
Dua bulan kemudian, Zivanya dan Arya semakin repot sendiri. Apalagi dengan Zivanya, setelah Mei menikah dan ikut pindah ke rumah Willy yang telah di siapkan Arya. Ia harus antar jemput Nino ke sekolah seorang diri dalam keadaan hamil.
Seperti saat ini, setelah ia mengurus Arya. Ia pergi ke kamar Nino dan Valencia, ia membantu Nino dan Valencia bersiap.
Setelah kedua anaknya itu rapi, ia segera mengajak kedua anaknya itu turun untuk sarapan.
Di meja makan, Arya sudah menunggu mereka semua. “Sayang, aku carikan kamu pembantu dan pengasuh anak-anak, ya.” Arya menatap istrinya yang sedang berjalan ke arahnya sembari menuntun kedua anaknya.
Ia begitu merasa kasihan pada istrinya itu, dalam keadaan hamil. Mengerjakan apa-apa sendirian.
“Aku masih mampu dan kuat, beng,” kata Zivanya sembari mengoleskan selai coklat pada roti. “Lagi pula, bukannya aku seudzon sama orang. Susah cari orang yang jujur kayak Mei. Aku gak bisa cepat percaya sama orang, untuk menitipkan anak-anak!”
“Iya sih, kamu bener juga.” Arya menatap kasian pada istrinya. “Tapi, aku takut kamu dan kandungan kamu kenapa-kenapa, aku gak mau kalian sakit.”
“Aku bisa kok, kamu jangan khawatir. Kalai aku capek, aku bakal istirahat.”
“Kalau kayak gini, mendingan Willy sama Mei aku paksa pindah kesini. Kalau mereka menolak, ku pecat aja si Willy. Terus ku ambil lagi semua yang udah aku kasih ke dia!” batin Arya.
“Hahaha! Bagus kan ideku.”
“Beng, kamu kenapa senyum-senyum kayak gitu?!” tegur Zivanya.
__ADS_1
“Ehh.. Gak apa-apa!” timbal Arya. “Aku berangkat sekarang, ya. Yank! Nanti kesiangan.” Arya pun segera berangkat. Ia ingin segera bertemu Willy dan memaksa Willy pindah rumah.
“Lihatlah, daddy kalian begitu aneh!”
“Iya, Daddy tersenyum jahat seperti sedang merancakan sesuatu,” kata Nino.
“Tapi rencana apa?” tanya Valencia.
“Ya, kakak juga gak tau,” kata Nino kepada adiknya itu.
“Udah, cepat habiskan sarapan kalian. Nanti Nino telah masuk ke sekolah,” kata Zivanya kepada kedua anaknya itu.
Nino dan Valencia segera memakan roti dan meminum susu mereka. Setelah itu, kedua anak itu segera meninggalkan meja makan.
“Nanti, habis antar kakak. Kita mampir beli ice cream, ya. Mom!” pinta Valencia dan Zivanya mengangguk.
“Nanti aja, pas jemput kakak pulang sekolah. Kakak juga kan mau,” kata Nino kepada adiknya itu.
“Ya udah deh, nunggu kakak pulang sekolah aja, Mom,” ucap Valencia kepada Mommy nya.
Zivanya pun segera memasuki mobilnya, setelah memastikan anak-anaknya masuk dan duduk di kursi masing-masing. Barulah wanita hamil itu menghidupkan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan halaman rumah.
__ADS_1
.
.
.
Siang itu, di bawah matahari yang terik. Seorang pria sedang menyusuri jalanan, di tangannya memegang map berwarna biru. Sepertinya, pria itu sedang mencari pekerjaan.
“Cari kerja kemana lagi aku?” pria itu menghembuskan napas dengan kasar. Ia sudah berkeliling melamar pekerjaan, tapi tidak ada satupun perusahaan yang mau menerima pria dengan ijazah SMA seperti dirinya.
Pekerjaan yang di tawarkan oleh pihak perusahaan untuknya hanyalah menjadi seorang OB. “Wah, kerja di sini harus mengandalkan keahlian, mas. Bukan tampang, jadi kalau mas gak mau jadi OB. Mas coba melamar kerja di tempat lain aja!”
Itulah kata yang ia terima dan ia dengar dari kebayakan pihak perusahaan yang ia datangi.
Ia terus menyusuri jalanan dengan berjalan kaki. Sesekali, ia mengusap keringat yang ada di keningnya. Karena merasa lelah, ia pun beristirahat di kursi panjang yang ada di bawah pohon mangga di depan rumah warga.
Saat pria itu sedang beristirahat, tiba-tiba saja sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapannya. Pemilik mobil itu keluar, dan membuat pria itu membulatkan matanya.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG!