PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 62


__ADS_3

Mei turun dari mobil, ia segera berlari memasuki rumah besar dan megah yang sudah menjadi tempat tinggalnya itu. Rumah milik Arya.


Ia berlari menaiki anak tangga sembari mengusap air matanya yang terus menetes.


“Mei, kok udah pulang? Cepet banget?” tanya Zivanya yang sedang duduk di sofa ruang tengah sembari menonton televisi. Mei tidak menjawabnya, gadis itu terus berlari dan menuju kamar nya.


Brak! Mei membanting pintu kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ia mengigit bantalnya untuk menahan suaranya agar tidak terdengar.


“Hiks.. Sakit banget, ku pikir Willy suka sama aku. Kayak aku suka sama dia, tapi ternyata dia udah punya perempuan lain,” ucap Mei pada dirinya sendiri.


“Sesakit inikah rasanya? Ya tuhan, kenapa aku bisa suka sama dia. Tapi kenapa? Kenapa selama ini dia bilang, dia masih sendiri dan gak punya pacar. Apa ini caranya buat deketin cewek? Bikin cewek itu penasaran sama sikap dinginnya yang kaya Es. Setelah cewek itu penasaran sama dia, maka dia bakal pergi dari cewek itu.”


“Mei, kamu kenapa?” Zivanya masuk ke kamar Mei. Ia duduk tepian ranjang Mei. Di usapnya punggung gadis itu.


“Mei gak papa, Mbak!” sahut Mei dengan suara serak.


“Kamu bohong, cerita dong sama, Mbak. Barangkali mbak bisa bantu,” kata Zivanya.


“Huhuhuu.. Willy jahat, Mbak. Tapi Mei lihat dia lagi pelukan sama cewek sexsi di toko perhiasan,” kata Mei. Ia menangis dengan kencang sembari memeluk tubuh Zivanya.


“Oh, nangisnya gara-gara Willy? Kamu suka ya sama Willy?” tanya Zivanya, membuat Mei menjadi malu. Gadis itu menghentikan tangisnya.


“Enggak, Mei gak suka sama dia. Mei cuma gak seneng aja liat dia lebih bahagia dari Mei!” bohong Mei. Gadis itu malu untuk mengakui perasaannya.


“Kalo suka jangan malu, kalau cinta jangan ragu. Nanti kalo dia beneran nikah sama orang lain, kamu bakalan lebih sakit dari ini loh!” ujar Zivanya, membuat mata merah Mei mendelik lebar. “Lagian, yang kamu lihat belum tentu benar. Kalau ternyata cewek itu temannya gimana?”


“Kalau temannya, gak akan pelukan kaya gitu, Mbak. Senyum-senyum lagi!”


“Kalau dia beneran nikah sama orang lain. Bakal ku santet online bininya!”


“Hahaha, emang bisa santet online?” tanya Zivanya.


“Bisalah! Mungkin.”


.


.


.

__ADS_1


Bruk! Willy membuka pintu utama dengan kasar. Ia berlari masuk kedalam rumah.


“Mbak, Mei mana?” tanya Willy pada Zivanya yang sedang menyiapkan makan siang untuk Nino dan Valencia.


“Ada di atas, di kamarnya. Lagi gak enak badan,” kata Zivanya tanpa melihat kearah Willy yang bertanya.


Willy segera berlari menuju anak tangga. Ia ingin menjelaskan semua kesalahan pahaman itu pada Mei.


“Mei, kamu didalam?” tanya Willy sembari mengetuk pintu kamar Mei.


“Pergi, aku gak mau ketemu kamu!” teriak Mei dengan kencang.


“Aku mau jelasin semuanya, semua yang kamu lihat. Gak seperti kenyataannya, Mei,” kata Willy.


Ia memutar gagang pintu kamar itu, yang ternyata tidak dikunci oleh Mei. Ia segera masuk, dan duduk di tepian ranjang itu. Di dekat kaki Mei.


