PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 89


__ADS_3

Sore harinya, Willy pulang ke rumah Arya dengan wajah cemberut. Di tangannya ada jas dan baju kotor. Ia datang mencari keberadaan Mei.


“Nak, Willy. Kenapa mukanya di tekuk kayak gitu?” tanya Ibu Mei yang melihat Willy masuk ke dalam rumah itu.


“Willy nyariin Mei,” kata Willy sembari berjalan masuk.


“Mei!” teriak Willy.


“Apaan?!” sahut Mei yang ternyata sedang tiduran di sofa yang ada di ruang tengah itu, tampak gadis itu sedang menemani adik kembarnya dan Valencia bermain.


“Cuciin bajuku!”


“Sini!” Mei meminta baju yang ada ada di tangan Willy. “Astaga, kok kotor kayak gini? Warnanya orange pula.”


“Itukan semua karena kamu!” cetus Willy dengan bibir cemberut.


“Loh, kok jadi aku yank?” Mei bangkit dari sofa panjang tempatnya berbaring.


“Ya karena aku kerja buat urus nikahan kita, jadi aku ke tumpahan cat orang,” kata Willy.


“Wes, gak jelas kamu!” Mei membolak balik jas dan kemeja Willy. “Udah kering ini, gak bakal bisa ilang lagi.”


“Ya udah, buang aja!” ujar Willy sembari duduk di sofa samping Mei.


Saat Willy sedang duduk santai dengan wajah cemberutnya. Tiba-tiba saja, Arya yang baru pulang berteriak padanya.

__ADS_1


“Willy! Kenapa bajuku kamu pakai?” teriak Arya membuat semua orang terkejut. Termasuk Zivanya yang sedang menuruni anak tangga.


“Ahh.. Sudah ku duga!” Willy menutup telinganya dengan kedua tangan.


“Will, keterlaluan kamu! Ini baju yang aku curi di butik Zivanya dulu, jauh sebelum dia jadi istriku!” pekik Arya, ia tidak rela baju hasil curiannya itu di pakai oleh orang lain.


“Oh! Jadi kamu ya, beng. Yang suka masuk diem-diem ke butikku terus mencuri kemeja dan juga jas di sana?” Zivanya berdiri di harapan Arya. Membuat Arya menelan ludah dengan susah payah.


“Hehee! Gak banyak, yank. Cuma empat kali,” kata Arya sembari tersenyum canggung. Memang benar, ia kerap datang ke butik Zivanya. Tapi ia tidak benar-benar mencuri, ia selalu bilang pada karyawan Zivanya yang bernama Nita. Ia mengatakan pada Nita, bahwa ia adalah kekasih Zivanya bahkan memang Zivanya yang sudah menyuruhnya untuk mengambil jas dan kemeja di butik itu.


“Aku tau kok,” kata Zivanya. Maka, menganga lebar lah mulut Arya. “Nita sering bilang kalau kamu datang ke butik dan ambil baju. Tapi, aku gak pernah negur kamu. Aku pengen kamu mengakui sendiri dan tanggung jawab kaya gini,” kata Zivanya dengan wajah yang di buat seserius mungkin.


“Kapok, Bang Arya. Ketauan mencuri!” Willy mencoba mengompori.


“Enggak!”


“Terus?”


“Aku mau kamu ganti rugi semua pakaian yang kamu ambil, beserta denda nya!” ujar Zivanya.


“Oh itu, tanpa kamu minta pun. Aku bakal ganti rugi, ganti rugi pakai anak beserta keturunan, berikut semua kekayaan ku. Semuanya aku serahkan sama kamu, bahkan ubur-uburnya juga,” kata Arya dengan tersenyum cerah.


“Niat banget nyuri nya ya,” kata Mei.


“Niatku dulu bukan nyuri pakaian, Mei. Tapi nyuri janda, ehh janda nya galak. Jadi gak berani,” timbal Arya pada Mei.

__ADS_1


“Bang, ubur-ubur yang abang maksud apa?” tanya Willy.


“Alat pencetak anak!” sahut Arya dengan cepat.


“Abeng!” tegur Zivanya. Membuat Arya segera membekap mulutnya sendiri.


Ibu Mei, Bu RT dan istri Pak Tumiran, memilih untuk beberes di dapur. Mereka tidak paham dengan pembicaraan Arya, Zivanya Mei dan Willy. Sedangkan anak-anak sibuk bermain.


“Hehehee! Maaf, yank. Gak sengaja,” kata Arya sembari terkekeh kecil.


“Gak paham aku, Mei. Ubur-ubur, pencetak anak?”


“Ya udah diem aja, aku juga gak ngerti,” kata Mei.


“Lepasin bajuku, Will! Nanti rusak dan kusut. Aku sengaja simpan itu di hotel VALE'S GROUP biar gak ketauan sama yang punya,” kata Arya sembari berjalan ke arah Willy. Ia memaksa Willy untuk membuka kemeja berwarna biru tosca itu. “Gara-gara kamu, semuanya terungkap hari ini!”


.


.


.


BERSAMBUNG!


Jangan pernah bosan yak!

__ADS_1


__ADS_2