
Pagi itu, Zivanya menangis sesegukan. Pasalnya, baru jam setengah tujuh pagi. Suaminya sudah meninggalkan dirinya pergi ke kantor. Sudah hampir sebulan suaminya selalu seperti itu, berangkat pagi dan pasti pulang disaat hari sudah gelap.
Kali ini, Zivanya sudah tidak tahan lagi. Ia sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya. Ia akan membongkar hal yang di sembunyikan suaminya.
“Kenapa kamu, Beng? Kamu jahat!” Zivanya memukul bantal yang ada didekatnya. Ia kesal, sangat kesal. Saat membuka matanya, ia tidak melihat keberadaan suaminya.
“Selalu begini! Kenapa kamu pergi gak pernah pamit sama aku?” Zivanya terus menangis. Kedua tangannya sibuk menghapus air mata dan juga ingus yang keluar dari hidung nya.
“Aku harus susulin ke kantor! Aku gak bisa diam kayak gini terus, aku bakal labrak pelakor yang berani rebut Abang dari aku!” Zivanya segera bangkit dari ranjang itu dan beranjak ke kamar mandi. Ia membersihkan dirinya.
Sekitar 25 menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi. Dengan cepat ia berganti pakaian dan juga berdandan secantik mungkin. Setelah itu, ia menuruni anak tangga dan menuju meja makan. Di meja itu, sudah ada Nino, Valencia dan juga Mei yang sedang sarapan.
“Mei, Nino biar aku yang antar!” ujar Zivanya pada Mei yang sedang meyendok nasi goreng kedalam mulutnya.
“Iya, Mbak.” Mei segera menelan nasi goreng yang ada didalam mulutnya itu. Lalu membalas perkataan Zivanya.
“Cepat habiskan sarapannya, sayang. Nanti telat!” ujar Zivanya kepada Nino.
“Mom, Valen tidak ikut ya. Valen ingin menonton film kartun kesukaan Valen bersama Aunty Mei,” kata Valencia kepada Mommynya itu.
“Iya, sayang. Mommy juga gak akan lama kok.”
.
.
.
Setelah sarapan, Zivanya segera bergegas untuk mengantar Nino kesekolah. Setengah jam kemudian, mobil Zivanya berhenti di depan gerbang sekolahan Nino.
__ADS_1
“Sayang, jangan nakal, ya. Belajar yang benar,” kata Zivanya kepada putranya yang baru saja turun dari mobil.
“Iya, Mom!” timbal Nino.
“Nanti pulangnya, Mommy suruh Aunty Mei yang jemput. Mommy masih ada kerjaan, jadi gak bisa jemput.”
“Oke! Nino masuk dulu, ya. Bye-bye Mommy!” Nino melambaikan tangannya sembari berlari kecil memasuki gerbang sekolah.
“Bye-bye, sayang!” Zivanya membalas lambaian tangan putranya. Setelah itu, ia memakai kembali kacamata hitamnya dan menaikan kaca mobilnya. Ia pun segera menembus jalanan kota itu, menuju ke perusahaan DIRGANTARA GRUP.
Tiba-tiba, Mobil yang di kendarai Zivanya berhenti di pinggir jalan. Ia pun turun dari mobil itu untuk mengeceknya.
“Huaaa.. Sialan!” teriak Zivanya sambil menendang ban mobil bagian belakang. “Pakek pecah ban lagi!”
“Bikin lambat aja!” gerutunya. “Kalo aku ganti sendiri, pasti susah banget!”
Zivanya pun menelpon orang bengkel, meminta montir segera datang untuk mengganti ban nya yang bocor.
“Ban yang mana, Mbak Van?” tanya montir yang sepertinya sudah mengenal Zivanya.
“Tu, yang belakang! Bikin kesel tau gak. Gak ngerti kalo orang lagi buru-buru!” gerutu Zivanya.
“Sejak kapan, Mbak jadi cerewet begini?”
“Diem, Do! Nanti Mbak sumpel mulutmu pake ini!” Zivanya melepas sepatunya dan mengarahkan sepatu itu pada montir yang bernama Dodo.
“Ampun, Mbak!” Dodo tersenyum kepada Zivanya yang semakin cerewet menurutnya itu.
Dodo adalah pemuda berusia 21 tahun, lulusan sekolah menengah akhir 3 tahun yang lalu. Karena masalah biaya, jadi ia tidak meneruskan pendidikannya kejenjang Universitas. Jangan tanya bagaimana ia bisa mengenal Zivanya, nanti ceritanya makin panjang. Kan Neng jadi runyam.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Dodo telah selesai dengan tugasnya.
“Udah selesai, Mbak!” Teriak Dodo pada Zivanya yang berteduh dibawah pohon yang rindang, tidak jauh dari tempat mobilnya berada.
“Makasih,ya. Do! Ini ongkosnya.” Zivanya memberikan uang satu juta rupiah pada Dodo.
“Banyak banget, mbak!” Dodo melihat uang yang di sodorkan Zivanya padanya.
“Udah, ambil aja. Kasih ke ibumu, buat jajan sekolah Tika,” kata Zivanya sembari tersenyum tulus kepada Dodo.
“Makasih ya, mbak. Mbak baik banget,” kata Dodo sembari menerima uang pemberian Zivanya.
Pukul 11:45. Zivanya baru tiba parkiran perusahaan DIRGANTARA GRUP. Ia segera turun dari mobilnya dan masuk kedalam perusahaan, ia segera memasuki lift khusus petinggi perusahaan itu.
Saat ia telah tiba di lantas atas, ia bertemu dengan Willy. “Will, Abeng ada?” tanya Zivanya.
“Aa-anu, mbak. Bang Arya lagi sibuk, katanya gak boleh di ganggu!” Willy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung harus mengatakan apa pada Zivanya. Pasalnya, Arya berpesan jangan izinkan siapapun masuk kedalam ruangannya, sebelum ia sendiri yang keluar dari ruangan itu.
“Anu apa? Sibuk apa? Aku istrinya, masa gak boleh nemuin dia!” Zivanya melongos dan memaksa masuk kedalam ruangan kerja suaminya.
Brak! Zivanya mendorong pintu ruangan itu dengan keras dan kasar. Rasa curiga dan cemburu sudah menguasai hati dan perasaannya.
Zivanya begitu terkejut dengan apa yang ia lihat. “Abeng..!” teriaknya, tatapan Zivanya sulit di artikan.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG!
Hay.. Hay.. Jangan lupa ya! Tinggalkan jejak, like coment dan gift seikhlasnya. Biar Neng makin semangat buat update😙