
“Janda itu lagi! Masih berani dia balik lagi ke komplek ini?” Ibu yang paling julid itu menujuk Zivanya dengan tidak suka.
“Ehemmm!” Arya berdehem, menghentikan kegaduhan para ibu-ibu itu.
“Kalian dengar, janda yang sering kalian hina ini, adalah pemilik asli dari komplek anggrek!” jelas Arya.
Makin kasak kusuk lah warga yang ada di sana. Semua warga yang berkumpul adalah, warga yang memang menunggak pembayaran sewa. Sedangkan yang tidak menunggak tidak di pinta untuk berkumpul oleh Arya.
“Gak mungkin, kalau dia pemilik komplek ini! Kenapa dia mau tinggal di tempat ini!”
“Saya, memang pemilik komplek ini! Sayalah Zivanya Anastasya janda beranak dua yang selalu kalian sebut sebagai janda penggoda di komplek ini. Mukin, karena pada dasarnya, janda adalah wanita hina dan tidak baik, makanya kalian selalu memandang rendah dan benci terhadap saya,” kata Zivanya. Sejenak ia menjeda perkataannya. “Sebenarnya, saya tidak ingin membuka jati diri saya, tapi karena paksaan dari Arya, calon suami saya. Maka dari itu, saat ini saya hadir di hadapan kalian semua, sebagai Zivanya Anastasya pemilik komplek ini untuk meminta pelunasan tunggakan kalian! Bukan sebagai, Zivanya janda yang ingin selalu kalian hina.”
Setelah Zivanya selesai berbicara panjang lebar, Arya merengkuh tubuhnya. Dan Arya, memerintahkan Willy memperlihatkan berkas dan dokumen kepemilikan lahan komplek itu.
“Wil, perlihatkan pada mereka semua. Agar mereka percaya, dan tidak menghina tunanganku lagi!”
“Baik, Bang!” Willy berusaha mengubah panggilannya pada Arya dengan sebutan Abang seperti Mei.
Willy memperlihatkan berkas dan dokumen kepemilikan lahan komplek itu kepada seluruh warga yang hadir. Setelah melihat itu, ibu-ibu yang selalu menjahati Zivanya, menjadi gemetar ketakutan.
“Jika kalian sudah percaya, segera lunasi tunggakan kalian. Jika tidak, silahkan angkat kaki dari rumah masing-masing!” Arya segera menggandeng Zivanya berjalan memasuki mobil.
“Mbak Zivanya, tunggu!” cegah para ibu-ibu.
__ADS_1
Arya dan Zivanya menghentikan langkah mereka.
“Ada apa?” tanya Zivanya dengan nada dingin.
“Tolong maafkan kami, tolong beri kamu waktu untuk melunasi tunggakan nya!” ujar seorang ibu-ibu.
“Sudah sampai di tahap ini. Maaf, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Semuanya sudah resmi menjadi urusan Arya, calon suami saya. Jadi, silahkan kalian selesaikan pada anak buah kami!”
“Ayo, Beng. Aku lapar,” kata Zivanya dengan manja pada Arya, setelah ia berkata tegas pada ibu-ibu yang menahannya.
Arya pun segera membawa Zivanya pergi dari komplek itu, tugas warga komplek di serahkan sepenuhnya pada Willy dan beberapa anak buah lainnya.
“Ternyata, Mbak Zivanya bukan orang dari kalangan biasa. Dia janda konglomerat,” guman Rendi. “Untung saja, selama ini, ibu gak banyak nyinggung Mbak Zivanya.” Sambungnya.
“Kenapa, Ren?” tanya ibu Rendi yang tiba-tiba berada di belakang Rendi. Di sudut keramaian tempat itu.
“Ibu juga gak nyangka, kalo janda itu yang punya komplek ini!” ujar ibu Rendi.
“Untung aja, ibu gak ikutan para warga buat menggerebek Mbak Zivanya sore kemaren,” kata Rendi. “Kalo ikut, Rendi pastiin, Bang galak itu, gak akan ngelepasin kita.”
“Bang galak siapa?” tanya Ibu Rendi.
“Itu, tunangan Mbak Vanya, Rendu hampir di sembelih karena ketauan ngapelin Mbak Vanya. Upss!” Rendi sadar dan segera menutup mulutnya.
__ADS_1
“Oo.. Kamu kecil-kecil suka ngapelin janda ya! Ayo pulang, masuk kamar terus belajar. Bentar lagi ujian!” ibu Rendi menarik telinga Rendi. Dan mengajak Rendi pulang.
“Auu.. Ampun, Bu. Lagian Cuma 4x Rendi main ke rumah Mbak Vanya!”
.
.
.
“Beng, kita ke warung pecel yuk,” kata Zivanya sambil menempelkan bahunya pada lengan Arya yang sedang menyetir.
“Pecel? Di mana? Enak gak?” tanya Arya.
“Hihihik.. Di pinggir jalan, rasanya pasti enak,” kata Zivanya.
“Tapi, aku gak pengen makan yang lain. Pengennya makan kamu,” ucap Arya sambil mencubit dagu Zivanya dengan tangan kanannya.
“Gak usah berjanda kenapa, Beng?”
“Bercanda sayang, bukan berjanda,” ucap Arya membenarkan perkataan Zivanya.
“Udah tauk!”
__ADS_1
“Aku seriusan nih! Abis makan, kamu harus siap-siap. Sore ini juga, kita harus menikah,” kata Arya. Maka mendelik lah sepasang mata Zivanya.
BERSAMBUNG!