PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 100


__ADS_3

“Dan, selama kamu jaga Kinanti di rumah sakit. Boleh gak kalo Abimanyu aku bawa pulang ke rumah,” kata Zivanya. Membuat mata Arya mendelik lebar.


Tanpa di izinkan oleh Danu dan Kinanti, Zivanya memanggil bayi mereka dengan sebutan Abimanyu. Yang memiliki arti dalam islam pembawa rezeki dan juga penuh dengan semangat.


“Sayang, gimana?” tanya Danu pada Kinanti.


“Apa gak merepotkan, mbak? Kan mbak juga lagi hamil, kalau mbak bawa Abimanyu apa gak bikin mbak dan Bag Arya begadang?” Kinanti merasa tidak enak hati dengan semua yang di lakukan oleh Zivanya.


Entah kenapa? Kinanti juga sepertinya suka dengan sebutan Abimanyu, nama yang di berikan Zivanya pada putranya. Ia menjadi ikut-ikuan memanggil putra kecilnya dengan sebutan Abimanyu.


“Enggak merepotkan kok, lagian ada Mei juga di ruma,” kata Zivanya. “Iya kan, Beng?” Zivanya meminta pendapat pada Arya yang ada di sampingnya.


“Ehh, iya,” kata Arya sembari tersenyum kikuk.


“Haruskah aku puasa lagi?” batin Arya. Bibirnya terus menampakan senyum masam.


“Tuh, abeng udah setuju. Jadi gimana?” tanya Zivanya pada Kinanti dan Danu.


“Boleh deh, kalau gak ngerepotin,” kata Danu.


.


.


.


“Sayang, ayolah!” bujuk Willy pada Mei.


Saat ini, mereka sedang berada di mall. Zivanya meminta Mei dan Willy untuk membelikan perlengkapan bayi Danu dan Kinanti. Sejak sampai, Willy terus saja merengek minta pulang.


“Uncle Willy sungguh tidak punya malu, seperti anak kecil. Kalah dengan Valen!” ejek Valencia yang di tuntun oleh Mei.


“Bener, uncle emang gak punya malu,” kata Mei. Mei pun menuntun Valencia berjalan meninggalkan Willy.


“Ayo lah, yank. Aku capek banget tauk! Di kantor, Bang Arya gak kasih aku istirahat sama sekali.” Rengek Willy. “Mataku juga ngantuk!”.

__ADS_1


“Sana, pulang duluan! Nanti aku sama Valen, pulang naik taxi,” kata Mei. Ia mengusir suaminya itu.


“Pulangnya sama kamu, aku mau di pijit,” kata Willy sembari berjalan mengikuti langkah istrinya dan Valencia.


“Jangan ngada-ngada, aku udah bisa baca pikiran kamu. Alasan aja minta pijit,” ucap Mei.


“Aku capek loh, yank. Kamu gak kasian sama aku, kerja terus kaya enggak,” celetuk Willy.


“Awas ya kamu! Aku laporin sama Bang Arya!” ancam Mei. Membuat Willy langsung kenciut di buatnya.


“Hehehee! Aku bercanda loh, yank,” kata Willy sembari terkekeh pelan. “Aku gak jadi pulang deh, kita keliling aja di mall ini sampe capek.”


“Uncle Willy benar-benar aneh,” guman Valencia.


Akhirnya, mau tidak mau, rela tidak rela. Willy pun mengikuti langkah Mei dan Valencia mengelilingi mall itu.


.


.


.


“Ulu-ulu, gantengnya Mommy.” Zivanya menciumi wajah merah Abimanyu dengan gemas.


“Sayang, aku gak suka kamu sebut bayi ini ganteng!” protes Arya. Ia cemburu dengan bayi kecil itu.


“Lah? Kamu kok aneh sih beng. Dia emang ganteng loh, liat deh hidungnya mancung,” kata Zivanya, membuat Arya semakin kesal.


“Dia mirip siapa?” tanya Arya. Bukan bertanya, tapi ia ingin Zivanya peka dengan apa yang ia rasakan saat ia menyebut bayi itu tampan.


“Mirip Danu kan? Masa mirip kamu, kalau mirip kamu. Curiga aku!” cetus Zivanya.


“Tuh kan! Dengan kamu sebut anak ini ganteng, berati kamu muji Danu. Di depan aku, jahat kamu!” cetus balik Arya, tampaknya ia merajuk pada istrinya itu.


“Astaga, abeng! Kamu cemburu?”

__ADS_1


“Kalau iya, emang kenapa?” Arya menatap Zivanya dengan tatapan tidak suka.


“Ulu-ulu.. Suamiku yang ganteng, jangan ngambek ih. Nanti jadi jelek,” kata Zivanya sembari mencubit pipi Arya dengan gemas.


“Iya, aku emang jelek. Gak ganteng kayak Danu! Mantan mu itu!” Arya bersungut-sungut. Membuat Zivanya pusing. Sungguh, suaminya sensitif sekali, begitu pikir Zivanya.


“Gantengan kamu kok, beng. Beneran.” Zivanya meletakan Abimanyu di dalam box bayi. Setelah itu, ia kembali ke atas ranjang. Ia memeluk lengan suaminya.


“Udah ah, sana! Aku males.” Usir Arya pada istrinya itu.


“Hiks.. Kamu jahat, beng. Kamu usir aku, ya udah aku bawa anak-anak pergi aja dari sini,” kata Zivanya.


Melihat istrinya yang menangis dan mengatakan ingin pergi, Arya menjadi panik. “Sayang, maafin aku. Aku janji gak akan ngambek lagi, aku janji gak akan ngusir kamu lagi. Kamu bilangin Danu ganteng, gak apa-apa kok. Aku gak akan marah lagi,” kata Arya. Ia begitu takut, istri dan anak-anaknya pergi meninggalkan dirinya.


“Kena kamu, beng. Emang enak,” batin Zivanya. Ia berhasil mengerjai suaminya itu. Perubahan suaminya yang suka muncul tiba-tiba, sungguh membuat ia pusing tujuh keliling. Ia bingung harus menyikapi suaminya yang super posesif juga sensitif itu.


“Aku mau pergi aja, beng. Kamu gak sayang aku sama anak-anak lagi,” kata Zivanya sembari pura-pura menghapus air matanya. Ia hendak bangkit dari ranjang itu, tapi dengan cepat Arya menahannya.


“Sayang, tolong maafin aku. Aku janji, gak akan ngulangin lagi. Aku janji, yank!” Arya memeluk tubuh istrinya dengan erat. Ia benar-benar takut kehilangan istrinya itu.


“Aku kan cuman bilang Abimanyu ganteng, kayak Danu. Tapi kan aku gak suka sama Danu, kamu lebih ganteng dari dia. Lagi pula, kan suami aku itu kamu, bukan dia,” kata Zivanya.


“Iya, iya Abimanyu ganteng kayak Danu. Aku minta maaf, ya.”


“Hehehehe! Berhasil,” Zivanya tersenyum licik di dalam dekapan suaminya itu.


.


.


.


BERSAMBUNG!


*

__ADS_1


Sembari nunggu up, bisa mampir ke karya kakak online Neng yang ada di bawah ini, ya! Di jamin bagus.



__ADS_2