
Keesokan paginya, Zivanya terbangun. Ia memegangi kepalanya yang terasa berat. “Danu.. Danu..” Zivanya menyebut nama Danu dengan lirih.
Arya yang merasakan ada pergerakan, segera terbangun dari tidurnya. Ia mendengar istrinya yang menyebut-nyebut nama Danu.
“Sayang, kamu udah sadar?” tanya Arya dengan perasaan lega.
“Beng, dimana Danu?” tanya Zivanya dengan lemah.
“Danu! Jadi Danu yang udah bikin kamu kayak gini?”
“Semalam dia ada di sini, Beng. Aku denger dia menangis dan minta maaf sama aku, tapi aku gak bisa buka mata aku, Beng!”
“Dia gak ada disini. Aku nyampek disini semalam pukul setengah tiga dini hari, dan gak ada siapa-siapa disini!” ujar Arya.
“Ada, Beng. Dia disini semalam,” ucap Zivanya. Ia ingat betul, saat ia tidak sadarkan diri. Danu terus berbicara padanya, tapi ia tidak dapat menjawab dan membalas setiap ucapan Danu.
“Dari mana kamu tau, kalo aku di tempat ini, Beng?” tanya Zivanya pada suaminya itu.
“Ada yang kirim pesan sama aku, dia bilang kamu ada di rumah sakit ini!” Arya mengeluarkan ponselnya. Dan memperlihatkan pesan singkat itu pada Istrinya.
“Ini nomer Danu, Beng!” tunjuk Zivanya dengan lemah.
“Jadi benar dia penyebab dan pelaku semua ini?” geram Arya. “Aku akan beri dia pelajaran!”
“Beng, aku lapar,” ucap Zivanya. Memang benar, ia tidak makan apapun sejak kemarin siang.
__ADS_1
“Kamu tunggu sini, aku carikan makanan dulu!” Arya mencium kening istrinya, lalu segera keluar dari ruangan rawat itu.
Sebelum pergi ke kantin rumah sakit, ia menghampiri Willy dan meminta Willy untuk pulang ke rumahnya, untuk memberi tahu pada Mei dan anak-anak. Agar mereka tidak cemas dan khawatir.
Setelah itu, Arya segera menuju kantin. Ia membelikan makanan kesukaan Zivanya. Meski Zivanya sakit, tapi ia masih di perbolehkan memakan makanan biasa. Karena yang cendera kepalanya, bukan ususnya.
Saat Arya sedang menyuapi istrinya itu makan, tiba-tiba seorang perawat datang. Di tangan perawat itu, membawa map berwarna abu-abu, di dalam map itu adalah berkas-berkas yang dititipkan Danu semalam.
“Nyonya sudah bangun,” ucap perawat itu. Zivanya mengangguk. “Ini ada titipan dari orang yang membawa dan menemani Mbak semalam!” perawat itu, memberikan map yang ada di tangannya kepada Zivanya.
“Terimakasih!” Zivanya menerima map itu. Ia pun membukanya di hadapan Arya. Mereka berdua membaca berkas-berkas itu.
“Dia mengembalikan semuanya?” Arya tidak percaya dengan apa yang ia baca. “Lalu, kemana dia sekarang? Apakah dia kabur?”
“Bang, kamu simpan semua ini, ya!” Zivanya memberikan berkas-berkas itu pada suaminya.
“Apa aku hanya mimpi? Tapi semuanya tampak nyata.” Batin Zivanya.
.
.
.
“Saya Danu Sebastian, sudah melakukan percobaan pembunuhan terhadap Zivanya Anatasya!”
__ADS_1
“Atas motif apa, Anda melakukan hal itu?” tanya kepala polisi pada Danu yang duduk di hadapannya.
“Karena saya terbakar api cemburu, dia mantan tunangan saya. Dan kini, dia sudah menikah. Saya tidak terima dengan pernikahannya. Jadi, saya membuat rencana untuk menculiknya!” jelas Danu lagi.
Tampaknya, pria itu sudah siap dengan semua konsekuensi yang akan ia dapatkan. Ia datang ketempat itu, dengan keputusan yang sudah matang. Ia sudah siap mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang telah ia lakukan.
“Lalu, mengapa anda tidak kabur? Dan malah menyerahkan diri?”
“Saya sadar, bahwa yang saya lakukan adalah kesalahan. Dengan menyerahkan diri seperti ini, mungkin bisa mengurangi dan menebus kesalahan yang sudah pernah saya lakukan. Saya ingin membenahi diri!”
“Sudah cukup! Anda resmi kami tahan!” kepala polisi itu, memerintah dua bawahannya membawa Danu kedalam sel tahanan.
Danu tersenyum, mungkin dengan begini. Keadaan akan lebih baik, baik untuknya dan juga Zivanya. Tapi, ia lupa bahwa ada Kinanti di luar sana yang sedang mengandung darah dagingnya.
“Mungkin dengan begini, aku bisa menebus semua dosaku dan juga memperbaiki diri.” Batin Danu. Pria itu duduk di pojokkan ruangan tahanan itu.
BERSAMBUNG!
.
.
.
Jangan lupa, tinggalkan jejak
__ADS_1
! 🙏