
“Sayang, peluk.” Rengek Arya seperti anak kecil. Kelakuan Arya, makin hari makin aneh saja. Kadang ia marah dengan tiba-tiba, kadang menjadi pemurung dan kadang juga, ia akan pergi diam-diam dari rumah itu.
Zivanya merapatkan tubuhnya dengan tubuh suaminya itu, ia memeluk tubuh Arya. Tapi, pikirannya melayang entah kemana.
“Ada dengan Abeng? Kenapa dia berubah, aku merasakan dia bukan Abeng yang dulu.” Batin Zivanya.
“Sayang, di elus sininya!” Arya mengarahkan tangan Zivanya pada bokongnya. Zivanya tidak mendengar perkataan Arya, ia larut dalam pemikirannya.
“Yank, kamu niat gak sih peluk aku?” sungut Arya, Zivanya segera tersadar.
“Eh, iya Beng. Apa tadi?” tanya Zivanya.
“Tuh kan! Kamu gak niat ngurusin aku, pasti kamu mikirin laki-laki lain. Iya kan?” tuduh Arya. Hati Zivanya begitu sakit, mendengar tuduhan suaminya itu. Tanpa sadar, air mata Zivanya lolos begitu saja.
“Sayang, maafin aku. Aku gak bermaksud marahin kamu.” Arya bangkit dari tidurnya, ia segera memeluk tubuh Zivanya.
“Kamu berubah, Beng. Kamu berubah, kamu bukan Arya yang aku kenal dulu. Yang selalu berangkat dan pulang kerja tepat waktu, yang selalu bersikap lembut dan manis. Yang selalu perhatian sama aku dan anak-anak, yang selalu menghargai apapun yang aku lakukan.” Zivanya menangis terisak, ia mengeluarkan semua rasa sakit dan sesak yang sudah beberapa minggu ini ia pendam sendirian.
“Aku sakit, Beng. Kalau memang kamu udah punya mainan baru, kamu bilang. Bilang sama aku, mungkin dengan kamu jujur, bakal bikin hatiku hancur. Tapi, dengan semua kejujuran itu, seenggaknya aku bisa berusaha untuk menerima dan pergi dari sini, Beng!”
__ADS_1
“Sayang, kamu ngomong apa? Siapa yang punya mainan baru? Mainan apa?” Arya menangkup wajah istrinya. Ia menghapus butiran air mata yang terus menetes dari mata istrinya.
“Aku gak punya mainan baru, tapi emang belakangan ini banyak banget kerjaan kantor yang harus aku handle sendirian. DIRGANTARA GRUP lagi ada masalah, belum lagi VALE'S GRUP masih ada pengembangan produk terbaru. Jadi aku mungkin kecapekan, aku minta maaf kalau perubahan aku bikin kamu tersakiti, dan juga merasa takut,” kata Arya. Ia menjadi takut setelah melihat Zivanya menangis, sebegitu terluka nya kah hati istrinya?
“Maafin aku, sayang. Aku gak bisa kasih alasan sama kamu, kenapa aku berubah. Aku juga gak mau kaya gini, tapi aku pengen kamu terbiasa. Aku sakit, aku sakit, sayang.” Batin Arya.
.
.
.
“Makin hari, Mei makin cantik aja,” guman Willy. Tangannya memegangi dadanya yang terasa berdebar-debar. Sehari tidak bertemu Mei, membuat hidupnya terasa ada yang kurang.
Saat ini, Mei sedang menyapu halaman belakang kediaman Arya. Rencananya, setelah menyapu halaman, ia akan minta izin untuk keluar. Ia ingin membeli sepatu dengan uang yang dua hari lalu di berikan Zivanya padanya.
“Yeyy.. Dikit lagi, abis ini. Aku bisa jalan-jalan!” Mei bersorak gembira. Pasalnya, sudah lama ia tidak berbelanja menggunakan uangnya sendiri. Selama ini, Zivanya selalu saja membelikan barang yang ia butuhkan dan juga inginkan.
Singkat cerita, kini mobil yang di kendarai Mei sudah berada di parkiran Mall X. Ia turun dari mobil itu dan segera masuk kedalam Mall.
__ADS_1
Saat ia sedang sibuk memilah milih sepatu, tiba-tiba ia menangkap sosok Willy yang sedang berada di toko perhiasan, tepat di hadapan toko sepatu tempatnya berdiri. Di toko perhiasan itu, tampak, Willy sedang memeluk seorang wanita dari belakang.
“Gimana? Bagus gak?” tanya Willy pada wanita itu.
“Bagus, bagus banget! Diem-diem kamu romantis juga!” Wanita itu menyenggol lengan Willy. Kedua orang itu tampak mesra di mata Mei.
Bruk! Mei yang ingin oergi dari tempat itu, menabrak rak sepatu yang ada di sampingnya.
Willy terkejut, ia berbalik dan melihat Mei ada di tempat itu. Buru-buru Willy mendorong wanita yang sedang bersamanya.
“Kenapa Will?” tanya wanita yang bersama dengan Willy.
“Dia ada di sini, Sus. Dia melihat kita, aku harus gimana?” Willy menjadi panik. Mei pasti berpikir yang macam-macam dan tidak-tidak pada dirinya.
“Kalau jalan pake mata, Mbak!”
“Maaf, saya gak sengaja,” ucap Mei. Matanya berkaca-kaca. Ia berlari dari tempat itu.
“Kejar, Will!” ujar Susan, teman Willy di kantor. Willy sengaja menelpon dan meminta bantuan Susan untuk memilihkan hadiah yang akan ia berikan pada Mei.
__ADS_1
“Mei!” tanpa berkata apapun lagi pada Susan. Willy segera mengejar Mei. Tapi ia terlambat, mobil Zivanya yang di pakai Mei, sudah melaju meninggalkan parkiran Mall itu.
“Ahh.. Sial!” Willy mengepalkan tinjunya dan memukul angin yang ada di hadapannya.