
Zivanya terbangun, kepalanya terasa pusing. Ia begitu terkejut setelah menyadari dimana dirinya sekarang berada.
Ya! Di dalam kamar hotel, ia ingin segera keluar dari ruangan itu. Tapi, tangan dan kaki nya terikat.
“Selamat sore, sayang!” sapa Danu yang baru saja memasuki kamar itu. Danu tersenyum ke arahnya.
“Lepasin aku, Danu. Buat apa kamu menculik aku?” teriak Zivanya. Ia sangat membenci pria yang ada di hadapannya itu.
Danu ikut duduk di lantai, di samping Zivanya yang duduk dengan kaki tangan terikat. Saat ini, Zivanya bersandar di tembok.
“Aku Cuma mau balikan sama kamu, aku baru sadar. Kalau kamu lebih berharga dari uang,” ucap Danu. Ia mencoba berbicara lembut pada Zivanya. Tapi, Zivanya sama sekali tidak ingin meladeni Danu. Ia sangat muak melihat wajah itu.
“Aku gak sudi balikan sama kamu!” Zivanya berbicara ketus. Danu hanya menanggapi dengan senyuman.
“Aku mau liat, sampe kapan kamu mampu bertahan di dalam kamar ini!” ujar Danu. “Aku mencintai kamu, aku menyayangi kamu. Dan kamu harus mau balikan dan jadi istri aku!”
“Jangan mimpi kamu, Danu. Lagian aku juga udah menikah. Aku gak akan balikan sama kamu!”
“Aku gak mimpi, aku juga gak perduli kamu udah menikah atau belum. Pokoknya aku mau kamu,” ucap Danu. Ia mengusap rambut Zivanya dengan lembut dan menciumnya. “Maafin aku ya. Aku janji gak akan ngulangin semua itu lagi, kamu balikan ya, sama aku. Aku bener-bener menyesal.”
“Penyesalan kamu udah terlambat, semuanya udah terlambat Danu!” teriak Zivanya. “Aku bukan terminal, di mana kamu mau mampir, kamu langsung mampir dan di saat kamu mau pergi, kamu tinggal gitu aja.”
“Aku beneran menyesal, sayang. Aku janji, aku gak akan ngulangin semua itu lagi. Aku juga janji, bakal balikin semua harta yang udah aku ambil ke kamu,” ucap Danu. Ia memeluk paksa tubuh Zivanya. Membuat Zivanya berontak.
“Lepasin aku, lepasin aku, Danu!” pekik Zivanya.
__ADS_1
Lama Danu memeluk tubuh Zivanya, setelah itu ia mencium kening Zivanya. Danu bangkit dari lantai itu, lalu berjalan ke arah meja yang ada di dalam kamar hotel itu. Ia mengambil segelas minuman, dan memberikan minuman itu pada Zivanya.
“Kamu pasti haus, kamu minum dulu, ya!” Dengan lembut, Danu berbicara pada Zivanya. Ia meminta Zivanya untuk meminum minuman yang ia berikan.
“Aku gak mau, aku mau pulang!” teriak Zivanya.
“Ayo, minum!” Danu memaksa Zivanya membuka mulutnya. Dan dengan segera, Danu mengarahkan gelas itu. Zivanya berusaha menolak minuman itu, tapi Danu terus memaksa hingga minuman itu masuk sebagian ke tenggorokannya dan sebagian lagi tertumpah.
“Anak pintar!” Danu mengusap kembali kepala Zivanya.
Danu kembali bangkit, ia meletakan kembali gelas itu.
“Sayang, aku pergi dulu, ya! Nanti aku balik lagi,” ucap Danu. “Aku pengen liat reaksi obat itu, dan aku pengen liat gimana kamu memohon untuk naik ke ranjang ini!” Danu menepuk ranjang kamar hotel itu. Ia tersenyum semanis mungkin pada Zivanya.
“Kurang ajar kamu, Danu! Aku pastikan, kamu gak akan mendapatkan yang kamu inginkan! Kamu akan menyesal seumur hidup!” teriak Zivanya dengan kencang. Tapi, percuma saja ia berteriak. Karena kamar hotel itu kedap suara.
Cukup lama Danu keluar dari kamar itu, dan setelah 20 menit kemudian. Dia kembali.
Zivanya masih berada di posisinya semula, tubuhnya berkeringat. Ia mencoba menahan sesuatu yang ada di tubuhnya.
Danu mendekatinya, “Bagaimana sayang? Kalau udah gak tahan, ngomong aja. Dengan senang hati, aku bakal puasin kamu,” bisik Danu di telinga Zivanya.
“Jangan mimpi!” Zivanya menatap Danu dengan tatapan sayu.
Danu kembali berjalan, ia duduk di atas ranjang kamar itu. Ia menunggu Zivanya untuk memintanya memuaskan diri.
__ADS_1
Tapi, sesaat kemudian. Ia di buat terkejut dengan aksi Zivanya.
Duk duk! Zivanya membenturkan kepalanya pada tembok tempatnya bersandar. Bibir Zivanya terus menyebut nama suaminya.
“Arya.. Arya!” Duk duk! Ia kembali membenturkan kepalanya dengan keras.
“Zivanya, apa yang kamu lakukan?” pekik Danu. Ia tidak menyangka, mengapa Zivanya bisa melakukan hal itu.
“Jangan mimpi, jangan mimpi untuk menyentuhku, Danu,” ucap Zivanya dengan lirih. Ia terus membenturkan kepalanya tanpa henti.
“Lebih baik aku mati, lebih baik mati!” tampak lah darah segar yang mengalir dari kepala bagian belakang Zivanya.
Ia kembali menyebut nama Arya, sebelum akhirnya ia hilang kesadaran.
“Arya, Ar-“ Zivanya tak sadarkan diri dengan tubuh yang masih bersandar di tembok itu. Kepalanya terkulai lemas.
“Aku pikir, hanya aku yang gila. Ternyata kamu lebih gila lagi, Zivanya!”
BERSAMBUNG!
Jangan marahin Abang Danu, ya!
Wkwkwk!
.
__ADS_1
.
.