
Beberapa hari kemudian, Kinanti sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Dengan syarat, ia belum boleh bekerja apapun. Harus istirahat total.
“Hari ini, sudah boleh pulang. Tapi, ibu harus menjaga kesehatan ibu. Jangan dulu melakukan pekerjaan, apalagi pekerjaan berat,” kata dokter itu.
“Kamu denger kan, Kin?” ujar Zivanya yang berdiri di pojok ruangan itu dengan Abimanyu di dalam gendongannya.
“Iya, mbak,” kata Kinanti.
“Kamu juga, Dan. Jagain dia, harus sabar,” kata Zivanya pada Danu yang selalu setia di sisi Kinanti.
Setelah mendengar semua perkataan dokter. Danu segera mengemasi semua barang-barang istrinya.
“Sayang, kamu bantuin Danu bawa barang-barang nya ke mobil dong,” kata Zivanya pada suaminya.
“Oke!” sahut Arya singkat.
Arya pun segera membantu Danu membawa barang-barang yang sudah di susun Danu ke luar rumah sakit.
“Gimana? Udah mendingan?” tanya Zivanya pada Kinanti yang duduk di atas ranjang pasien itu.
“Udah mending, mbak. Cuma kadang kalo aku banyak gerak, masih suka perih,” kata Kinanti.
“Yang sabar, nanti juga bakal kering,” ucap Zivanya. “Dan balik lagi kayak semula!”
“Oiya, mbak. Abimanyu pasti bikin mbak sama Bang Arya begadang terus ya?”
“Enggak kok, dia anteng. Gak rewel, paling dia bangun kalau buang air dan laper,” kata Zivanya.
“Makasih banyak ya, mbak.”
“Kenapa sih? Setiap hari dan setiap selip perkataan, kamu selalu bilang makasih,” kata Zivanya. “Kalau aku minta imbalan dari semua yang udah aku kasih dan lakuin ke kamu, gimana?”
“Aku akan lakukan dan coba berikan, mbak,” kata Kinanti.
Zivanya menatap wajah Kinanti yang tampak begitu serius menanggapinya. “Kalau aku minta Danu kembali kayak mana?” Zivanya membalas tatapan Kinanti dengan tatapan yang sulit di artikan. “Atau gini, aku minta kamu dan Danu tebus semuanya sama anak ini. Gimana menurut kamu?”
Deg! Kinanti terdiam, ia terus mantap wajah Zivanya dan menebus semuanya.
“Kalo mbak inginkan Danu, aku ihklas, mbak. Tapi tolong jangan Abimanyu. Aku gak bisa tanpa dia,” kata Kinanti dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca.
“Kenapa kamu begitu cepat mengikhlaskan Danu pergi?” Zivanya memiringkan kepalanya. Di dalam dekapannya ada Abimanyu yang tertidur lelap.
__ADS_1
“Kalo itu bisa bikin dia bahagia juga, aku akan mencoba untuk ihklas meskipun sulit, mbak.”
“BODOH! Kamu bodoh Kinanti, apapun yang sudah menjadi milik kamu. Harusnya kamu pertahankan, bukan seperti ini caranya!” Zivanya tidak habis pikir dengan apa yang ada di dalam benak Kinanti. Ia pikir, Kinanti akan marah dan mengusirnya. Nyatanya, perempuan itu malah pasrah dan mengikhlaskan suaminya begitu saja.
“Aku cuman mengetes kamu, lagian juga. Aku udah punya Bang Arya yang begitu sempurna dan teramat mencintai dan menyayangi aku dan anak-anakku. Dulu, dua tahun aku bersama Danu. Nyatanya, semua yang aku rasakan bukanlah cinta. Hanya sekedar rasa nyaman karena begitu lamanya aku sendiri, sekarang aku sadar, kalo perasaan aku ke Danu itu hany sebatas rasa sayang seorang adik sama kakaknya. Jadi, aku harap dari sini kedepannya, kamu harus berpikir ulang untuk memberikan dan mengikhlaskan sesuatu!”
