
“Lepaskan istri saya!” Arya tiba, ia melihat istrinya sedang di tarik paksa oleh seseorang. Membuat ia menjadi murka.
“Istri? Jadi kamu pria yang mampu menyentuh Zivanya!”
“Lepaskan istri saya, atau saya akan melakukan kekerasan sekarang juga!” ancam Arya.
“Kamu mau berkelahi? Ayo!” Danu melepaskan tangan Zivanya, lalu beralih menantang Arya.
“Beng..” Zivanya berlari dan memeluk Arya dengan erat.
“Kamu gak papa, mana yang sakit?” Arya mencium kening Zivanya dan di saksikan banyak orang. Termasuk Danu sendiri.
“Ini, Beng. Dia narik-narik aku,” ucap Zivanya dengan manja. “Dia juga bilang, aku perempuan liar yang manjat ranjang kamu. Emang salah, kalau manjat ranjang suami sendiri,” Zivanya menatap Danu dan tersenyum sinis ke arahnya.
Sedangkan Danu, ia begitu tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Zivanya. Suami! Benarkah?
Tampak Arya begitu khawatir melihat pergelangan tangan Zivanya yang memerah. Ia mengusap pergelangan tangan itu dan meniup serta menciumnya berulang-ulang.
“Beng, kita pulang aja. Aku gak jadi belanja, aku gak mau liat dia!” dengan suara manja, Zivanya menunjuk Danu yang berdiri di hadapan mereka.
“Ya, sayang. Kita pulang sekarang, biar nanti suruh Mei yang belanja,” ucap Arya tak kalah lembut dari suara Zivanya.
“Urusan kita belum selesai! Setelah ini, saya akan membuat perhitungan dengan kamu yang selalu mengusik istriku, Zivanya!” Arya menujuk serta menatap Danu dengan tatapan tajam. Setelah itu, ia membawa Zivanya keluar dari supermarket itu.
“Sial! Aku pasti akan dapatkan kamu, gak perduli apapun caranya!” umpat Danu. Ia memukul tembok yang ada di hadapannya. Hingga membuat tangannya lecet dan berdarah.
Danu pergi dari supermarket itu, tidak perduli dengan orang di sekitar yang menatapnya dengan tatapan heran. Orang-orang yang mendengar perkataan Zivanya dan Arya, tentu menganggap kalau Danu adalah PEBINOR “perebut bini orang”.
__ADS_1
.
.
.
“Loh! Mbak udah pulang, kok sama Bang Arya? Belanjaannya mana?” cecar Mei pada Zivanya dan Arya yang baru turun dari mobil.
“Gak jadi belanja, dia di gangguin sama Danu. Untung aku cepet datang,” kata Arya sambil menggandeng Zivanya masuk ke dalam rumah.
“Cowok itu, gak punya malu banget!” ujar Mei.
Arya segera membawa Zivanya menuju kamar. Setibanya di kamar, “Sekarang aku minta kompensasi!” ujar Arya.
“Kompensasi apa, Beng?”
“Kompensasi karena udah nolongin perempuan yang pura-pura lemah!” Arya melepas jasnya, dan melempar jas itu ke pojokan kamar.
“Mesum sama istri sendiri, lagian salah kamu. Kamu yang udah bikin si jhon bangun,” ucap Arya sembari tersenyum mesum ke arah Zivanya.
“Beng, aku gak mau! Lagian ini siang loh!” Zivanya mencoba menghindar saat Arya hendak menangkapnya.
Arya tidak peduli, ia terus mengejar Zivanya, hingga akhirnya ia berhasil menangkap Zivanya lalu menghempaskan nya ke atas ranjang.
“Hahaha! Ampun, Beng.” Zivanya tertawa rendah saat Arya berhasil menangkapnya.
“Sekarang kamu harus tanggung jawab, atau aku laporin karena melanggar pasal X ayat X. Tentang mengbangunkan barang yang mati! Hahaha!” ujar Arya lalu ia tertawa lepas.
__ADS_1
“Ihh, emang ada. Kamu udah kayak pem*rkosa yang ada di film semi tauk gak!”
“Perk*sa istri sendiri, emang gak boleh?”
“Ya, deh aku kalah,” ucap Zivanya sembari memonyongkan bibirnya.
Arya melepas dasinya dan kemejanya. Kini, pria itu bertelanjang d*da. Ia menciumi wajah Zivanya dengan lembut, membuat bulu-bulu halus Zivanya meremamg. Tangannya sibuk pada kancing kemeja yang di kenakan oleh Zivanya, sedangkan bibirnya masih berpagutan pada bibir sang istri.
“Bang, Mbak, Mei pinjem mobilnya. Mau belanja sama Valen, sekalian jemput Nino di sekolah!” pamit Mei sambil mendorong pintu yang sedikit terbuka itu.
“Astaga, mataku!” pekik Mei. Membuat Arya dan Zivanya terkejut.
Sontak, Mei membalikan tubuhnya. Ia tidak mau matanya ternoda oleh kedua orang itu.
“Huaa, Mbak, Bang! Bisa gak kalo main begituan, pintunya di tutup atau di kunci sekalian. Mei pikir, tadi Bang Arya ngobatin tangan Mbak Vanya, makanya pintunya di biarkan terbuka!” gerutu Mei.
Brak!
“Maaf, Mei. Sana kamu pergi!” usir Arya sembari berlari kecil dan menutup pintu kamar itu dengan keras.
Untung saja, Arya hanya bertelanjang d*da. Jika tidak, sudah di pastikan. Mei akan melihat bagian bawah tubuhnya.
“Tuh kan, Beng. Kamu selalu aja ceroboh!”
BERSAMBUNG!
.
__ADS_1
.
.