PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 45


__ADS_3

“Mbak Vanya!” panggil Seseorang. Zivanya dan para Karyawan wanita itu menoleh ke arah sumber suara.


“Willy! Abeng dan Valencia ada?” Zivanya meninggalkan para karyawan wanita itu, lalu ia menuju tempat di mana Willy sedang berdiri.


“Ada di atas, yuk biar Willy antar!” ujar Willy. Zivanya dan Willy segera menuju di mana ruangan Arya berada. Yaitu, ruang paling atas yang ada di gedung menjulang tinggi itu.


“Dia siapa sih?” tanya salah satu karyawan wanita kepada rekannya. Nampaknya mereka mulai kepo.


“Gak tau, kayaknya deket banget ama Willy. Jangan-jangan dia pacar nya Presdir Arya!” terka karyawan wanita satunya lagi.


“Gak mungkin lah! Presdir Arya itu masih sendiri, selama ini dia gak pernah dekat sama cewek manapun!” tiba-tiba salah satu karyawan wanita yang lain, menyahuti obrolan itu. Dan sepertinya, ia menyukai Arya.


.


.


.


“Mommy!” panggil Valencia pada Zivanya. Gadis kecil yang sedang bermain dengan spidol dan kertas di atas sofa itu. Segera turun dan berlari ke arah Zivanya dan Willy yang baru saja tiba.


Arya mendongakkan wajahnya saat mendengar Valencia memanggil kata Mommy.


“Sayang nya Mommy, nakal gak?” tanya Zivanya pada Valencia. “Terus, suka gak disini?”


“Enggak dong, Valen kan princess baik jadi gak boleh nakal!” ujar Valencia sambil menatap Daddy-nya. “Valen suka dong di sini, kan ada Daddy dan Uncle Willy.”


“Benar, Dadd? Valen gak nakal?”


“Iya, benar. Dia gak nakal, dari tadi dia terus belajar,” kata Arya membenarkan perkataan Valencia. Ia berjalan ke arah Zivanya dan Valencia yang berpelukan. Ia mencium kening Zivanya di hadapan Willy.

__ADS_1


“Untung Willy turun ke bawah, kalo gak, aku gak akan bisa ketemu kamu,” ucap Zivanya sambil mengerucutkan bibirnya.


“Resepsionis dan para karyawan wanita yang ada di bawah, gak mau jawab pertanyaan Mbak Vanya. Mungkin mereka gak suka, karena Mbak Vanya terlihat lebih cantik dari mereka. Jadi, mereka takut tersaingi!” ujar Willy dan langsung di pelototi oleh Arya.


“Kamu gak boleh bilangin istriku cantik! Cukup aku yang memuji dan memujanya!”


Zivanya tersenyum, mendengar protesan suaminya itu. Ia pun melepaskan Valencia dari pelukannya. Dan menuju meja kerja Arya. Ia membuka bekal yang ia bawa, ia pun mengajak Arya, Willy dan putrinya makan bersama.


“Will, pantry nya di mana?” tanya Zivanya.


“Di ujung ruangan ini, Mbak. Mbak mau ngapain?” tanya Willy.


“Gak ngapa-ngapain. Cuma mau ambil alat makan,” jawab Zivanya.


“Suruh OB aja, kamu di sini temani aku dan Valencia!”


Zivanya tidak mendengarkan Arya, ia segera keluar dari ruangan itu dan menuju pantry.


“Mbak, tolong ambilkan saya piring dan sendok nya 3,” pinta Zivanya pada seorang OB. OB itu segera mengambilkannya.


“Kamu siapa? Kenapa dari tadi saya lihat. Kamu berkeliaran di kantor ini?” tanya Karyawan wanita yang tadi ada di lantai bawah.


Zivanya diam saja, sembari menunggu OB mengambilkan piring dan sendok yang ia minta.


“Kamu gak punya mulut ya!” ujar karyawan wanita itu dengan nada yang ketus dan cukup tinggi.


“Willy, kamu pecat karyawan yang sudah berani meneriaki istriku!” tiba-tiba suara Arya membuat Karyawan wanita itu terkejut.


“Abeng!” Zivanya mendekati Arya yang memang sudah tidak jauh darinya.

__ADS_1


“Kenapa? Karyawan di sini udah bikin kamu kesel?” tanya Arya sambil mengusap pipi chuby Zivanya.


“Enggak kok, Beng!”


“Will, urus dia!” ujar Arya pada Willy. Willy pun segera mengangguk patuh.


“Tuan, tolong maafkan saya. Saya tidak tahu jika Nona ini istri anda, karena yang kami tahu, anda masih singgel,” kata karyawan itu dengan tubuh gemetar dan wajah yang berkeringat.


“Lalu, jika dia bukan istri saya? Apa kamu akan memperlakukannya sama seperti ini?” tanya Arya.


“Tidak!” jawab karyawan wanita itu.


“Kerjakan, Will. Tunggu apa lagi!”


“Tolong, tolong maafkan saya, Tuan. Saya janji tidak akan mengulangi lagi!”


Karena Zivanya sudah mendapatkan barang yang ia butuhkan, jadi, Arya segera mengajaknya kembali ke ruangannya.


Di dalam ruangan kerja Arya, Zivanya menyiapkan makanan itu. Ia duduk di lantai dan makan, sembari menyuapi Valencia. Sedangkan Arya dan Willy, duduk dan makan di sofa panjang ruangan itu.


Tidak ada kecanggungan antara Willy dan Arya. Karena, Arya sudah menganggap Willy seperti adiknya sendiri. Seperti Zivanya memperlakukan Mei di rumahnya.


Setelah selesai makan, Valencia meminta izin pada Arya dan Zivanya. Dia pamit, ingin main bersama Willy di taman yang ada di hadapan perusahaan.


“Daddy, Mommy. Boleh tidak, jika Valen mengajak Uncle Willy main di taman yang ada di depan gedung ini tadi?” tanya Valencia dengan hati-hati.


“Tanya dulu pada Uncle, Uncle mau tidak menemani Valen?” Ujar Zivanya.


“Uncle sudah pasti mau! Ayo kita turun!” Willy segera mengangkat tubuh Valencia. Lalu, segera membawa Valencia ke lantai dasar.

__ADS_1


BERSAMBUNG!


Hihihi.. Jangan bosen sama Neng ya! Jadilah seperti Neng yang gak pernah BOSEN sama Abang Danu. Maklum karena Neng pencinta pemeran Antagonis. Wkwkwk


__ADS_2