PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 69


__ADS_3

Danu membalas, tapi bukan menyebut nama Kinanti. “Zivanya!”


“Bang, maafin aku,” ucap Kinanti. Ia takut suaminya itu marah karena sepertinya. Ia ketahuan pergi menemui Zivanya.


“Kenapa kamu bawa mereka kesini? Kamu bikin ulah lagi?” tanya Danu pada Kinanti.


Membawa mereka kesini? Itu artinya, ada Zivanya. Kinanti pun segera menolehkan kepalanya ke belakang.


Di pintu ruangan itu, Ada Zivanya dan Arya yang sedang berdiri dan memandang ke arah Danu yang baru saja keluar dari dalam sel tahanannya.


“Mbak Vanya,” guman Kinanti tapi masih bisa di dengar oleh Arya dan Zivanya.


Zivanya sedikit tersenyum pada Kinanti. Wajah Zivanya terlihat sembab, yang pasti setelah kepergian Kinanti. Ia juga ikut menangis.


Flashback on


“Beng, aku jahat.” Arya memeluk tubuh istrinya yang terduduk di lantai ruang tamu itu.


“Sayang, kamu gak jahat. Aku adalah orang yang baik, orang yang sangat baik,” kata Arya.


“Aku udah pisahin bayi yang ada dalam kandungan dari ayahnya, aku jahat, Beng!”


“Itu semua bukan salah kamu, lagian Danu sendiri yang memilih untuk menyerahkan diri ke kantor polisi!” ujar Arya. Ia mencoba untuk menenangkan istrinya yang sedang di rundung rasa bersalah itu.


“Beng, boleh aku bebasin Danu?” tiba-tiba Zivanya bertanya, bukan bertanya tapi lebih tepatnya meminta izin.


Arya terdiam sesaat, ia berpikir salah atau tidak kah? Keputusan yang di ambil istrinya. Tapi setelah itu, Arya buru-buru menganggukan Kepalanya.


“Meskipun belum kamu bebasin sekarang, kita tengokin aja dulu. Liat gimana keadaannya sekarang,” kata Danu.


“Kita ke kantor polisi, sekarang ya. Beng!” Zivanya mengusap air matanya. Setelah itu ia memeluk tubuh suaminya.

__ADS_1


“Emm.. Kalo gitu, kamu tunggu disini! Aku ambil baju sebentar.”Arya menuntun Zivanya ke atas sofa. Lalu, ia segera bergegas ke lantai atas untuk berganti pakaian.


Ssstttt.. Jangan tanya, Arya mandi apa kagak? Yang pasti enggak!


Flashback off


Melihat Zivanya dan Arya datang, Kinanti tidak jadi duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi yang di duduki Danu. Ia memberikan kursi itu pada Zivanya.


“Silahkan, Mbak yang duduk,” kata Kinanti.


Zivanya pun segera duduk di kursi yang ada di hadapan Danu itu. Arya selalu mengekorinya. Kini, Arya berdiri di belakang istrinya itu. Tapi, ia terus diam. Ia ingin memberikan ruang untuk istrinya dan Danu. Begitu juga Kinanti.


“Gimana kabar kamu, Van?” tanya Danu yang mulai membuka pembicaraan itu.


“Seperti yang kamu lihat, baik.” Balas Zivanya.


“Sejak kapan kamu berada di sini?” tanya Zivanya.


“Kenapa kamu lakukan semua ini?” tanya Zivanya dengan wajah serius.


“Aku sadar, kalau selama ini aku salah, aku keliru, aku tamak, ingin mendapatkan kekayaan dengan cara yang mudah. Aku sadar, aku ingin memperbaiki diri dan mencoba menebus salahku,” kata Danu. Raut wajahnya menunjukan penyesalan.


Setelah itu, Danu meraih tangan Zivanya. Ia menggenggam jemari itu. “Van, tolong maafkan semua kesalahanku selama ini!”


“Mestinya adegannya gak kayak gini, gak ada pegangan tangan. Aku harus hentikan,” guman Arya yang berdiri di belakang istrinya.


“Oei.. Jangan pegang-pegang tangan istriku!” Arya segera maju dan melepaskan tangan istrinya yang di genggam oleh Danu.


“Maaf!” Danu menjauhkan tangannya.


“Pegang-pegang tangan istriku, nanti bisa-bisa anakku mirip kamu!” tunjuk Arya. Bar-bar nya mulai timbul, membuat Zivanya kembali pusing di buatnya.

__ADS_1


“Abeng!” Zivanya melotot pada suaminya itu.


“Maaf, sayang. Aku cuman kasih tau dia, kalau aku gak suka sama dia!” tunjuk Arya pada Danu.


“Jangan kayak gitu, emang kamu mau. Nanti anakmu lahir beneran mirip Danu?” Zivanya memutar bola matanya dengan malas. “Karena kamu benci dia!” tambah Zivanya.


“Enggak, enggak boleh! Aku suka kok sama kamu,” kata Arya sembari memaksakan senyumnya kepada Danu. “Ya udah, aku melipir lagi. Kalian lanjutin ngobrol nya!” Arya kembali mundur dan berdiri di belakang istrinya seperti semula.


Kinanti yang baru saja berhenti menangis, kini sudah bisa tersenyum karena melihat tingkah konyol Arya. Begitupun dengan Danu, di saat sedang serius. Pria itu sempat-sempatnya mengulum senyum.


“Aku harap, setelah keluar dari sini! Kamu dan Kinanti bisa hidup dengan lebih baik lagi,” kata Zivanya.


“Masa tahananku, baru saja ku lewati satu bulan. Masih ada 4 tahun 11 bulan lagi,” kata Danu.


“Itu jika aku tidak bersedia mencabut semuanya!” ujar Zivanya cepat.


“Maksudmu?” Danu tampak terkejut dengan perkataan Zivanya.


“Aku dan suamiku sudah sepakat, untuk menarik semua kasus ini,” kata Zivanya pelan, ia menengok suaminya yang berdiri di belakangnya. Arya tersenyum kepada istrinya itu.


“Kamu serius?” tanya Danu, memastikan.


“Ya. Aku gak mau, Kinanti hamil, melahirkan dan membesarkan anaknya sendirian. Hidup tanpa suami itu sulit, belum lagi hujatan dan hinaan yang akan kita terima karena berstatus janda.” Tatapan Zivanya berubah sendu, ia teringat di mana saat ia membesarkan anak-anaknya seorang diri. Di tambah lagi, hinaan dan cacian yang terus menerus ia dapatkan dan terima dari orang-orang yang ada di sekelilingnya.


.


.


.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


__ADS_2