
Dengan setia, Willy menemani istrinya yang tidak sadarkan diri di ranjang pasien rumah sakit.
“Sayang, bangun dong. Aku pingin denger kamu marah-marah lagi, aku pengen denger kamu ngusir aku lagi,” kata Willy sembari menggenggam jemari istrinya yang terasa begitu dingin.
“Aku mohon, jangan tinggalin aku. Aku gak bisa tanpa kamu, aku sayang kamu Mei. Aku mencintai kamu.” Willy menangis. Ia begitu sedih melihat istrinya yang terbaring lemah di ranjang pasien itu.
“Maafin aku, ya. Mei.. Maafin aku yang udah nampar pipi kamu, maafin aku yang udah marahin kamu. Setelah kamu sehat, kamu bisa balas aku. Kamu hukum aja aku,” kata Willy.
Zivanya ikut menangis terisak, ia begitu sedih dan kasihan melihat Willy.
“Will, sudahlah. Lebih baik kamu berdoa, doakan Mei agar bisa dengan cepat melewati masa kritisnya,” ucap Arya dengan pelan.
“Iya, bang.” Willy bangkit dari duduknya, ia pergi keluar dari ruang rawat Mei. Ia pergi menuju moshola yang ada di area rumah sakit itu. Ia ingin mendoakan istrinya yang sedang terbaring lemah tak sadarkan diri.
Zivanya dan Arya menggantikan Willy menjaga Mei.
“Beng, apa gak sebaiknya kita hubungi kedua orangtua Mei. Aku takut,” kata Zivanya pada suaminya itu.
“Besok aja, yank. Sekarang udah jam dua malam. Nanti, ibu dan bapak Mei terkejut setelah mendengar kabar tentang anak mereka. Kalau mereka panik gimana?”
“Iya juga, ya udah tunggu besok pagi aja,” kata Zivanya. Terlihat, kantung mata Zivanya memucat. Ia kurang istirahat dan kurang tidur, membuat Arya menjadi khawatir.
“Mending kamu tidur,” kata Arya pada istrinya. “Nanti sakit!”
“Aku mau nungguin sampe Mei sadar, beng. Aku mau lihat dia buka mata,” kata Zivanya.
“Kamu harus istirahat, sayang kasian bayi yang ada di kandungan kamu.” Arya mengusap rambut istrinya. Ia pun menarik kepala itu agar berbaring di pahanya. “Nanti, kalau Mei siuman. Aku bakal bangunin kamu!”
Akhirnya, Zivanya menuruti perkataan suaminya. Ia pun mencoba untuk memejamkan mata. “Ya tuhan, tolong sembuhkan Mei. Angkatlah segala penyakitnya.” Batin Zivanya.
Keesokan paginya, keadaan Mei masih sama. Ia belum sadarkan diri.
“Dokter, kenapa istri saya belum juga sadar?” tanya Willy kepada dokter dan perawat yang sedang memeriksa keadaan istrinya.
“Sabar, mungkin sebentar lagi istri anda akan sadar,” kata dokter itu.
__ADS_1
Setelah memeriksa kondisi Mei, dokter meminta Willy mengikutinya kedalam ruangan dokter itu.
“Bisa ikut saya? Ada yang ingin saya bicarakan,” kata dokter itu. Willy mengangguk, ia pun mengikuti langkah dokter. Begitu juga dengan Arya, ia tidak membiarkan Willy pergi seorang diri.
“Ada apa dokter?” tanya Willy yang sudah duduk di kursi yang ada di depan meja kerja dokter itu.
“Begini, pak. Tumor ganas yang ada di rahim istri anda sudah menyebar. Jadi, kami pihak rumah sakit menyarankan agar pihak keluarga segera memberikan konfirmasi kepada pihak kami untuk melakukan tindakan operasi,” kata dokter itu. “Tumor itu harus segera di singkirkan, tidak hanya tumornya tapi juga kami harus mengangkat rahim istri anda!”
Deg! Detak jantung Willy seakan berhenti berdetak. Pemuda itu memegangi dadanya.
“Jika rahim istri saya di angkat, itu artinya kami tidak akan bisa memiliki anak?” tanya Willy. Dokter itu menganggukkan kepala.
“Ya tuhan,” guman Arya yang berada di belakang Willy.
“Lakukan yang terbaik dokter, asal istri saya bisa sembuh. Masalah anak, bisa di pikirkan nanti.”
.
.
.
“Willy..” panggil Mei dengan sangat lemah.
“Ini mbak, kamu tunggu sebentar. Mbak panggil Willy dan dokter,” kata Zivanya. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan itu.
“Beng,Willy, Dokter! Mei udah sadar!” teriak Zivanya. Ia memanggil suaminya, Willy dan juga Dokter.
“Dokter!” panggil Zivanya lagi.
Dokter, Arya dan Willy yang mendengar teriakan Zivanya. Segera keluar dari ruangan itu.
“Ada apa, sayang?” tanya Arya pada Zivanya.
“Mei, dia udah sadar, Beng. Dia nyariin Willy!”
__ADS_1
Dengan perasaan senang, Willy segera berlari lebih dulu memasuki ruangan rawat istrinya.
“Sayang, kamu udah sadar,” ucap Willy dengan pelan. “Aku seneng banget, kenapa kamu gak bilang kalau kamu sakit?” Willy menggenggam dan mencium tangan istrinya yang terdapat jarum infus.
“Willy..” lirih Mei dengan wajahnya yang begitu pucat.
“Kenapa? Kamu mau apa? Ini aku, aku ada disini,” kata Willy.
“Will, maafin aku, ya. Aku gak jujur selama ini, sekarang semuanya makin buruk dan aku cuman bisa jadi beban buat kamu,” lagi-lagi Mei berbicara begitu lirih. Crystal bening tampak keluar dari sudut matanya.
“Jangan ucapkan itu, Mei. Aku yang minta maaf karena udah jadi suami yang gak peka sama penderitaan istri sendiri.
.
.
.
Sembari nunggu update, yuk mampir ke karya kakak online Neng syantik yang ada di bawah ini!
Author: El putri
Judul: ANTARA 2 BILLIONAIRE
Haruskah bertahan dengan cinta yang tidak memandangnya atau haruskah Airin berubah haluan?
Ia sangat mencintai kekasihnya namun suatu kecelakaan membuat Arsen sang kekasih harus mengalami hilang ingatan.
Arsen yang hilang ingatan malah tertarik dan jatuh cinta pada wanita lain.
Saat Airin terluka akan sikap Arsen, Aaron yang merupakan cinta lama Airin datang kembali menjadi sandaran Airin.
Apakah Airin bertahan menunggu sang kekasih atau berpaling pada Aaron yang selalu ada buatnya?
__ADS_1