PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 85


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Semua warga desa yang melihat Zivanya di gendong oleh Arya, merasa heran. Mereka pikir, apakah Zivanya habis terjatuh atau bagaimana? Sehingga ada warga yang memberanikan diri pada Mei untuk bertanya.


“Mei, itu majikan kamu kenapa? Sakit atau habis jatuh?” tanya seorang ibu-ibu warga desa.


“Enggak apa-apa, bu. Mereka emang seperti itu, bucin,” kata Mei kepada ibu-ibu itu.


“Apaan bucin?” tanya ibu itu yang tidak mengerti istilah bucin.


“Itu, bu. Budak cinta, romantis gak kenal tempat. Sayang-sayangan di mana aja,” kata Mei. Sedangkan Willy yang ada di samping Mei, hanya menatap ke sembarang arah dengan kedongkolan hati yang begitu besar.


“Oh begitu, ya sudah. Ibu kira mah dari jatuh,” ucap ibu itu. “Kalo gitu, Ibu permisi dulu. Mau ambil air di sungai.”


“Iya, bu. Silahkan!” Mei dan Willy, segera melanjutkan perjalanan mereka.


Saat ini, Arya dan Zivanya sudah sampai di rumah Mei. Arya benar-benar menggendong Zivanya hingga rumah, keringat bercucuran dari dari tubuhnya. Membuat Zivanya merasa kasihan. Karena merasa gerah, Arya pun membuka kemejanya di amben yang ada di depan rumah Mei itu. Membuat Zivanya mengerucutkan bibirnya.


“Abeng, kenapa di buka di sini?!” protes Zivanya.


“Panas, yank,” kata Arya.


“Tapi kan bisa di buka di dalem, aku gak mau cewek-cewek liatin dada kamu!” cetus Zivanya.


“Hehee! Kamu cemburu sama cewek-cewek desa, yank,” kekeh Arya. Membuat Zivanya semakin mengerucutkan bibirnya.


“Lihat tuh! Cewek yang ada di situ, liat kamu tanpa berkedip.” Zivanya melirik seorang gadis yang berdiri di teras rumahnya sembari menatap ke arah Arya yang tidak mengenakan baju.


Grep! Zivanya memeluk dada suaminya, bukan niat memeluk, tapi lebih berniat untuk menutupi dada kekar suaminya itu. Tidak ada seorangpun yang boleh melihat apa lagi menyentuhnya selain dirinya sendiri. Begitu yang ada di pikiran Zivanya.


“Sayang, jangan mancing ubur-ubur yang lagi tidur,” bisik Arya. “Ini masih siang, loh!”


“Gak perduli, yang penting ini nya gak di liat sama cewek itu!”


“Bang, Mbak Vanya kenapa?” tanya Mei yang baru saja sampai bersama Willy. Ia melihat Zivanya yang menyembunyikan wajahnya di dada Arya. Jadi, Mei memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


“Enggak apa-apa. Lagi pengen kaya gini katanya,” bohong Arya.


“Sayang, yuk kita pindah. Makin banyak orang disini,” bisik Arya pada Zivanya yang terus menyembunyikan wajahnya di dada Arya.


Tanpa aba-aba, Arya segera turun dari amben itu dan menggendong istrinya. Membuat Willy semakin jengah.


“Sayang, kamu iri?” ledek Mei pada tunangannya itu.


“Enggak lah, bukan iri tapi kesal!” cetus Willy. Tanpa aba-aba juga, ia menggendong tubuh Mei dan membawa Mei masuk kedalam rumah.


“Ya ampun mataku, coba aja salah satu cowok itu pacarku,” kata gadis yang sejak awal melihat Arya datang, dan sengaja melihat dari teras rumahnya dengan memegang gagang sapu di tangannya. Setelah Arya dan Willy masuk kedalam rumah, gadis itu pun ikut masuk kedalam rumahnya sendiri.


.


.


.


Tanpa malu dan sungkan pada semua orang, Arya yang hanya menggunakan kaos oblong dan celananya pagi tadi, tidur dengan beralaskan paha istrinya.


“Mei, bisa belikan aku makanan yang tadi enggak?” tiba-tiba Arya bertanya pada Mei.


“Makanan yang mana, beng?” tanya Istrinya sembari mengusap rambut suaminya itu.


“Yang waktu kita mau ke sungai tadi,” kata Arya. Arya bangkit dari tidurnya itu, dan mengeluarkan sebungkus keripik yang sudah hancur dari saku celananya. “Yang ini!” tunjuk Arya.


“Bwahahaaa! Presdir kok bisa-bisanya menyimpan makanan kayak gitu di dalam saku celana.” Ledek Willy.


Puk puk! “Ya ampun, beng. Celanamu minyak semua loh!” Zivanya memukul bokong suaminya dua kali.


“Hihihi!” ibu Mei terkikik geli melihat tingkah Arya yang seperti anak kecil itu. Sedangkan bapak Mei, hanya mengulum senyum.


“Mereka lucu, ya Mei,” kata Ibu Mei.

__ADS_1


“Lucu kalo baru ketemu dan gabung kaya gini, bu. Coba kalau udah lama, yang ada makan hati terus!” cetus Willy.


“Abang mau keripik talas itu?” tanya Mei.


“Oh, namanya keripik talas,” kata Arya. “Iya, aku mau banyak. Mau di bawa pulang besok.”


“Kenapa gak ngomong dari tadi, emak kan bisa buatkan,” kata Ibu Mei.


“Repot-repot, bu. Lagi pula, malam ini kalian semua harus bersiap. Besok siang kita akan kembali ke kota, minggu depan kan acara pernikahan Mei dan Willy di langsungkan,” kata Zivanya.


“Eh, iya. Kalau begitu, apa aja yang harus emak dan bapak persiapkan dan bawa ke kota?” tanya Ibu Mei pada Zivanya.


“Siapkan pakaian ganti saja, bu. Barang dua stel pakaian,” kata Zivanya. “Selebihnya, bisa kita atur di kota.”


“Gimana, Mei? Bisa gak?” tanya Arya lagi.


“Bisa, bang. Beli langsung sama pembuatnya, bisa kiloan juga,” kata Mei.


“Ya, udah. Nih kamu belikan,” kata Arya sembari mengeluarkan uang yang berwarna merah sebanyak lima lembar.


“Hehee.. Lima ratus ribu, tiga ratus aja ya, bang. Ya dua punya Mei beli kerupuk,” kata Mei sembari mengambil uang itu.


Bapak Mei yang melihat kelakuan putri sulung nya yang tidak ada sungkan-sungkan nya itu hanya geleng-geleng kepala.


“Cukup gak segitu, Mei?” tanya Arya.


“Cukup, bang. Ini udah dapat banyak banget,” kata Mei.


“Sayang, kalau kamu mau beli. Jangan pakai duit Bang Arya, kamu habiskan aja duit ku,” kata Willy dengan muka temboknya itu.


“Ini aja udah cukup,” kata Mei sembari memasukan uang pemberian Arya kedalam saku.


“Aku juga banyak duit, yank. Bukan dia aja,” ucap Willy dengan sombong.

__ADS_1


__ADS_2