PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 50


__ADS_3

“Yank, bangun dulu. Mandi sana!” Arya mengusap lembut wajah istrinya. Setelah Arya kembali keluar dari kamar itu, Zivanya kembali tertidur.


“Aku kok ngantuk terus ya, Beng? Hoamm!” Zivanya kembali menguap.


“Sejak kapan istriku jadi malas dan suka tidur begini?” Arya duduk di sebelah istrinya yang masih meringkuk itu. “Ayo, bangun! Atau kamu mau aku mandiin sekalian kita main lagi.” Goda Arya sembari tersenyum smirk.


Mendengar perkataan Arya, Zivanya segera merubah posisinya. Kini ia duduk sembari menutupi tubuhnya yang polos.


Arya gemas melihat tingkah istrinya, tanps sengaja. Ia mendekatkan bibirnya pada telinga Zivanya.


“Auchh! Beng kok digigit sih? Kamu kaya tikus,” Zivanya mengusap telinga kanannya yang terasa panas.


“Hahaha. Maaf sayang, abisnya aku gemes sendiri,” kata Arya.


“Nanti kalo yang di luar denger gimana? Mereka pasti mikir aneh-aneh lagi. Masa aku harus malu dua kali.” Zivanya mengerucutkan bibirnya. Ia kesal dengan tingkah Arya yang sering iseng itu.


“Ruangan ini, kedap suara. Mana bisa mereka dengar. Kecuali mereka memiliki telinga super,” ucap Arya.


“Udah, sana kamu keluar! Aku mau mandi.” Zivanya mengusir Arya dari kamar itu. Ia beringsut dari ranjang, menarik selimut yang ia pakai ke dalam kamar mandi.


“Ehh, janda. Gak bawa handuk tuh mandinya!” ujar Arya pada istrinya yang sudah berada di ambang pintu kamar mandi.


“Siniin handuknya!” pinta Zivanya.


“Ambil sendiri, enak aja nyuruh-nyuruh. Tadi aja ngusir!”

__ADS_1


“Beng, tolong dong. Ambilin handuknya, aku mager ini!” Zivanya berbicara pelan. Tapi, bibirnya seperti dukun yang komat kamit membaca mantra. Yaitu, menggerutu.


“No!” tolak Arya.


“Abeng bucin, ayo dong! Nanti gak ku kasih jatah seminggu!” mendengar kata jatah, Arya segera melompat turun dari atas ranjang menuju dimana istrinya itu berdiri.


“Ini, yank!” Arya memberikan handuk berwarna putih itu kepada istrinya. Ia tersenyum manis. Membuat Zivanya semakin kesal.


“Tadi gak mau, denger jatah langsung gercep!” gerutu Zivanya sembari mengambil handuk itu. Ia segera meninggalkan Arya masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah istrinya masuk ke kamar mandi, Arya segera kembali keluar. Di mana rekan-rekannya sedang mengobrol.


“ Bang, apakah Mbak Vanya jadi ikut makan malam, nanti?” tanya Willy pada Arya. Di hadapan Juhim dan kedua rekan yang lainnya.


“Jadi,” jawab Arya singkat.


“Beng, aku keluar dulu ya. Nanti balik lagi!” pamit Zivanya pada Arya. Ia tersenyum ramah kepada rekan-rekan Arya.



“Jangan lama-lama, yank. Udah sore juga,” kata Arya. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri istrinya. Lalu, ia mencium pipi istrinya dengan singkat.


“Beng, malu,” ucap Zivanya dengan lirih. Arya tak menghiraukan, ia kembali mencium pipi sebelah Zivanya. Ia sengaja melakukan itu, agar mata Juhim semakin melotot.


“Duh, cantiknya.” Batin Juhim menjerit, ia meratapi dirinya yang jauh dari kata tampan itu.

__ADS_1


.


.


.


“Honey, bantuin aku dong. Perutku mual banget,” ucap seseorang yang tidak lain adalah Kinanti. Wajah nya pucat, menunjukan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.


“Huekk huekk!” Kinanti kembali berlari ke kamar mandi. Dan memuntahkan kembali isi perutnya ke Wastapel.


“Aduh Kinanti!” geram Danu. “Kamu kalo mau muntah-muntah, pindah deh ke kamar sebelah. Aku tuh baru pulang kerja, kamu udah bikin aku gak nyaman kaya gini!”



“Iya, aku pindah ke kamar sebelah,” ucap Kinanti. Wajahnya sudah semakin pucat, air mata mengalir dari sudut matanya. Membuat Danu menjadi tidak tega.


“Udah, gak usah pindah. Sini aja,” kata Danu. Ia segera turun dari ranjang dan berjalan menuju lemari. Ia mengambil minyak angin yang dulu pernah di bawa Zivanya saat datang ke apartemen itu bersama Valencia.


Ada beberapa minyak angin di sana, Danu mengambil salah satunya. Lalu meminta Kinanti mengangkat bajunya, dengan pelan Danu menggosok punggung Kinanti. Membuat Kinanti merasakan nyaman, rasa mual yang ia derita seketika hilang. Ia pun langsung terlelap begitu saja.


“Kinanti kok aneh banget, ya. Akhir-akhir ini?” guman Danu. “Sering mual-mual, mukanya pucet banget. Mendingan besok, aku bawa dia ke dokter. Sebelum terjadi apa-apa.”


Ternyata, Danu masih begitu perhatian pada Kinanti. Tapi, rasa obsesi nya pada Zivanya perlahan menutup perasaannya untuk Kinanti. Gadis yang sudah memberikan segala hal berharga untuknya itu.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


Jangan bully Danu, yak! Dia kesayangan Neng. Bully Danu, berarti bully Neng juga.


Hahahak!


__ADS_2