PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 18


__ADS_3

“[Ar, lagi dimana? Sibuk gak?]” Zivanya mengirim chat via whatsapp pada Arya.


Arya yang mendengar notifikasi di ponselnya itu, segera melihatnya. Ia tersenyum, melihat Zivanya yang belakangan ini selalu menempel padanya. Ia berharap, Zivanya segera membuka hati untuknya.


Ia pun membalas chat dari Zivanya. “[Lagi di kantor, kenapa?]”


“[Kesini ya, aku pengen ketemu,]”


“[Ya udah, aku kesana sekarang!]” balas Arya.


Arya pun segera menyerahkan pekerjaannya kepada sekretarisnya, ia segera bergegas menuju ke kediaman Zivanya.


Karena jarak antara perusahaan Arya dan rumah baru Zivanya cukup jauh. Jadi, Arya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai ke rumah Zivanya.


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, akhirnya Arya tiba di kediaman Zivanya. Ia mengetuk pintu rumah itu, tapi, tidak ada jawaban.


Ia pun mencoba memutar gagang pintu rumah itu, ternyata tidak di kunci.


“Vanya, Valen!” panggil Arya.


Hening, tidak ada sahutan. Arya pun memutuskan untuk mencari keberadaan Zivanya.


“Van!” panggilnya.


Arya sudah mencari ke area dapur, tapi tetap tidak menemukan Zivanya. Ia pun berjalan ke arah kamar Zivanya, yang ternyata kamar itu tidak terkunci.


“Va-“ Arya tidak jadi memanggil Zivanya, ia melihat dari balik pintu itu, bahwa Zivanya yang baru selesai mandi sedang berganti pakaian.


Handuk hijau muda yang membungkus sebagian tubuh Zivanya, memperlihatkan paha putihnya hingga ke mata kaki, juga punggung hingga lehernya.


Cukup lama Arya berdiri di balik pintu kamar itu, ia melihat tubuh Zivanya yang sangat menggoda. Tapi kemudian, ia tersadar, ia segera pergi dari balik pintu itu dengan pelan hingga tak menimbulkan suara.


Arya pun memilih kembali ke ruang tengah, ia menidurkan tubuhnya di atas sofa panjang. Dan menutup wajahnya dengan majalah yang ada di atas meja.


Lama, tapi Zivanya tidak keluar juga dari dalam kamarnya. Arya mengeluarkan ponselnya, lalu me miss call nomer Zivanya. Setelah itu, ia mematikannya lalu mengirim pesan.


“[Ngapain sih di dalem kamar? Lama amat keluarnya? Atau mau aku susulin nih!]”


Buru-buru Zivanya menyelesaikan riasan wajahnya setelah ia membaca pesan Arya. Ia segera mencari keberadaan Arya.


Zivanya mendekati sofa tempat Arya berbaring. Ia menatap pada wajah Arya yang di tutupi oleh majalah.


Zivanya tersenyum manis. Lalu, memanggil nama Arya. “Ar! Kamu udah lama nyampeknya?” tanya Zivanya sambil menarik majalah yang menutupi wajah tampan Arya.


“Udah dari tadi, ceroboh banget sih! Mandi, ganti pakaian, pintu gak di kunci!” gerutu Arya. “Anak-anak sama Mei kemana?” tanya Arya kemudian.

__ADS_1


“Ya, maaf. Tadi pas aku mandi, Mei pamit antar Nino sekolah dan Valen pengen ikut katanya.”


“Untung yang masuk, aku kalau orang lain?”


“Jangan marah kaya gitu! Aku gak suka,” ucap Zivanya.


Arya menarik tubuh Zivanya, hingga tubuh Zivanya terjerambab ke atasnya.


“Van!” Arya menatap manik mata Zivanya yang selalu bertatapan sendu itu.


Deg deg deg..! Jantung keduanya berpacu dengan cepat.


Melihat Zivanya yang juga menatapnya. Perlahan Arya menarik wajah Zivanya agar terus mendekat pada wajahnya. Dan kini, wajah keduanya hanya berjarak kisaran lima centi saja. Arya menahan tengkuk Zivanya dengan tangannya. Sedangkan bibirnya, kini telah maju lebih dulu dan menempel pada bibir Zivanya.


Arya mel*mat bibir Zivanya yang berwarna merah muda itu dengan lembut. Yang anehnya, Zivanya tak sedikit pun menolak sentuhan yang di berikan Arya. Mungkin karena efek lama tidak berhubungan intim, atau memang ia memang nyaman bersama Arya.


Lum*tan-lum*tan yang du berikan Arya, kini berubah menjadi gigitan gigitan kecil pada area dagu Zivanya. Tanpa sadar, kini tangan kiri Arya bergerak masuk kedalam dres selutut bertali kecil yang di kenakan oleh Zivanya.


Saat tangan Arya sibuk meraba-raba dua bola milik Zivanya, Zivanya pun tersadar. Ia mendorong pelan wajah Arya yang masih menempel pada lehernya.


“Ar, jangan. Tolong hentikan!” pinta Zivanya.


“Tapi, Van!” Arya mendongakkan wajahnya pada wajah Zivanya yang masih terpejam. Arya segera menarik tangannya lalu membenarkan dres Zivanya yang tersingkap.


Buru-buru Zivanya mengejarnya. “Ar, aku yang minta maaf. Gak seharunya aku seperti tadi, aku gak ada niatan buat menggoda kamu,” ucap Zivanya sembil menundukkan wajahnya di belakang Arya.


