PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 20


__ADS_3

“Ahh.. Ayo, mbak! Terus.. Mbak emang hebat,” kata Rendi sambil memeluk pinggang Zivanya yang berada di atas tubuhnya.


“Sabar dong, jangan buru-buru!”


“Kalo gitu, aku aja yang main, ya, mbak!” ujar Rendi.


Dengan cepat, Rendi merubah posisi. Kini, ABG itu mengambil alih permainan. Ia pun memulai kembali permainan itu.


Di saat, ia sedang asik memacu kudanya. Tiba-tiba saja, terjadi hujan lebat. Dan kamar tempat mereka bermain basah akibat atap yang bocor.


“Ahh.. Mbak, atapnya bocor. Jadi basah kan!”


“Anak gila! Bangun-bangun!” Ibu Rendi terkejut melihat Rendi yang tidur tapi meracau tidak jelas, dengan kedua tangan yang berada di dalam celana.


Karena Rendi tak kunjung bangun, ibunya kembali ke dapur dan mengambil segayung air. Lalu, mengguyur kepala putranya itu dengan air dingin.


Byurr..!


“Mbak, ayo pindah! Bocor, mbak!” Rendi terkejut dan beranjak dari atas ranjangnya.


“Bagus, ya! Mimpi apa kamu? Mimpi mesum ya?” ibu Rendi berkacak pinggang di hadapan Rendi yang baru terbangun karena terkejut itu.


“Lah, ibu! Ganggu aja sih!” gerutu Rendi. “Mbak Vanya nya mana?” tanya Rendi pada ibunya, tanpa sadar.


“Jadi kamu mimpi mesum sama Janda itu!” Ibu Rendi menjewer telinga Rendi dengan keras.


Rendi pun tersadar, “Aduh.. Ampun, Bu!” rintih Rendi sambil memegangi telinganya.


“Ampun ampun! Ayo cepet mandi, cuci otakmu sampe bersih!” Ibu Rendi terus menjewer telinga Rendi hingga sampai di kamar mandi.


“Ini yang Mbak Vanya!”


Byurr byurr! Ibu Rendi mengguyur kepala Rendi 3x menggunakan air dingin.


“Bu, udah, Bu. Ampun!” Rendi mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya.

__ADS_1


“Cepet mandi, nanti sekolahnya telat!”


.


.


.


“Van!” panggil Arya, kini Arya dan Zivanya sedang duduk di kursi yang ada di meja dapur.


“Kenapa?” tanya Zivanya.


“Kamu cantik!” Arya menatap wajah Zivanya tanpa berkedip.


“Colok nih, matanya,” ucap Zivanya sambil mengarahkan garpu yang ada di tangannya.


“Emang tega? Kalo aku buta terus mati, gimana? Emang kamu, mau. Jadi janda dua kali sebelum nikah?”


“Ar! Kamu ngomong apa sih? Emang kamu tega ninggalin aku sama anak-anak?”


Pasalnya, Ia dan Zivanya telah resmi berpacaran meski belum ada rencana untuk kedepannya.


“Kok udah jam segini, anak-anak sama Mei belum juga pulang, ya?” Zivanya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukan pukul 11 siang.


“Mungkin mereka mampir ke kedai ice cream kaya biasanya,” ucap Arya.


“Ar, aku boleh minta sesuatu gak?” tanya Zivanya dengan sangat hati-hati.


“Minta apa? Hmm.”


“Aku minta uang, ya,” kata Zivanya dengan sangat pelan. Tapi, masih terdengar oleh Arya.


“Minta uang? Kok kamu lucu sih, Van?” Arya tertawa, ia merasa lucu dengan tingkah Zivanya yang nampak takut-takut.


“Kamu dengar aku, properti, butik, perusahaan, bahkan kompleks ini! Semuanya di tinggalkan mendiang Valentino untuk kamu dan anak-anak. Aku hanya membantu mengelola dan menjaganya aja, bahkan perusahaan yang juga aku miliki sendiri, semua itu juga akan jadi milik kamu dan anak-anak. Kenapa kamu mesti minta seperti ini? Kalo kamu butuh, kamu tinggal bilang gak perlu meminta,” kata Arya. “Kok kesannya, aku pelit ya!”

__ADS_1


“Enggak gitu, bukan gitu maksud aku. Aku minta uang, buat bantu biaya operasi anaknya Kang Udin, tukang sayur yang jualan keliling setiap pagi.”


Arya terdiam, ia menatap lekat wajah Zivanya.


“Gimana? Boleh gak?” tanya Zivanya, membuyarkan lamunan Arya.


“Kenapa gak boleh? Pekerjaan mulia kok di tunda,” kata Arya. “Tapi, aku yang nemenin, aku gak mau kamu di kira orang-orang berniat menggoda kang sayur.”


“Yeay.. Makasih abang!”


Arya merasa sangat bahagia, setelah sekian lama. Ia mendengar lagi sebutan abang itu dari mulut Zivanya.


“Kita berangkat sekarang, gimana?”


“Boleh, tapi anak-anak gimana?” ujar Arya.


“Nanti aku telpon Mei, suruh sampein anak-anak kalo kita pergi. Biar anak-anak gak nyariin,” kata Zivanya. “Aku ganti baju bentar ya.”


“Ngapain ganti baju? Gitu aja udah cantik!” ujar Arya.


“Gak lihat apa, Bang? Belakangnya berlubang seperti ini! Emang situ mau, calon istrinya di goda orang di tengah jalan seperti tempo hari.” Zivanya membalikan tubuhnya, ia memperlihatkan punggung bajunya yang memang modelnya terdapat bolong-bolong kecil. Mungkin, jika orang-orang yang sudah biasa melihatnya, mereka tidak akan perduli. Tapi, jika ibu-ibu komplek yang selalu merasa Zivanya menjadi saingan mereka. Pastinya mereka akan berkomentar pedas dan menuduh yang tidak-tidak.


“Ya udah, sana cepet ganti baju. Aku tunggu di ruang depan, ya!”


Zivanya masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Arya, pria itu segera pergi menuju ruang depan.


BERSAMBUNG!


.


.


.


NOTE: Jangan pernah memandang buruk orang lain, hanya karena penampilan yang sedikit terbuka. Karena sesungguhnya, sikap, niat tulus dan kebaikan seseorang tidak di ukur hanya dengan pakaian yang mereka kenakan.

__ADS_1


Edisi Author bela diri ya! Wong Author pakaiannya pada terbuka. Wkwkwk


__ADS_2