya!” perintah Arya pada Willy. Ia meminta Willy membukakan pintu mobil, di mana ada Zivanya di dalamnya.
Willy pun segera berjalan sedikit tergesa ke arah mobil, lalu membuka pintu mobil bagian belakang. Dan tampaklah, sosok cantik Zivanya di sana.
Terbelalak lah mata para warga yang ada di sana. Rendi yang juga baru keluar dari rumahnya bersama Si Bapak. Segera melihat ke tempat keramaian.
“Ada apa ini?” tanya Rendi, tapi setelah melihat Arya ada di sana. Ia kembali mundur, dan melihat hal itu dari jarak yang cukup jauh.
__ADS_1
BERSAMBUNG!