
Mendengar kata adik, Valencia segera berjalan pelan ke arah Kinanti. Aksi gadis kecil itu pun membuat Kinanti kerasa haru. Bagaimana tidak haru, jika Valencia mendekat dan memeluk perutnya.
“Hmmm.. Valen akan segera mendapatkan dua adik sekaligus,” kata gadis kecil itu. Ia menciumi perut Kinanti.
Seketika, Kinanti menangis terisak. Ia menjadi semakin merasa bersalah dan semakin merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia.
“Kinanti, jangan menangis di hadapannya,” kata Danu. Danu ikut memeluk tubuh Kinanti seperti Valencia.
“Maafkan aku, maafkan aku,” ucap Kinanti.
“Maafkan Mo-mo-mommy ya Valen. Mo-mo-mommy sudah jahat pada Valen selama ini.” Kinanti berbicara pada Valencia. Bibirnya kelu dan kaku saat menyebutkan nama Mommy.
“Valen sudah memaafkan Mommy, kata Mommy Zivanya kita harus bisa memaafkan orang lain. Tidak boleh membenci,” kata Valencia.
Lama mereka berpelukan, hingga akhirnya Danu menuntun Valencia menuju ruang makan bersama Kinanti.
Setelah makan, Danu mengambilkan ice cream yang sudah di beli Valencia. “Sayang, ini ice cream nya!” ujar Danu sembari meletakan bungkusan ice cream cup di hadapan Valencia.
Anak itu membuka bungkusan ice cream nya. Tapi ia tampak berpikir, “Tadi dedek beli tiga, punya Daddy Danu satu dan yang dua punya dedek. Tapi ternyata, di rumah Daddy ada dia.” Batin Valencia sembari menatap ice cream nya dan juga melirik Danu dan Kinanti. Jujur, sebenarnya bibir Valencia juga sangat sulit untuk menyebut Mommy pada Kinanti.
“Ya udah deh, satu-satu aja. Kata Mommy dan Daddy Arya kan, gak boleh serakah. Besok Valen beli aja lagi.” Batin anak itu.
Ia pun mengeluarkan ice cream itu, dan memberikannya satu-satu pada Kinanti dan Danu.
“Ini punya Daddy, yang ini untuk Aunty, ehh Mommy!” ralat Valencia.
“Mana punya Valen?” tanya Danu sembari melirik bungkusan plastik yang ada pada Valencia.
“Ini, satu juga,” kata Valencia. “Tadi harusnya dua, tapi Valen berikan pada Mommy. Takutnya, saat Valen dan Daddy makan ice cream, Mommy Kinanti menangis karena pengen.” Anak itu membuat Kinanti tersenyum dengan celotehannya.
__ADS_1
.
.
.
Beberapa hari kemudian, Willy dan Arya sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampung halaman Mei. Anak-anak dan Zivanya juga ikut.
Saat ini, Arya dan Willy membawa dua mobil. Yang mana, mereka mengendarai sendiri-sendiri. Anak-anak juga akan diminta ikut Mei dan Willy.
“Udah siap semua?” tanya Zivanya pada Willy dan Arya.
“Udah, anak-anak tadi mana?” tanya Arya balik.
“Tuh!” tunjuk Zivanya pada Nino dan Valencia yang sibuk di samping mobil Willy. Tampak, kedua bocah itu sibuk pada tas ransel masing-masing.
“Tunggu dulu,” kata Arya lalu segera keluar kembali dari mobilnya.
“Huek huek..”
“Ya tuhan, Abeng,” Zivanya ikut turun dari mobil. Ia membantu suaminya dengan cara memijat tengkuk suaminya menggunakan minyak kayu putih yang ada di saku pakaiannya.
“Beng, udah mendingan?” tanya Zivanya pada Arya yang sudah berhenti muntah-muntah.
“Udah mendingan,” ucap Arya dengan wajah yang mulai memucat dan sudut mata yang berair.
“Biar aku yang nyetir, nanti siang kalau udah baikan baru kamu.” Zivanya masuk dan menduduki kursi kemudi.
“Siap, Mbak?” tanya Willy. Zivanya tersenyum dan mengagguk pada Willy.
__ADS_1
Kedua mobil itupun melaju dengan cara beriringan. Karena Zivanya takut Willy akan kesal mengikuti mobilnya yang melaju begitu lambat. Akhirnya, Zivanya meminta Willy melaju lebih dulu.
Di dalam mobil Willy. “Mei, bapakmu galak gak?” tanya Willy pada Mei.
“Galak, galak banget. Siap-siap nanti pas sampai di sambut sama golok,” kata Mei. Tampaknya gadis itu mulai kesal dengan Willy yang cerewetnya menjadi di atas rata-rata.
“Seriusan?” Tampak, Willy bergidik ngeri.
“Iya serius,”
Sedangkan di mobil yang di kendarai oleh Zivanya. Tampak Arya sedang bersandar lemas di kursi samping kemudi, yaitu di samping istrinya.
“Mestinya aku yang kayak gini, Beng. Bukan kamu, aku kasian sama kamu yang harus ngerasain semua ini,” kata Zivanya sembari menggenggam jemari Arya dengan sebelah tangannya.
Arya menggeleng pelan, “Ini anugerah sayang. Jadi kita harus nikmatin prosesnya, gak boleh ngeluh,” Arya tersenyum kepada istrinya itu.
“Tapi kan, harusnya aku yang ngidam bukan kamu!”
“Aku ngidam, karena aku begitu mencintai kamu. Aku sayang kamu, jadi tuhan tau kalau aku sangat takut kamu sakit, kamu terluka dan menderita,” ucap Arya. “Kalau bisa, aku juga ingin menikmati dan mengambil alih rasa sakit disaat kamu melahirkan nanti.”
Zivanya begitu bersyukur dan bahagia. Mendapat dua suami yang dua-duanya sangat menyayanginya dan mencintainya. “Terimakssih tuhan, telah menghadirkan pria yang begitu baik untukku.” Batin Zivanya.
.
.
.
BERSAMBUNG!
__ADS_1