
Pukul 19:27 malam, mobil Arya tiba di depan rumahnya. Zivanya dan Nino turun lebih dulu dari mobil itu. Sedangkan Arya, ia menggendong Valencia yang sudah tertidur.
“Beng, kok ada mobil Willy?” heran Zivanya. Pasalnya, ada mobil Willy yang terparkir di bagasi rumah itu.
“Gak tau, mungkin ada dia di dalam,” kata Arya pura-pura tidak tahu.
Zivanya pun membukakan pintu untuk Arya yang mengendong Valencia. Sedangkan Nino, mengekori di belakang.
“Ehemmm! Pengantin baru, ngebucin terus,” kata Zivanya. Ia sedikit terkejut melihat Willy yang tidur di paha Mei sembari mengusap-usap perut rata Mei. Sepasang anak manusia itu, sedang berada di depan TV yang ada di ruang tengah.
“Eh, mbak udah pulang,” kata Mei. Ia pun mendorong kepala suaminya.
“Kalian kok di sini? Udah lama?” tanya Zivanya.
“Dari jam lima tadi, mbak. Bang Arya maksa aku dan Mei pindah kesini,” ucap Willy.
“Gak ada ya, gak ada aku maksa. Aku tadi bilang, ‘Will, kalau kamu gak keberatan. Kamu ajak Mei pindah ke rumah utama, ya. Biar mbak mu ada temennya jagaian anak-anak.’ Aku tadi bilang gitu loh!” Arya mendekat pada Zivanya.
Mendengar perkataan Arya, membuat Willy kembali kesal. Pria yang ada di hadapannya itu sudah seperti ular yang lidahnya bercabang dua. Pintar membalikan fakta.
“Bener, Will?” tanya Zivanya.
“Iya, mbak!” timbal Willy. Matanya melirik tidak suka pada Arya yang berdiri di samping Zivanya.
Mendengar jawaban Willy, membuat Arya tersenyum puas. Kini, ia tidak perlu repot-repot mencemaskan istrinya mengurus anak-anak, karena sudah ada Mei yang membantu.
.
.
.
Keesokan harinya, Danu yang sudah rapi dengan kemeja biru tosca dan juga span dasar hitam. Ia bersiap untuk pergi ke perusahaan DIRGANTARA GRUP. Ia akan menemui Arya, seperti yang di katakan Arya kemarin malam.
Danu memakai sepatunya di sofa yang ada di ruang tengah. “Yank, ambilkan kunci mobilnya Zivanya yang dia bilang di atas kulkas kemaren,” kata Danu pada Kinanti.
“Iya, tunggu sebentar.” Kinanti berjalan pelan ke arah dapur dengan perut buncitnya. “Bang, kok di dekat kunci mobil ada uangnya!” teriak Kinanti Danu.
__ADS_1
Danu terdiam, ia seperti memikirkan sesuatu. “Oh, mungkin Zivanya sengaja kasih kamu uang belanja. Dia emang gitu dari dulu, makanya aku mudah banget bohongin dia,” kata Danu sembari menggeleng pelan dan tersenyum kecut. Ia mengingat kembali saat di mana dirinya bersikap buruk.
“Ya udah, nanti kamu bisa belanja. Aku berangkat dulu, ya! Kalau ada apa-apa, cepet hubungi aku,” kata Danu.
“Iya,” kata Kinanti.
.
.
.
Hari-hari berlalu, bulan pun telah berganti. Saat ini, kehidupan Danu dan Kinanti sudah jauh lebih baik, itu semua berkat Zivanya dan Arya.
Danu begitu bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan besar di perusahaan Arya. Kini, ia memulai dan menata hidupnya dan Kinanti dari titik bawah. Yaitu 0.
Usia kandungan Kinanti sudah berusia 9 bulan, yang artinya sebentar lagi akan melahirkan. Jika usia kandungan Kinanti 9 bulan, itu artinya kandungan Zivanya sudah memasuki usia 6 bulan.
“Sayang, kamu gak apa-apa?” tanya Danu pada Kinanti yang terlihat meringis.
“Gak apa-apa, bang. Udah sana, kamu berangkat aja ke kantor. Gak enak sana Arya, baru kerja beberapa bulan tapi udah sering minta izin libur,” kata Kinanti.
“Iya, gak apa-apa. Nanti kalau aku kenapa-kenapa, aku bakal hubungin kamu,” kata Kinanti. Dengan perasaan was-was, Danu pun pergi meninggalkan istrinya ke perusahaan Arya.
Di satu sisi, Danu meninggalkan Kinanti bekerja. Di sisi lain, Zivanya yang perutnya sudah membuncit sedang meminta izin untuk pergi ke apartemen Danu. Ia ingin menemani Kinanti yang sudah hamil tua.
“Boleh, ya beng?” bujuk Zivanya.
“Iya, boleh. Jangan ngebut, saat aku pulang dari kantor. Kamu harus udah ada di rumah,” kata Arya pada istrinya itu.
“Siap sayang!” Cup! Zivanya mencium bibir suaminya dengan singkat.
“Sayang, jangan mancing ubur-ubur di pagi hari. Nanti aku gak jadi ke kantor, nih!”
“Hehe! Maaf,” Zivanya terkekeh lalu mundur dari hadapan suaminya itu. “Sana berangkat, aku juga mau ke apartemen Danu!”
Akhirnya, mobil Arya dan Zivanya keluar dari pekarangan rumah itu dan melaju beriringan. Valencia tidak ikut Zivanya ke apartemen Danu, karena ia ikut Mei mengantar Nino kesekolah.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen Danu, Zivanya segera turun dari mobilnya dan mengetuk pintu apartemen itu.
Tok tok tok!
“Kin, kamu di dalem?” panggil Zivanya. Berulang kali Zivanya dan mengetuk pintu itu, tapi tidak ada jawaban. Akhirnya, Zivanya memutar handle pintu itu dan membukanya.
“Kin, kamu di mana?” Zivanya memasuki apartemen itu dan berkeliling di dalam nya.
“Asataga, Kinanti!” pekik Zivanya.
.
.
.
BERSAMBUNG!
Beberapa Chapter menuju puncak yak, Jujur! Neng sedikit kecewa sama reader's. Tapi tenang, aja. Neng gak apa-apa kok😁. Karena Neng juga gak bisa memaksa kalian buat suka dan mau membaca hingga akhir, karena itu semua hak kalian dan kalian bebas memilih🙂
*
Sembari nunggu update, bisa mampir di karya kakak online Neng yang ada di bawah ini, ya!
Penulis: Pipihpermatasari
Judul: IZINKAN AKU PERGI
BLURD:
Suamiku, jika kamu bahagia bersamanya, maka izinkanlah aku pergi. Aku sungguh tidak sanggup bertahan seperti ini terus! Kamu sekarang sudah berubah, tidak seperti dulu lagi.
Kamu sekarang melupakan kewajibanmu memberi nafkah padaku. Jika dirumah, tidak ada lagi surga untukku. Maka izinkanlah aku pergi dari hidupmu agar kamu tidak menanggung dosa dan kelalaianmu!
Akankah Chandra melepaskan Tika saat istrinya meminta pergi dari kehidupan suaminya? Atau justru Chandra mempertahankan Tika dan berubah menjadi suami yang bertanggung jawab?
Atau kah Tika akan memilih bersama hidup dengan Andrew dan menceraikan Chandra?
__ADS_1