PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 107


__ADS_3

Hari ini adalah dimana hari, Mei akan di operasi. Dengan setia, Willy selalu menemani dan mengajak istrinya itu berbicara.


“Nanti, setelah sembuh aku bakal ajak kamu ke bali,” kata Willy. “Gimana, mau?” lagi-lagi Mei hanya menggeleng. Selera humornya telah hilang, yang afa di pikirannya hanyalah kematian. Ia benar-benar takut menghadapi kenyataan.


“Kok gak mau semua sih!” Willy cemberut di buatnya. “Kalo gitu, kita ke neraka bareng-bareng aja!” cetus Willy tanpa sengaja. Membuat Mei merespon dengan cepat.


“Kamu ngomong apa sih? Jangan ngawur!” ujar Mei sembari memukul lengan Willy dengan sangat pelan.


“Sayang, kamu marah?” tanya Willy.


“Siapa yang gak marah. Ngajak kok ke neraka,” kata Mei.


Cukup lama Willy menemani istrinya, akhirnya jadwal operasi Mei tiba. Mei pun dibawa ke ruangan operasi.


“Sayang, kamu harus kuat, harus semangat demi aku. Aku nunggu kamu!” Willy melepaskan genggaman tangannya pada Mei. Air mata pemuda itu kembali luruh.


“Mei pasti sembuh, kamu gak boleh boleh lemah,” kata Zivanya sembari mengusap punggung Willy.


“Iya, mbak. Willy yakin, Mei pasti sembuh,” ucap Willy dengan keyakinannya.


Satu jam lebih Arya, Willy dan Zivanya menunggu. Akhirnya lampu operasi berubah hijau, yang artinya operasi telah selesai.


Willy segera bangkit dari duduknya, ia berdiri di depan pintu operasi. Dengan begitu tidak sabaran ia menunggu pintu ruangan itu terbuka.


Setelah pintu itu terbuka, Willy memboombastik dokter yang mengoperasi istrinya dengan banyak pertanyaan.


“Dokter, gimana operasinya? Lancar kan?” tanya Willy. “Istri saya gimana? Apa udah sembuh? Terus apa boleh saya masuk kedalam?”


Dokter yang berasal dari Singapura itu tersenyum. “Sudah, operasinya berjalan dengan lancar. Semoga istri anda baik-baik saja,” kata dokter itu. “Sebentar lagi, dia bakal di pindahkan ke ruangan rawatnya semula. Jadi, kamu bisa menemui dia!”

__ADS_1


“Alhamdulillah,” Willy mengucap syukur setelah mendengar jawaban Dokter itu.


“Kalau begitu, saya permisi dulu,” kata dokter itu pamit kepada Willy, Arya dan Zivanya.


“Silahkan dokter,” kata Arya.


.


.


.


Seminggu kemudian, keadaan Mei sudah semakin membaik.


“Ayo, dimakan lagi bubur nya. Tinggal sedikit ini,” kata Willy. Dengan telaten ia menyuapi istrinya itu makan.


“Beneran udah kenyang?” Willy meletakan mangkuk bubur ke atas nakas yang ada di samping ranjang pasien itu.


“Sayang, aku bener-bener bersyukur. Akhinya kasih bisa sembuh dan pulih kaya dulu.” Willy menggengan jemari istrinya. Di kecupnya jemari itu dengan lembut.


“Meski aku sembuh, semuanya udah beda. Semuanya gak lagi sama, bang,” kata Mei.


“Gak sama gimana? Apa maksud kamu, sayang?”


Air mata Mei kembali luruh, hidungnya kempang kempis. “Aku gak sempurna, aku gak bisa kasih kamu anak. Semua harapan itu udah gak ada!”


“Sayang, jangan ngomong kaya gitu. Gak ada manusia di dunia ini yang sempurna, yang sempurna hanya tuhan.” Willy menarik tubuh Mei kedalam pelukannya. “Aku janji, kita akan lewati semua ini sama-sama!”


“Aku merasa jadi istri yang gak berguna. Aku gak berguna, Will,” kata Mei. Ia merasa tidak lagi pantas untuk Willy.

__ADS_1


“Aku butuh kamu, aku gak bisa tanpa kamu. Mei!”


“Jangan pikirkan masalah anak! Meskipun kita gak punya anak, ada Nino, Valencia dan Abimanyu. Sebentar lagi juga, Mbak Vanya akan melahirkan lagi kan?” kata Willy. Ia mencoba menyemangati istrinya itu.


“Kalau kamu memang pengen punya anak, kita bisa adopsi!” ujar Willy lagi. “Aku gak masalah kok, kita punya atau pun gak punya anak. Yang penting aku bisa deket-deket terus sama kamu!” goda Willy.


Mei sedikit menyunggingkan senyumnya. Ia akan berusaha tegar, ia akan berusaha untuk menerima semua takdir yang telah di gariskan tuhan untuknya dan Willy.


“Hehehee! Gitu dong, senyum,” kata Willy sembari mencubit pipi Mei.


“Kamu sengaja nyubit aku keras-keras, Will?” Mei melotot pada suaminya. Membuat Willy pura-pura takut.


“Maaf, gak sengaja,” ucap Willy.


Ia begitu bahagia, bisa melihat istrinya itu kembali galak dan tersenyum.


.


.


.


BERSAMBUNG!


*


Sembari nunggu up, bisa mampir di karya kakak online Neng yang ada di bawah ini ya!


__ADS_1


__ADS_2