
“Sayang..” Arya memeluk bahu istrinya dari belakang. “Mulai sekarang, kamu dan anak-anak gak akan sendirian lagi. Aku bakal selalu jagain kalian,” kata Arya di hadapan Danu dan Kinanti.
Danu hanya bisa menatap dengan tatapan sendu pada Arya dan Zivanya. Ia merasa sangat bersalah karena telah menambah beban wanita itu, dan menorehkan luka dihatinya.
Andai saja ia lebih dulu mengenal Zivanya dari pada ia mengenal Kinanti, mungkin sekarang ia masih bersama Zivanya. Mencintai wanita yang berstatus sebagai janda dengan dua anak. Tapi, semuanya hanya andai-andai saja. Karena ia lebih dulu mengenal Kinanti dan dari perantara Kinanti lah ia mengenal Zivanya, Kinanti meminta dirinya untuk mendekati Zivanya, janda kaya yang miliki butik terkenal di Kota itu.
Entah dari mana Kinanti tahu, bahwa Zivanya seorang janda kaya yang miliki dua anak. Yang pasti, ia lah orang yang telah mendorong Danu agar mau mendekati janda itu. Dan bodohnya Danu, dengan mudahnya tergiur dan terpancing dengan semua kata-kata Kinanti.
“Andai aku gak bodoh, pasti sekarang aku yang ada di samping kamu,” guman Danu. Tapi masih bisa di dengar oleh Arya, Zivanya dan Kinanti.
Nyeri.. Itulah yang di rasakan oleh Kinanti. Meskipun suaminya itu mau berubah, nyatanya perasaannya masih sama. Masih menyimpan rasa pada Zivanya. Tapi, semua itu memang berawal dari dirinya. Orang yang pantas di salahkan itu adalah dirinya sendiri.
“Syukurlah kamu mengakui dan menyadari kebodohanmu, itu artinya aku lebih pintar. Meskipun harus menunggu 7 tahun lebih, akhirnya aku bisa mendapatkan janda ini!” Arya mengusap punggung istrinya itu dengan lembut.
“Terimakasih udah kasih aku kesempatan untuk mengungkapkan cinta dalam diamku sama Zivanya selama ini, kalau bukan karena kamu nyakitin dia. Aku yakin, sampai saat ini aku belum bisa dapatin dia,” kata Arya. Ia begitu bersyukur dengan putusnya hubungan Zivanya dan Danu. Karena putusnya hubungan itulah, ia bisa menjadi semakin dekat. Bahkan ia ingat, saat Zivanya datang ke kantornya dan mencium pipinya untuk yang pertama kali.
“Ayo sayang, biar nanti kirim pengacara aja buat urus kebebasan Danu,” ucap Arya dengan manja.
Zivanya mengangguk, ia segera bangkit dari duduknya dan pamit pada Danu juga Kinanti.
“Dan, Kin, aku pamit ya. Nanti aku kirim orang buat urus semuanya,” kata Zivanya.
__ADS_1
“Makasih ya, mbak. Mbak emang perempuan yang luar biasa, hati mbak begitu lapang untuk memaafkan aku dan Bang Danu, yang udah nyakitin mbak dengan nyata, mengkhianati mbak.” kata Kinanti dengan penuh penyesalan.
“Yang lalu biarlah berlalu, jadikan masa lalu sebagai pembelajaran untuk kedepannya. Semoga, kalian berdua bisa hidup lebih baik dan membenahi diri untuk kedepannya.”
Zivanya berjalan sambil menggandeng lengan suaminya. Mereka selalu bersikap romantis, dan tidak kenal tempat. Hal itu membuat Kinanti merasa iri.
Setelah kepergian Arya dan Zivanya. Kinanti duduk di hadapan suaminya itu.
“Honey, maafin aku ya. Aku terpaksa nemuin Mbak Vanya, aku gak bisa tanpa kamu. Aku gak bisa liat kamu disini, aku bisa jauh dari kamu. Aku dan calon bayi kita butuh kamu,” Kinanti menggapai tangan suaminya. Ia begitu takut, Danu akan marah padanya.
“Aku mohon, jangan marah,” ucap Kinanti. Tapi, Danu hanya diam. Ia menatap wajah istrinya yang begitu kacau.
“Lebih baik kamu pulang, dan istirahat. Nanti setelah kasusku di cabut, aku akan segera pulang ke rumah,” kata Danu.
“Aku mau nemenin kamu di sini, aku mau nunggu kamu!” ujar Kinanti dengan wajah memelas.
“Ini penjara, ini penjara Kinanti! Gak baik buat anak kita, percayalah aku bakal pulang secepatnya. Sekarang kamu pulang, istirahat di rumah. Jaga kandungan kamu. Jangan keras kepala,” kata Danu. Entah kenapa? Danu menjadi kesal setelah tahu, bahwa Kinanti yang meminta Zivanya dan Arya membebaskannya.
“Iya, iya bang. Aku pulang,” kata Kinanti dengan cepat. Ia takut, Danu akan semakin marah.
Kinanti bangkit dari duduknya, melihat Kinanti yang sudah berdiri dan hendak melangkah. Danu ikut berdiri dan menghampirinya.
__ADS_1
Meskipun ia sudah tidak mencintai Kinanti seperti dulu, tapi Danu akan terus mencoba dan memperbaiki semuanya, demi calon anaknya yang ada di dalam kandungan Kinanti. Jadi, ia mendekati Kinanti hanya sekedar untuk mencium kening wanita itu sesaat.
“Pulanglah, tunggu aku,” kata Danu.
Kinanti mengangguk, setelah Danu melepaskan pelukannya. Kinanti segera pergi meninggalkan lapas itu.
“Aku tau, aku tau, Danu. Dihati kamu udah gak ada lagi nama aku, saat ini hati kamu hanya untuk Zivanya. Cuman buat dia, tapi aku akan terus bertahan sampai kamu bisa membuka hati kamu lagi buat aku, aku yakin suatu saat kamu pasti kembali, demi anak kita.” Batin Kinanti.
Jujur, hatinya terasa sakit. Perih dan nyeri itu sudah pasti, pria yang dulunya sangat mencintainya, selalu menuruti keinginannya bahkan selalu perhatian. Kini, mencintai orang lain. Terlebih lagi, orang itu adalah orang yang pernah ia jadikan tangga untuk mencapai dan mendapat suatu kepuasan.
.
.
.
BERSAMBUNG!
Nah kan! Bang Danu nya Neng itu gak jahat loh! Cuma korban. Wkwkwk.
Kabor..! 🏃♀️
__ADS_1