PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 71


__ADS_3

Malam itu, Willy datang ke rumah Arya. Ia ingin membicarakan hal penting pada Arya.


Kini, kedua pria itu tengah duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Sedangkan Zivanya dan Mei, berada di dapur. Mei sedang membuatkan kopi untuk Arya dan Willy. Zivanya sendiri sedang sibuk dengan seblak spesial yang di inginkan suaminya itu.


Mei datang ke ruang tengah itu dengan nampan yang berisi dua cangkir kopi, tak lama kemudian Zivanya menyusul dengan semangkuk seblak di tangannya.


“Ini, Beng. Seblak nya,” kata Zivanya sembari duduk di karpet yang ada di bawah suaminya duduk. Arya turun dari sofa itu dan ikut duduk di samping istrinya.


“Akk..” Zivanya menyodorkan sendok yang berisi seblak ke arah mulut suaminya. Arya pun membuka mulutnya dan menerima suapan istrinya itu.


“Emm.. Enak banget, yank!” Ujar Arya sembari mengunyah sosis yang ada di dalam mulutnya.


Willy dan Mei yang duduk bersebelahan saling melempar pandang dan menelan ludah karena melihat Arya yang makan dengan begitu lahap. Mereka berdua menjadi pengen dan tergiur dengan seblak milik Arya.


Tidak terasa, Arya sudah menghabiskan isi mangkuk seblak itu. Ia pun segera meminum segelas air mineral yang sebelumnya sudah di siapkan oleh istrinya.


“Eeeummm.. Anaknya Daddy!” Arya segera merebahkan dirinya di karpet. Kepalanya ia sandarkan di paha istrinya. Tanpa segan pada Willy dan Mei. Arya mengusap-usap dan menciumi perut Zivanya.


“Sehat-sehat ya, sayang. Daddy nungguin kamu,” kata Arya. Ia terus saja menciumi perut rata istrinya itu.


“Yank,” ucap nya dengan manja.

__ADS_1


“Hmm..” jawab Zivanya, tangan Zivanya sibuk mengusap rambut suaminya itu.


“Kalo di USG, udah keliatan belum gender nya?”


“Udah dong, kan jelas gender kamu laki-laki, beng!” sahut Zivanya, ia sengaja membuat suaminya itu kesal.


“Ish.. Bukan genderku! Tapi anak kita,” kata Arya.


“Hahaha! Ya belum lah, beng. Kan baru masuk lima minggu,” jawab Zivanya.


“Bikin iri!” celetuk Willy.


Mendengar itu, Arya segera bangkit. Ia teringat akan perkataan Willy saat baru sampai.


“Masih ingat rupanya, ku pikir lupa karena terlalu sibuk sama alamnya sendiri,” kata Willy dengan wajah yang terlihat kesal.


“Cepetan, kamu mau ngomong apa? Kalau gak penting, aku mau tidur nih!” ujar Arya.


“Eh, iya bang. Aku mau ngomong penting sama Abang dan Mbak Vanya,” ucap Willy dengan cepat.


“Nikahin aku dong, Bang.”

__ADS_1


“Ogah, aku normal dan udah punya istri!” sahut Arya cepat.


“Astaga! Maksudku, tolong nikahin aku sama Mei. Tolongin urus pernikahan, dan sebelum itu tolong aku buat nemuin bapak dan ibunya Mei,” kata Willy dengan wajah yang tampak serius.


“Oh!” Arya hanya ber-Oh ria saja. Setelah itu, ia kembali bersandar pada istrinya.


“Oh aja, Bang. Gak niat mau nanya atau apa gitu?” Willy terlihat sangat frustasi pada Arya yang makin hari makin menjengkelkan.


“Loh! Aku harus gimana? Kalau kalian bener-bener mau nikah, kalian rembukan dulu berdua. Mau nikah dimana? Terus kapan? Setelah jelas, baru kasih tau aku. Kita datang ke tempat orang tua Mei, kita lamar dulu setelah di restui baru kita bopong orang tua Mei kesini!” jelas Arya.


“Karena Mei masih punya orang tua, jadi wajib minta restu. Kalau kayak aku dan Zivanya, mau minta restu ke siapa?”


Zivanya hanya diam, memang benar. Dua kali ia menikah, ia hanya meminta restu pada ibu dan bapak pengurus panti. Bahkan saat ia menikah untuk pertama kalinya, bapak pantilah yang menjadi wali nya.


Begitu juga dengan Arya, pria itu adalah anak yatim piatu yang di urus neneknya sejak ia duduk di bangku SMP. Ayah dan ibunya meninggal karena kecelakaan pesawat yang menyebabkan kematian.


“Rencana kami, kami akan menikah bulan depan, bang. Itu pun kalau tidak terlalu cepat,” kata Willy.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG!


__ADS_2