“Heii! Kamu gak salah, aku yang salah sudah menyukai kamu yang gak pernah mengharapkan aku, dan aku yang udah salah, karena berfikir ingin menyetubuhi kamu,” tatapan mata Arya menyiratkan kesedihan. Ia sedikit kecewa pada Zivanya yang tidak menolaknya sejak awal ia memulai.


“Kamu menyukai aku? Sejak kapan?” tanya Zivanya yang masih berada di belakang Arya.


“Sejak pertama kali kita bertemu, saat kamu sedang berjualan kue di pinggir jalan di dekat taman indah,” kata Arya. “Jauh sebelum kamu mengenal Valentino, jauh sebelum kalian menjalin hubungan. Tapi aku, aku hanya bisa mencintaimu dalam diam, dalam diam Zivanya. Hatiku terluka melihat kemesraan kalian, tapi aku sadar, Valentino adalah sahabatku orang yang penting dalam hidupku. Aku rela mengalahkan egoku untuk mendapatkan mu demi dirinya, mungkin jika orang lain yang memilikimu, tidak perduli siapapun. Aku sudah merebutnya dan memisahkannya darimu.”


Zivanya yang mendengar semua penjelasan Arya, segera memeluk tubuh Arya dari belakang dengan erat.


“Kamu tau, Van! Siapa yang sering mengirimi kamu bunga, coklat dan juga boneka pada saat itu? Itu aku, bukan Valentino. Tapi, aku selalu diam di saat kamu selalu menyebut nama Valentino atas setiap hadiah yang kamu dapatkan,”


“Bagiku sudah lebih dari cukup dapat melihat kamu dan Valentino tertawa bahagia bersama, meski hatiku yang selalu terluka,”


“Cukup! Ku mohon maafkan aku, maafkan aku yang tidak memiliki naluri ini.” Zivanya menangis di punggung Arya. Ia tidak menyangka, bahwa Arya lah yang sering memberinya hadiah, bukan suaminya.


BERSAMBUNG!


MOHON MAAF, JIKA ALUR SEMAKIN NGALOR NGIDUL.


.

__ADS_1


.


.


SEMBARI NUNGGU UP, BISA MAMPIR DI KARYA KAKAK ONLINE NENG SYANTIK YANG ADA DI BAWAH INI YA!


JUDUL: Beauty Clouds


PENULIS: Ocybasoacy


"Apa rencana kamu Ody? Kenapa kamu bilang akan melapor polisi? Apa nggak ada cara agar masalah ini tidak melebar kemana-mana?" tanya Chandra mewakili Rio.


"Sebenarnya ada cara lain selain melaporkan ke polisi, yaitu dengan dokter Rio mau bertanggung jawab. Namun, nampaknya dokter Rio tidak mau menggunakan cara itu." jawab Ody dengan tersenyum sinis. "Maka pilihan lain, saya akan melapor polisi. Semua bukti sudah saya pegang." imbuh Ody dengan yakin.


"Bukti? Punya bukti apa kamu?" tanya Rio tak kalah sinis.


"Semua bukti ada disini," Ody menunjukan rekaman malam kejadian itu, yang dia dapat dari CCTV, serta menyodorkan map coklat hasil visum.


Rio mengambil alih ponsel dan melihat vidio pelecehan yang ia lakukan pada Ody. Setelah melihat vidio itu, Rio membuka map, dan melihat hasil visum yang Ody telah lakukan, disana terdapat banyak luka yang Rio buat, dan juga keterangan adanya kekerasan seksual yang Rio lakukan pada Ody.


Rio tidak mengira, bahwa Ody sudah menyiapkan semuanya.


"Bukti-bukti itu sudah cukup menguatkan buat membuat laporan ke polisi," jelas Ody.


"Lalu mau kamu apa?" tanya Rio sambil melihat kearah Ody dengan tatapan membunuh.


"Tanggung jawab." jawab ody singkat, padat, dan jelas.


"Kenapa ngotot sekali pengin aku tanggung jawab, apa ada rencana lain yang kamu rancang untuk menjebak aku?" tanya Rio kembali.


"Rencana apa maksud Anda? Apa meminta pertanggung jawaban dari laki-laki yang sudah mengambil kegadisanku harus memerlukan rencana lain?" oceh Ody aneh dengan sikap Rio.


"Mungkin saja, bisa jadi kamu ingin menguasai semua aset yang aku miliki, dengan menikahi aku kamu bisa dengan mudah merubah setatusmu. Banyak bukan diluaran sana yang menginginkan pernikahan dengan laki-laki kaya agar bisa dengan instan menjadi kaya." jawab Rio jutex.


"Sedikit pun saya nggak pernah berpikir seperti itu, tapi kenapa Anda selalu membahas harta. Kalo Anda takut saya akan meminta harta Anda. Maka nikahi saya cukup sebagai tanggung jawab! Masalah kehidupanku biar saya cari nafkah sendiri. Anda tidak usah susah payah memberi nafkah sama saya." jawab Ody dengan geram.


"NIKAH KONTRAK," jawab Rio singkat


semua yang ada di meja pun kaget dengan ucapan Rio.


"Maksud lo apa?" tanya Ody kaget .


"Kalo loe ngotok gue nikahin, maka ayo nikah kontrak. Kalian sebagai saksi bahwa pernikahan yang gue jalanin hanya sebatas kontrak." Jawab Rio dengan santai.


__ADS_1


__ADS_2