PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 81


__ADS_3

Tidak terasa, acara lamaran Willy pada Mei sudah di langsung kan. Orangtua Mei mengundang beberapa tetangga untuk ikut menyambut acara lamaran itu.


“Jadi, kapan acara ijab qibul nya akan di langsung kan?” tanya Bapak Mei.


“Itulah yang ingin saya katakan, pak. Acara nikahan nya akan kita adakan di kota,” kata Arya selaku juru bicara disana.


“Di kota?” semua tetangga Mei saling pandang.


“Benar, itu juga jika bapak dan ibu mengizinkan dan bersedia ikut ke kota bersama kami, besok lusa!”terang Arya.


“Ibu dan bapak, ikut bagaimana baiknya saja. Kami akan sangat bahagia jika Mei sendiri bahagia.”


“Jadi, bapak dan ibu mau ikut ke kota?” tanya Arya.


“Ya, kami mau.”balas bapak Mei.


“Alhamdulillah kalau begitu, kalau gak ada lagi yang perlu ditanyakan. Saya izin ke belakang sebentar,” kata Arya sambil memegangi perutnya.


Arya segera berjalan tergesa-gesa, Zivanya dan Willy yang berasa di belakang Arya segera mengikuti.


“Sayang!” panggil Zivanya pada suaminya yang duduk di samping sumur.


“Huekk.. Huekk..” Arya kembali merasa mual. Dan ia pun mengalami muntah-muntah.


Zivanya dan Willy hendak mengambilkan air. Tapi, air di dalam bak dan ember yang ada di sana semuanya kosong.


“Mbak, air nya kosong semua,” kata Willy.


“Coba, coba colokin kabel itu! Kayak Mei sore tadi,” kata Zivanya sembari memijat tengkuk suaminya.


“Mati, gak mau idup!” ujar Willy. “Willy panggil Mei aja, ya. Mungkin dia bisa ambil air dari dalam situ.” Tunjuk Willy pada sumur yang di atasnya ada ember dan tali panjang.

__ADS_1


Willy pun berlari ke dalam rumah dan memanggil Mei.


“Mei, Bang Arya tuh!” Mei berbicara pada Mei di hadapan semua orang.


“Bang Arya kenapa?” tanya Mei. Para tetangga Mei juga ikut mendengarkan dan penasaran.


“Itu, colokan yang bikin air keluar. Gak mau nyala, terus Bang Arya lagi muntah-muntah!” terang Willy.


“Oh, Sanyo nya mati!” Mei segera berjalan menuju sumur yang ada di belakang rumah. Di mana Zivanya dan Arya berada.


Tanpa di sangka, tetangga Mei juga ikut ke sumur itu. Mereka ingin melihat keadaan Arya.


“Uhuk.. Uhuk.. Sayang, perutku gak enak banget,” kata Arya sembari menyandarkan kepalanya pada Zivanya yang duduk di sampingnya.


“Sabar, beng. Abis ini kita balik ke kamar, kamu minum vitamin terus tidur, ya!” Zivanya mengusap rambut suaminya. Tubuh pria itu mulai terasa dingin.


“Neng, suami neng sakit?” tanya salah satu tetangga Mei.


“Hehee.. Enggak bu, suami saya lagi kena sindrom,” kata Zivanya.


“Itu bu, ngidam,” kata Zivanya lagi.


“Laki-laki ngidam?”


“Sayang, siapa sih yang pakek minyak wangi yang bau dukun? Usir dia!” rengek Arya pada Zivanya. Membuat semua orang yang ada disana saling pandang termasuk kedua orang tua Mei.


Mei yang sudah selesai mengisi ember, segera memberikan air itu pada Arya dan Zivanya.


“Ada apa, mbak?” tanya Mei.


“Ada yang pakai parfum fambo kah, Mei?” tanya Zivanya pada Mei.

__ADS_1


Mei memandang semua orang satu persatu. “Bapak-bapak sama ibu-ibu afa yang pakai minyak fambo, ya?” tanya Mei dengan sopan.


“Saya yang pakek, kenapa?” pak RT maju ke posisi paling depan. Pria setengah paruh baya itu semakin mendekat pada Arya, Zivanya dan Mei.


“Tolong menjauh!” sikap profesional Willy kembali timbul. Ia lupa, jika saat ini ia sedang tidak bekerja.


Pria itu tampak pasang badan di hadapan Arya dan Zivanya.


“Anda tidak boleh mendekat! Bau tubuh anda sudah membuat Tuan Arya sakit kepala!” ujar Willy membuat Pak Rt melongo.


“Sayang,” bisik Mei sembari mencubit perut Willy.


“Ahh, sakit Mei!” pekik tertahan Willy.


“Maaf ya, Pak RT. Bang Arya lagi ngidam, dia pusing dan mual saat mencium aroma minyak wangi Pak RT,” Kaya Mei dengan sopan.


“Oh, kayak gitu. Ya udah, bapak pulang dulu sebentar, ganti pakaian. Nanti bapak kesini lagi!” Pak RT itu segera lari secepat ayam jantan. Ia lewat belakang rumah itu, karena rumah nya memang berada disamping rumah orangtua Mei.


Semua orang sudah kembali ke depan, kini tinggal Mei, Willy, Arya dan Zivanya yang ada di sumur itu.


“Yank,” panggil Arya dengan pelan.


“Iya, beng,” jawab Zivanya.


“Aku pengen makan empek-empek,” ucap Arya membuat Zivanya, Willy dan Mei melongo.


Dari mana mereka mendapatkan empek-empek malam hari begini, terlebih lagi ini kampung bukan kota.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG!


__ADS_2