PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 13


__ADS_3

“Loh! Rendi nya mana?” Zivanya datang dari arah dapur dengan secangkir teh hangat di tangannya. Tapi, ia tidak melihat lagi keberadaan Rendi.


“Udah pulang,” ucap Arya sambil menahan tawa.


“Loh! Kok pulang? Terus ini teh nya gimana?” Zivanya mendekat lalu meletakan cangkir teh yang ia bawa ke atas meja.


“Dia takut sama aku,” ucap Arya sambil mengulum senyum. “Sini, teh nya biar aku yang abisin!” sambung Arya, lalu ia meraih cangkir teh yang di letakan Zivanya di atas meja itu.


Saat Arya hendak meminum teh itu, Zivanya mencegahnya.


“Jangan, Ar!” Zivanya menarik cangkir itu hingga isi yang ada di dalam cangkir itu tumpah.


Arya terkejut dengan tindakan Zivanya, bagaimana tidak. Kemeja dan celana yang di pakai oleh Arya menjadi basah karena terkena tumpahan teh itu.


“Nanti kamu sakit perut! Kamu kan gak bisa konsumsi gula putih.”Zivanya mengingatkan Arya, bahwa pria itu tidak bisa mengonsumsi gula kristal.


Arya terdiam, ia menatap wajah Zivanya dengan lekat. Ia tidak menyangka, bahwa Zivanya perhatian pada kesehatannya.


“Maafin aku, ya. Aku gak bermaksud kaya gitu, maaf udah buat baju kamu basah,” ucap Zivanya.


“Oke, gak masalah kok.” Arya tersenyum, sambil mengibas-ngibaskan bajunya.

__ADS_1


“Kamu buka aja bajunya, nanti aku ambilkan pakaian Bang Valent yang masih aku simpan,” ucap Zivanya. Lalu, janda itu segera berlari menuju kamarnya.


Zivanya segera mengambil beberapa pakaian Valentino yang memang masih ia simpan. Pakaian yang ia simpan adalah pakaian-pakaian yang menjadi favorite Valentino semasa hidupnya.


Sudah 4 tahun berlalu, tapi, pakaian yang di simpan Zivanya masih terlihat baru, bersih dan tersusun rapi.


Tak lama kemudian, Zivanya kembali dengan membawa dua stel pakaian. Agar Arya dapat memilihnya.


“Nih! Pilih sendiri, mana yang cocok. Tubuh kamu sama tubuh Bang Valent gak beda-beda amat gedenya. Aku rasa, muat.” Zivanya menyerahkan pakaian itu pada Arya.


Arya mengambil pakaian yang ada di tangan Valencia. Tapi kemudian, ia bingung. Di mana ia akan berganti pakaian.


“Hais.. Ngerepotin aja sih!” gerutu Zivanya. “Ya udah sana, di kamar aja. Jangan lama-lama ya!” Akhirnya Zivanya menyuruh Arya berganti pakaian di dalam kamarnya. Sedangkan, ia sendiri menunggu di ruang tamu itu.


Arya yang berada di dalam kamar Zivanya, sedang berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, ia tidak langsung keluar. Ia menatap foto yang ada di dinding kamar Zivanya. Yaitu, foto pernikahan Zivanya dan Valentino.


“Kamu beruntung sahabatku, bisa mendapatkan cinta Zivanya. Hanya saja, tuhan begitu menyayangimu hingga, kau di jemput lebih dulu,” ucap Arya sambil menyentuh foto itu. “Aku berjanji, akan segera menunaikan janjiku, padamu!” sambungnya.


“Ar! Udah belum?” panggil Zivanya.


“Udah, sabar napa. Bawel amat jadi janda!” canda Arya dengan menyebut Zivanya Janda.

__ADS_1


Arya segera keluar dari kamar Zivanya, dan ternyata, Zivanya menunggunya di depan pintu.


“Aku mau mandi, sebelum pulang. Kamu temuin anak-anak dulu ya, aku yakin, mereka pasti udah bangun. Tapi, malas keluar karena hari ini kan weekend,” kata Zivanya, lalu wanita itu melewati Arya begitu saja. Raut wajah Zivanya berubah, Arya pun menyadari hal itu.


“Vanya, tunggu!” Arya menarik tangan Zivanya. “Kamu kenapa? Kamu ingat Valent karena baju ini?” tanya Arya.


Zivanya hanya menggeleng sembari tersenyum kecut. “Jangan bohong! Aku udah lama mengenal kamu, jauh sebelum kamu bertemu dengan mendiang Valentino!” Arya menatap Zivanya dengan intens.


“Kamu mirip dia kalau kaya gini, jujur! Aku rindu sama Bang Valent!” Zivanya tak kuasa menahan air matanya yang hendak menetes. Dan akhirnya, air mata itu tumpah.


“Menangis lah, jika itu bisa bikin rasa rindu kamu berkurang,” Arya menarik Zivanya kedalam pelukannya. Ia mengusap rambut Zivanya dengan lembut. “Kirim doa untuknya Zivanya, aku yakin Valentino melihat mu dari sana, dia pasti bangga memiliki istri yang kuat sepertimu,” Arya terus mendekap tubuh Zivanya yang bergetar. Mencoba memberi kekuatan untuk wanita yang diam-diam ia cintai itu.


“Aku gak sekuat dan setegar yang kamu kira, Ar. Aku rapuh, aku butuh kekuatan, aku butuh dukungan. Mungkin aku mampu jadi sosok Mommy yang baik untuk Nino dan Valencia, tapi sampai kapanpun aku gak akan bisa menjelma menjadi sosok seorang Daddy untuk mereka, aku gak bisa!” Zivanya berucap lirih di sela isak tangisnya.


“Aku akan bantu kamu, Van. Aku gak akan biarin kamu sendirian,” ucap Arya. Hati pria itu ikut teriris. Ia tidak tega melihat Zivanya terluka.


“Mommy!”


BERSAMBUNG!


MOHON MAAF, JIKA KARAKTER ZIVANYA TIDAK SESUAI DENGAN YANG KALIAN HARAPKAN. DAN ALURNYA JUGA, TIDAK BERJALAN SEPERTI YANG KALIAN INGINKAN!

__ADS_1


__ADS_2