
“Yank, pasangin dong!” Arya mengulurkan dasinya pada Zivanya.
“Manja banget sih, Beng.” Zivanya mengambil alih dasi itu dari tangan Arya.
“Jongkok dikit,” kata Zivanya yang kesulitan memasang kan dasi itu. Tapi, bukannya serius, Arya malah mengerjai istrinya.
Jongkok tegap jongkok tegap, itu lah yang di lakukan oleh Arya.
“Beng, serius dong!” Zivanya mulai kesal dengan tingkah Arya. Ia mengerucutkan bibirnya, membuat Arya menjadi gemas.
Cup.. Arya mencium bibir Zivanya yang cemberut, dengan secepat kilat.
“Aku berubah pikiran, Yank. Aku gak jadi ke kantor, aku mau di kamar aja seharian sama kamu,” ucap Arya membuat mata Zivanya mendelik lebar.
“Gak ada ya! Gak ada kaya gitu, sekarang kamu turun ke lantai bawah. Sarapan terus berangkat!” Zivanya telah selesai memasang kan dasi Arya, dan ia segera mendorong suaminya itu dari hadapannya. Ia tidak ingin, suaminya tidak jadi berangkat ke kantor dan malah mengurung dirinya di kamar hingga menjelang tengah hari.
“Iya-iya.” Arya yang di dorong, mundur perlahan dari hadapan istrinya. “Tunggu dulu bentar, dong!”
“Mau apa lagi, Beng?” tanya Zivanya. Ia kerap kali di buat kesal oleh tingkah tengil suaminya itu.
“Transfer energi dulu, dong. Biar aku kuat dan semangat cari nafkah!” Arya mengedipkan sebelah matanya.
“Gak usah genit,” ucap Arya.
“Aku gak genit, aku cuma minta ini!” Arya menyentuh bibir merah Zivanya dengan jari telunjuknya.
Arya mendekatkan wajahnya pada wajah Zivanya. Ia menyatukan bibirnya dengan bibir merah milik istrinya itu, lalu, ia menciumnya dengan lembut.
Makin lama, ciuman itu menjadi semakin panas. Yang tadinya hanya sekedar ciuman, kini berubah menjadi ******an dan gigitan kecil.
“Eummm!” Zivanya mencoba menghentikan aksi suaminya. Ia pun mendorong tubuh Arya.
“Yank.” Arya menatap Zivanya penuh harap.
__ADS_1
“Gak ada, udah sana keluar!” usir Zivanya.
“Oke aku keluar, tapi nanti malam, ya.” Arya meraih tas nya. Lalu segera keluar dari kamar itu.
Zivanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya itu.
Setelah suaminya itu turun ke lantai bawah, ia pun menyusul. Di meja makan, semua sudah menunggunya.
Ia ikut duduk di kursi yang ada di sebelah Arya. Ia mengoleskan selai stroberi ke roti tawar dan memberikannya pada Arya.
Begitu selanjutnya, roti milik Nino dan juga Valencia.
“Nah, cepat habiskan sarapan kalian!” ujar Zivanya.
“Oiya, Nino pergi kesekolah bersama Daddy, ya. Mommy tidak bisa mengatar. Aunty Mei juga sedang ada urusan penting!” Zivanya meminta Nino berangkat sekolah bersama Arya.
“Yes, nanti Nino bisa pamer pada teman-teman bahwa Nino punya Daddy,” ucap Nino dengan perasaan sumringah.
“Valen boleh ikut, gak?” tanya Valencia. Gadis kecil itu ingin ikut Daddy-nya mengatar Nino kesekolah.
“Yeah!” Valencia menatap Nino dengan tatapan kecewa. Karena tidak di izinkan ikut ke sekolah.
“Valen boleh ikut, tapi langsung ikut Daddy ke perusahaan. Gimana?” tawar Arya. Ia tidak tega melihat Valencia bersedih.
“Emang boleh?” Valen menatap Mommy dan Daddy-nya bergantian.
Zivanya hanya diam, ia tidak angkat bicara. Karena, percuma saja ia tidak mengizinkan, toh tanpa izinnya, Arya tetap akan membawa Valencia pergi bersamanya.
“Boleh, tapi Valen tidak boleh menangis jika Daddy tinggal bekerja,” ucap Arya.
“Horee!” sorak Valencia dengan gembira.
“Sudah, cepat habiskan sarapan kalian. Nanti terlambat!” ujar Zivanya pada Arya, Nino dan Valencia.
Mei tidak ada di rumah itu, ia izin seminggu untuk menjenguk ibunya di kampung halaman.
__ADS_1
.
.
.
Valencia benar-benar di bawa Arya ke perusahaan. Jadi, Zivanya berniat untuk menyusul. Ia sudah membawa bekal untuk makan siang mereka.
Pukul 11 siang, Zivanya menyusul dengan mengendarai sendiri mobilnya. I melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang. Hingga, setengah jam kemudian ia tiba di parkiran gedung perusahaan DIRGANTARA GRUP.
Ia berjalan memasuki lobi, semua mata tertuju padanya. Banyak karyawan wanita yang memandang tak suka padanya, mungkin karena mereka iri. Tapi, berbeda dengan kaum batangan, ehh maksud Author kaum pria. Mereka terpesona melihat kecantikan Zivanya, terlebih lagi saat mereka melihat Zivanya yang membenarkan rambutnya sembari tersenyum ramah pada mereka.
“Siapa sih, tuh cewek? Sok kecantikan banget,” ucap seorang karyawan wanita.
Zivanya menghampiri mereka, dan bertanya.
“Apa, Pak Arya ada?” tanya Zivanya dengan ramah. Tapi, tidak ada satupun dari karyawan wanita itu yang menjawab. Mereka menatap tidak suka pasa Zivanya, terlihat jelas dari pandangan mereka.
“Saya tanya, apa Arya Dirgantara ada?” tanya Zivanya lagi. Mata para karyawan wanita itu mendelik. Pasalnya Zivanya bertanya dengan menekan nama lengkap Arya.
“Mbak Vanya!” panggil Seseorang. Zivanya dan para Karyawan wanita itu menoleh ke arah sumber suara.
BERSAMBUNG!
.
.
.
Hehehee.. Cuma mau ingetin, yang punya vote nganggur. Bisa dong di sumbangin sama Arya dan Zivanya.
Gak maksa loh ya! Cuma yang nganggur aja, wkwkwk
__ADS_1