“Mei!” panggil Willy sembari menyentuh kaki Mei. Mei diam saja.


Karena tidak dapat respon dari Mei, pria yang seperti batu itu ikut naik keatas ranjang. Kedua anak manusia itu, tidak menyangka. Jika perbuatan mereka akan menjadi kenangan konyol yang tidak akan pernah mereka lupakan.


“Mei!” Willy memanggil Mei sembari mengeluarkan ponselnya. “Kamu lihat deh!” Willy memberikan ponsel itu kepada Mei.


Isi Chat itu menujukan, bahwa Willy ingin meminta bantuan dari Susan.


“Jadi, dia bukan pacar kamu?” Mei memandang wajah Willy yang seperti kanebo kering itu.


“Bukan lah! Mana pernah aku punya pacar,” kata Willy. “Tapi sebentar lagi bakal punya.”


Willy mengeluarkan kotak kalung yang ada di dalam saku celananya. Ia membuka kotak itu. “Kamu mau gak jadi pacar pertama dan terakhirku, Mei?” tanya Willy sembari memperlihatkan kalung yang telah ia beli kepada Mei.


Mei mengangguk, Willy pun segera meminta Mei berbalik dan memasangkan kalung itu dileher jenjang Mei.


“Kamu cantik walaupun cerewet.” Bisik Willy di telinga Mei.


“Kamu cakep walaupun kayak kanebo kering!” balas Mei.


“Jadi sekarang kita pacaran nih?” Willy memegangi pundak Mei.


“Iya, mungkin,” ucap Mei dengan malu-malu.

__ADS_1


“Kalau kamu gak mau pacaran, kita minta di nikahin aja sama Bang Arya dan Mbak Vanya!” ujar Willy.


“Nikah! Emang bisa secepat itu?” tanya Mei. “Lagian, ibu sama adikku ada di kampung.”


“Kalo kamu emang udah siap jadi istriku, kita bisa datang ke kampung buat jemput Ibu serta adikmu!”


Mei membalikan tubuhnya, kini wajahnya dan wajah Willy berhadapan. “Aku gak nyangka, bisa suka sama orang kaya kamu,” ucap Mei sembari menyentuh pipi Willy dengan kedua telapak tangannya.


“Aku juga gak nyangka, pertengkaran kita tempo hari. Ternyata membuat perasaan cinta tumbuh di antara kita berdua.” Willy mendekatkan wajahnya pada wajah Mei. Ia mencium lembut bibir Mei.


Kedua anak manusia itu saling menautkan bibir. Tapi, mereka berdua sama-sama terdiam. Pasalnya, mereka sama-sama belum pernah memiliki kekasih dan juga merasakan bahkan melakukan yang namanya berciuman.


“Tunggu dulu!” Willy menarik bibirnya dari bibir Mei.


“Kenapa?” tanya Mei.


“Aku liat tutorial berciuman di youtube dulu!” ujar Willy sembari meraih dan membuka ponselnya yang ada di sudut ranjang.


Mei tersenyum malu mendengar perkataan Willy. Konyol memang, sudah setua dan sebesar itu. Tapi mereka berdua belum pernah merasakan yang namanya perkencan dan berpacaran.


Setelah memakan waktu kurang lebih 4 menit, akhirnya Willy menutup kembali ponselnya.


“Mei, ayo! Aku udah liat cara berciuman sama pacar untuk pertama kalinya di youtube!” Willy kembali merapatkan wajahnya pada wajah Mei. Gadis yang baru saja jadi kekasihnya itu.


“Enak aja! Aku gak mau lagi!” Mei mendorong dada bidang Willy.


“Loh! Kok gitu?” Willy memonyongkan bibirnya. Usahanya untuk mencium Mei ternyata sia-sia.


BERSAMBUNG!


.


.


.


Tinggal jejak ya! Kalau ini cepet lolos, Neng janji update satu bab lagi✌


Jangan lupa, Like Coment dan saran kalian🙏

__ADS_1


__ADS_2