
“Abeng, mau kemana?” Zivanya menahan lengan suaminya.
“Mau pulanglah, mau apa lagi? Mual akutuh lama-lama liat dokter itu!” tunjuk Arya.
“Abeng!” Zivanya meninggikan suaranya dan matanya melotot lebar.
“Eh, iya!” Arya duduk kembali ke kursinya.
“Dengerin dulu, biarin dokternya selesai’in penjelasannya,” kata Zivanya. “Tolong maafkan suami saya, dokter. Sudah sebulan ini, dia memang aneh sekali.” Zivanya tersenyum canggung pada Dokter separuh baya itu.
“Tidak apa-apa. Saya mengerti, mungkin bawaan bayi yang Mbak Zivanya kandung,” kata Dokter itu.
“Apa?” pekik Arya terkejut.
“Iya, mungkin emosi yang terjadi naik turun sebulan ini. Terjadi karena kehamilan istri anda!”
“Wah.. Kamu hamil sayang!” Arya segera memeluk tubuh istrinya di depan dokter itu. Setelah itu, Arya melepaskan pelukannya, ia menatap dokter itu dengan intens.
“Istri saya yang hamil, kenapa saya yang mual-mual?” tanya Arya.
“Begini! Ngidam tidak hanya dirasakan oleh ibu hamil, suami yang istrinya sedang hamil bisa saja ikut merasakan ngidam. Bahkan tidak hanya ngidam, suami bisa saja merasakan keluhan-keluhan yang biasanya dirasakan ibu hamil. Hal itu disebut dengan sindrom couvade atau sering disebut kehamilan simpatik!” jelas Dokter itu.
“Seperti yang anda rasakan saat ini.”
“Jadi seperti itu?” Arya menganggukkan kepalanya.
“Tapi, kenapa hal itu bisa terjadi pada saya, dokter?” tanya Arya lagi.
“Pemicu kehamilan simpatik, bisa saja karena anda stres ataupun empati kepada istri anda. Atau bisa juga, anda sudah lama menginginkan istri anda hamil dan selalu anda bayangkan?”
Arya nampak malu, memang benar yang dikatakan dokter itu. Bahwa ia sering membayangkan saat Zivanya hamil, pasti ia akan sangat bahagia.
“Kamu kenapa senyum-senyum kaya gitu, Beng? Ada yang lucu?” Zivanya heran melihat gelagat suaminya yang aneh.
__ADS_1
“Gak apa-apa!” sahut Arya cepat. “Ayo kita pulang, kalo udah tau begini. Aku gak akan pergi lagi dari rumah!” Arya sedikit menarik tangan istrinya itu.
“Nanti dulu, Beng. Tunggu dokternya kasih resep obat dan vitamin buat kita,” kata Zivanya.
“Oh iya, aku lupa!” Arya menepuk jidat nya.
Dokter pun segera menuliskan resep obat dan vitamin untuk Arya dan Zivanya. Setelah itu, Arya dan Zivanya pamit pergi dari rumah sakit itu.
“Terimakasih, dokter. Kami mohon pamit,” kata Zivanya.
“Sama-sama. Kalau ada apa-apa segera hubungi, saya!” ujar Dokter itu sembari tersenyum ramah kepada Arya dan Zivanya.
Arya dan Zivanya pun segera pergi dari rumah sakit itu. Zivanya mengdarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba saja, Arya memintanya berhenti mendadak.
“Sayang, stop!” teriak Arya.
‘Ckitt!’ Zivanya mengerem mendadak.
“Itu, aku mau itu!” tunjuk Arya pada pedagang gorengan yang ada di pinggir jalan.
“Gorengan?” tanya Zivanya dan Arya mengangguk.
“Kamu yakin? Mau makan makanan kaya gitu? Kalau nanti radang gimana? Nanti nyalahin aku lagi!”
“Yakin, kayaknya enak banget.” Arya meneguk ludahnya sendiri.
Zivanya segera menepikan mobilnya dan turun dari mobil itu bersama suaminya yang sangat sensitive sekali.
“Bang, saya mau ini, ini, ini dan ini!” tunjuk Arya pada seluruh macam gorengan yang ada.
Zivanya melongo melihatnya, suaminya sudah seperti orang yang kelaparan karena tiga hari tidak makan.
Di saat tukang penjual gorengan itu membungkus pesanan Arya. Arya sudah lebih dulu memakan gorengan yang ada didalam nampan jualan.
__ADS_1
“Enak banget, yank,” ucap Arya dengan mulut penuh.
“Yank, hati-hati! Nanti setelah anak kita lahir dan besar. Bentuknya macam kamu saat ini!” Zivanya melirik suaminya sembari menujuk ujung kaki sampai ujung rambut suaminya menggunakan jari telunjuknya.
.
.
.
“Kamu kenapa kok lesu gitu?” tanya Mei melalui sambungan video call.
“Mbak Vanya datang kesini, aku disuruh bersihin ruangan kerja Bang Arya,” kata Willy dengan wajah lesunya.
“Kok bisa berantakan banget kaya gitu?” tanya Mei. Ia melihat ruangan kerja Arya, karena Willy mengarahkan kameranya ke seluruh area ruangan itu.
“Bang Arya aneh, udah sebulan ini. Dia banyak banget makan nya, terus yang beli makanan nya harus aku. Kadang aku keliling daerah kantor, Cuma buat beliin dia makanan aneh!”
“Yang sabar, sayang. Kalau kamu gak mau di suruh-suruh, makanya jadi bos. Hahaha!” Mei menertawakan penderitaan kekasihnya itu.
“Sialan! Malah ngeledek, awas ya kamu!” Willy memajukan bibirnya. Membuat Mei semakin gemas.
“Sayang, kalau kamu monyong kaya gitu. Aku jadi inget pas kamu liat tutorial ciuman di Youtube. Hahaha!”
“Jangan ngeledek! Kayak kamu ngerti aja, kan kita satu server sama-sama polos!” Willy menatap Mei dengan tatapan jengkel.
BERSAMBUNG!
.
.
.
__ADS_1