
Sudah dua hari, Zivanya berada di rumah sakit itu. Ia terlihat jenuh dsn bosan.
“Beng, aku pengen pulang,” rengek Zivanya pada suaminya.
“Sabar, tunggu keadaan kamu pulih. Mungkin dua hari lagi udah boleh pulang!” ujar Arya. Ia memeluk tubuh istrinya itu.
“Aku bosan, Beng. Aku rindu anak-anak,” kata Zivanya.
“Aku tau, tapi kamu harus sabar. Tunggu luka di kepala kamu itu mengering,” ucap Arya dengan lembut. Ia mengusap bibir istrinya yang pucat dengan jari telunjuknya.
Ia mencium bibir itu dengan lembut, Zivanya menahan tubuh suaminya itu agar tidak menindih tubuhnya. Ia tahu betul apa yang ingin di lakukan suami mesumnya itu.
“Ini rumah sakit, kalo gak ayo kita pulang aja,” kata Zivanya pelan sambil mendorong menyingkirkan tangan suaminya yang sudah mulai meraba-raba punggungnya itu.
“Selamat pagi, Mbak Zivanya dan Suami!” seorang perawat mengagetkan Arya. Arya segera menggeser duduknya di samping istrinya itu.
“Selamat pagi, suster!” balas Zivanya. Sedangkan Arya, kini pria itu terlihat dongkol sekali.
“Kita ganti perbannya dulu, ya. Nanti sore atau besok pagi. Mbak Hanya sudah boleh pulang!” ujar perawat itu. Membuat Zivanya begitu senang dan bahagia.
“Ah, benarkah dokter?” tanya Zivanya untuk memastikan.
“Iya, benar. Karena luka yang ada di kepala Mbak Zivanya, sudah mulai mengering. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.”
“Beng, kamu dengar? Aku udah boleh pulang, yang artinya aku bisa ketemu sama anak-anak.”
“Ya, sayang!” Arya tersenyum. Ia bahagia melihat Zivanya bisa tertawa seperti itu.
Siang harinya, Arya mengemasi semua barang-barang milik Zivanya yang digunakan selama berada di rumah sakit. Ia akan membawa Zivanya pulang pada sore harinya.
__ADS_1
“Masih ada yang ketinggalan kah, Beng?” tanya Zivanya pada Arya yang seperti memikirkan sesuatu.
“Ada,” jawab Arya singkat.
“Apa, Beng?”
“Jejak kita, aku gak bisa mengemasnya,” kata Arya sambil tertawa. Membuat Zivanya melotot kearahnya.
.
.
.
Sore itu, Arya dan Zivanya sudah tiba di depan pekarangan rumah mereka. Saat Zivanya keluar dari mobil. Sosok yang pertama kali ia lihat adalah kedua anaknya.
Nino dan Valencia berlari dari dalam rumah itu, untuk menghampiri dirinya dan Arya.
“Gimana? Anak-anak Mommy, nakal gak pas Mommy gak ada?” tanya Zivanya.
“Enggak, dong. Valen dan kakak terus berdoa, supaya Mommy cepat sembuh dan pulang,” kata Valencia. Anak itu tampak bahagia sekali dengan kepulangan Mommy dan Daddy-nya itu.
“Sayang, mana Aunty Mei? Kok gak keluar?” Zivanya celingak-celinguk, ia mencari keberadaan Mei. Biasanya, jika ia pulang dari mana-mana, Mei pasti akan segera datang menghampirinya.
“Ada di dalam, Aunty Mei lagi berantem sama Uncle Willy. Mereka berdua seperti anak kecil. Hihihiik!” Nino memberi tahu Mommy dan Daddy-nya, dengan apa yang di lakukan oleh Mei dan Willy. Bocah laki-laki itu tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya.
“Iya, Mom, Dadd. Semalam saja, Aunty Mei tidak memberi Uncle Willy makan,” kata Valencia.
Di dalam rumah itu, tampak Willy sedang tertawa terbahak-bahak di depan pintu kamar mandi yang ada di area dapur.
__ADS_1
Pasalnya, ia berhasil mengerjai Mei. “Hahaha! Emang enak, rasain tuh perempuan siluman!” teriak Willy dari depan pintu kamar mandi itu.
“Batu, buka pintunya! Jangan dikunci, awas kamu, ya!” teriak Mei dari dalam kamar mandi itu tak kalah lantang.
“Willy!” tegur Arya yang berdiri di belakangnya bersama Zivanya. Juga Nino dan Valencia yang sedang menahan tawa mereka.
“Ahh, iya bang!” Spontan Willy berbalik sembari melepaskan gagang pintu kamar mandi yang ia genggam.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Arya, pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi antara Mei dan Willy.
“Enggak ada, aku gak ngelakuin apa-apa,” kata Willy sembari menggelengkan kepalanya.
“Setan! Rasakan ini!” Mei keluar dari dalam kamar mandi dengan seember air tangannya. Lalu menyiramkan air itu.
Dan, Byurr! Air itu mengenai Arya dan Zivanya yang ada di depan pintu. Sedangkan Willy, pria itu sudah menyingkir lebih dulu.
“Bwahahahaa! Mampus kau!” Mei tertawa terbahak, tapi hanya sesaat. Karena setelah itu, ia melihat Arya dan Zivanya menatap tajam kearahnya.
Seketika Mei di buat menciut lalu menundukkan Kepalanya.
“Bwahahaha!” tawa Willy pecah, ia merasa geli melihat expresi Mei yang berubah begitu cepat. Ia tidak sadar dengan dirinya sendiri, yang juga ketakutan saat melihat Arya dan Zivanya yang baru datang dan menegurnya.
“Apa yang kalian berdua lakukan? Apa kalian tidak lihat ada kami?” Arya menatap tajam pada Mei dan Willy.
BERSAMBUNG!
.
.
__ADS_1
.