“Aku harap, ini terakhir kalinya kamu mengatakan terimakasih dan mengungkit semua yang udah aku dan Bang Arya lakukan buat kalian!”
Kinanti terdiam, kata-kata yang di lontarkan Zivanya begitu menampar. Bukan wajahnya, tapi hatinya.
Arya yang berada disana, tersenyum puas setelah mendengar perkataan istrinya itu. Sedangkan Danu, pria itu tersenyum kecut, ia menjadi semakin sadar akan perasaannya.
“Ehemm! Kalian ngomongin apaan?” tegur Arya yang berpura-pura baru kembali.
“Ehh, abeng. Gak ngomongin apa-apa,” kata Zivanya. “Beng, aku lapar!”
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Danu sembari mendekati istrinya itu. Terlihat, Kinanti menyeka air matanya yang menetes.
“Gak apa-apa, bang. Aku gak menyangka aja, kita udah benar-benar jadi orang tua sekarang,” kata Kinanti.
.
.
.
Kinanti yang melihat isi rumahnya begitu terkejut, pasalnya di dalam apartemen itu berisi banyak peralatan baru yang lebih lengkap. Juga peralatan bayi yang begitu komplit. Semua itu adalah hasil kerja Willy dan Mei beberapa hari yang lalu.
“Ini kalian berdua yang siapkan?” tanya Danu pada Arya dan Zivanya.
“Bukan, itu Willy dan Mei yang urus dan atur,” kata Arya.
Kinanti dan Zivanya berada di dalam kamar. Sedangkan Arya membantu Danu berberes rumah.
“Danu!” panggil Arya pada Danu yang sibuk menyusun isi kulkas.
“Apa?”
“Kata Zivanya, kamu bakal puasa tiga bulan,” kata Arya dengan mulut yang ceplas-ceplos.
“Puasa apa?” tanya Danu yang tidak nyambung. Seperti koneksi Internet yang tidak terhubung.
__ADS_1
“Puasa makan Kinanti,” kata Arya.
“Astaga, aku pikir puasa apaan? Kalo Cuma tiga sampai setengah tahun, aku tahan,” kata Danu dengan enteng.
“Hah?” Arya melongo, rahangnya seakan ingin lepas.
“Aku serius, lah wong selama Kinanti hamil. Mungkin paling banyak cuman 4x aku berhubungan badan, itu aja dia yang mau,” kata Danu dengan jujur dan terang-terangan.
“Luar biasa! Hebat banget,” kata Arya sembari memikirkan jika dirinya yang menjadi Danu.
“Mesum banget pikiran mu, heran aku kok Zivanya bisa betah!” Danu geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd pria yang ada di sampingnya itu.
“Namanya juga cinta, kalau gak cinta gak mungkin mesum. Iya kan?” celetuk Arya.
Wajah Danu seketika berubah merah. Ia menatap wajah Arya dengan tatapan tajam. “Kamu nyindir aku?”
“Kok nyindir kamu? Kapan aku nyindir?” tanya balik Arya.
“Tadi, tadi kamu bilang gak mesum kalau gak cinta. Berati kamu bilangin aku kan?” Danu semakin mendekat ke arah Arya sembari mengayunkan lengannya.
“Sayang! Yank!” teriak Arya sembari berjalan mundur dari hadapan Danu yang terus mendekatinya.
“Zivanya! Kita pulang aja!” teriak Arya.
Buk! Danu memukul perut Arya, membuat Arya semakin menjerit di buatnya.
“Obat, biar gak terlalu mesum. Dan kalo ngomong, sesekali di filter dulu!”
“Sayang, ayo pulang, Danu orangnya arogant!” teriak Arya dengan kencang. Membuat Kinanti dan Zivanya keluar dari kamar.
BERSAMBUNG!
.
.
.
Sembari nunggu update, mampir ke karya kakak online Neng yang ada di bawah ini yak! Di jamin seru!
__ADS_1