
“Aku pengen makan empek-empek,” ucap Arya membuat Zivanya, Willy dan Mei melongo.
Dari mana mereka mendapatkan empek-empek malam hari begini, terlebih lagi ini kampung bukan kota.
“Ya, ampun, Beng. Di mana disini ada jualan empek-empek,” kata Zivanya.
“Mei bikinin ya, Bang!” tawar Mei.
“Gak mau, biar istriku yang bikin,” tolak Arya. Membuat Mei melolot di buatnya.
Zivanya pun menuntun suaminya itu masuk kedalam rumah. Ia mengatar suaminya kedalam kamar.
“Kamu tiduran aja dulu, aku mau bikin empek-empek nya dulu. Nanti kalau udah jadi, aku bangunin. Ya!” saat Zivanya berbalik dan hendak pergi dari kamar itu. Arya mencekal tangannya.
“Apa lagi, Beng?” tanya Zivanya.
“Sini aja, suruh Mei aja yang bikin,” ucap Arya. Membuat Zivanya menarik napas panjang.
“Katanya tadi gak mau kalau Mei yang bikin, gimana sih, beng?”
“Aku berubah pikiran, sayang. Aku maunya Mei yang bikin, kamu temenin aku aja,” kata Arya sembari mengedipkan sebelah matanya.
“Mesum! Gak usah aneh-aneh, disini desa bukan kota ataupun kayak rumah kita yang kedap suara. Di luar masih banyak orang!”
“Ayolah, yank. Pelan-pelan.” Arya bangkit dari dipan ranjang milik Mei yang mereka tempati. Arya memeluk tubuh Zivanya.
Zivanya ingin menolak, tapi ia kasihan pada suaminya itu. Pasalnya, memang sudah hampir seminggu suaminya itu tidak meminta jatah ranjang.
“Hmm.. Ya udah deh, aku keluar sebentar. Bilang sama Mei, suruh bikinin empek-empek nya dulu,” kata Zivanya.
__ADS_1
Zivanya pun keluar dari kamar itu, di ruang tengah semua orang memandang ke arahnya.
“Bagaimana keadaan Nak Arya?” tanya ibu Mei.
“Baik, bu. Dia ingin makan empek-empek,” kata Zivanya. Lalu, ia bertanya. “Mei tadi dimana ya, bu?”
“Di belakang sama Willy kayaknya tadi,”
Zivanya pun segera menuju dapur. Dimana Mei dan Willy sedang duduk berdua di depan tungku api.
“Mei, bikinin empek-empek nya, ya,” kata Zivanya.
“Iya mbak, Bang Arya nya mana?” tanya Mei.
“Di kamar, dia minta pijitin. Jadi mbak harus balik lagi,” kata Zivanya pada Mei.
Mei langsung mengangguk, ia yang di bantu Willy segera membuatkan empek-empek yang di inginkan oleh Arya.
“Niat amat, Beng!” tiba-tiba Zivanya masuk dan menutup pintu kamar itu.
Arya bangkit dan menggendong istrinya, ia merebahkan tubuh Zivanya ke atas dipan dengan pelan.
“Beng, jangan disini. Nanti goyang, di denger sama orang di luar,” kata Zivanya.
“Terus dimana?” Arya sudah tidak tahan. Ia mencium lembut bibir istrinya.
“Di lantai aja,”
“Ya udah, tunggu sini. Aku pasang karpet sebentar.” Arya bangkit dan mengambil karpet yang tergulung di pojok kamar itu. Ia segera membentang nya.
__ADS_1
“Ayo sayang!” Arya menggendong kembali tubuh istrinya. Dan merebahkan tubuh itu di atas karpet yang terbentang di lantai.
“Eummm!” leng*h Zivanya saat Arya bermain di area lehernya.
Kedua anak manusia itu pun berciuman dengan lembut. Bibir mereka saling bertautan, Zivanya membuka mulutnya agar suaminya itu bisa dengan mudah bermain dan mengakses deretan giginya. Mereka berdua saling membelit lidah dan bertukar air liur.
Setelah puas bermain, Arya segera melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh istrinya.
“Aku mulai ya, yank.” Bisik Arya. Zivanya menanggapi dengan menganggukkan kepalanya.
“Ahhh..” des*h Zivanya. Arya segera membekap bibir istrinya, ia takut suara percintaan mereka terdengar hingga ke luar.
Lama mereka bermain, hingga akhirnya mereka berdua sama-sama mencapai puncak. Arya pun segera mengakat tubuh istrinya itu, dan membaringkannya di atas dipan ranjang.
Arya segera membersikan dan membereskan bekas mereka bercinta. Setelah itu. Ia memakai celana pendek dan kaosnya, tak lupa ia juga menyelimuti tubuh istrinya dan membiarkan istrinya yang kelelahan tertidur dengan lelap.
“Bang, Mbak.. Ini empek-empek nya udah jadi,” kata Mei dari depan pintu kamar itu.
Arya membuka pintu kamar itu, dan menyembulkan kepalanya. “Sini!” Arya mengambil mangkok dan piring yang ada di tangan Mei.
“Mbak Vanya nya mana, bang?” tanya Mei. Mata Mei tidak sengaja menatap bagian leher Arya yang terdapat jejak peninggalan Zivanya. Mei yang menyadari tanda apa itu, segera mengalihkan pandangannya.
“Udah tidur!” Arya menutupi pandangan Mei dengan tubuh kekarnya. “Udah sana, nanti dia bangun!” usir Arya. Membuat otak gadis yang sedang traveling itu segera berhenti bekerja.
Mei segera pergi dari kamar itu, ia kembali ke dapur menyusul Willy yang masih duduk di depan tungku api yang ada di dapur itu.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG!