PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 73


__ADS_3

Tiga hari yang lalu, Danu sudah bebas dari penjara. Dan sudah kembali ke apartemen nya.


Saat ini, pria itu tengah duduk termenung di balkon apartemennya. Ia menatap langit malam yang gelap. Hujan gerimis serta angin yang bertiup, membuat hawa dingin serasa menusuk hingga ketulang. Tapi tampaknya, rasa dingin itu tidak dirasakan oleh Danu.


“Honey, makan dulu. Aku udah siapin makan malam nya,” kata Kinanti yang baru saja datang dari arah dapur.


Diam, Danu tidak merespon lebih tepatnya lagi, ia tidak mendengar panggilan wanita yang bersatus sebagai istrinya itu.


Kinanti terus mendekat, lalu ia meyentuh lengan suaminya itu. “Bang.” Panggil Kinanti dengan pelan.


“Hah! Apa?” Expresi terkejut yang diberikan Danu membuat Kinanti mengerutkan keningnya.


“Kamu melamun, Bang?” tanya Kinanti pada suaminya itu.


“Enggak, aku gak melamun,” elak Danu. “Kamu ngomong apa tadi?” tanya Danu pada Kinanti.


“Kamu mikirin Mbak Vanya, kan?” terka Kinanti hingga membuat wajah Danu memerah.


“Kenapa kamu sebut nama dia?!” Danu hendak marah, tapi ia ingat jika wanita yang ada di hadapannya itu adalah istrinya. “Ah, udah lah!” Danu mengusap wajahnya.

__ADS_1


“Ayo makan, nanti makanan nya dingin,” kata Kinanti. Jika dulu ia akan marah jika suaminya itu melamun dan memikirkan Zivanya. Kini, ia hanya bisa bersabar untuk menggapai hati pria itu lagi. Ia akan memulainya dari awal. Mencoba menumbuhkan perasaan cinta dihati Danu untuknya.


Kinanti berjalan lebih dulu meninggalkan suaminya di balkon itu. Danu pun mengikuti langkahnya.


Kini, Danu dan Kinanti sedang duduk di kursi makan. Mereka berdua makan bersama. Saat Danu sedang menyuap nasi nya, tiba-tiba ia teringat dengan Valencia. Tepat di kursi yang ada dihadapannya Valencia duduk saat datang ke apartemen itu. Anak itu akan berceloteh dan mengajaknya bermain.


“Daddy, lihatlah! Makanan Valen habis lebih dulu. Itu artinya, Daddy Danu harus menggendong Valen berkeliling ruangan ini,” ucap Valencia sembari tersenyum dan menampakan lesung pipinya.


Tanpa di duga, Danu tersenyum kecil. Ha itu tidak lepas dari perhatian Kinanti.


“Honey, kamu kenapa?” tanya Kinanti, bukan niat bertanya. Tapi mencoba untuk menghentikan kegilaan suaminya.


“Enggak apa-apa, aku cuman kangen sama Valencia,” kata Danu dengan jujur.


“Apa anak-anak itu masih mau ketemu sama aku? Kamu kan tau sendiri, terakhir kali kita ketemu dijalan. Kita bikin anak itu menangis karena perkataan kita berdua yang menyakitkan,” kata Danu. Ia menghela napas berat. Ia begitu menyesal dengan semua kesalahan yang pernah ia lakukan.


“Coba aja dulu, kan gak ada salahnya,” kata Kinanti sembari meyendok sayur hijau yang ada didalam piring nya.


“Kamu benar, besok aku bakal ke rumah Arya. Meskipun gak menyapanya, seenggaknya aku bisa liat anak itu main di halaman rumah sama Mei.”

__ADS_1


Danu kembali memakan makanan yang ada didalam piring nya. Ia tidak lagi melamun seperti di awal.


Kinanti pun tersenyum kecut melihat perubahan wajah suaminya dengan cepat.


“Ya tuhan, jika ini hukumanku. Aku akan menerimanya dengan ikhlas, tapi aku mohon jangan kau buat suamiku pergi dari sisiku ya tuhan.” Batin Kinanti.


Kini, tidak sedikitpun Kinanti menyalahkan orang lain lagi atas apa yang ia dapatkan. Ia sudah bisa menerima bahwa semua yang ia dapatkan saat ini adalah karma atas semua perbuatan buruk yang ia lakukan di masa lalu. Ia sadar, bahwa karma itu ada dan nyata. Kepedihan jiwa yang ia rasakan adalah buah dari perbuatan yang ia tanam.


“Udah makannya?” tanya Danu pada Kinanti yang sudah menghabiskan isi piringnya.


“Udah,” ucap Kinanti. Wanita itu hendak bangkit dari duduknya untuk menbereskan bekas makan dirinya dan suaminya.


“Kamu balik aja ke kamar, biar aku yang beresin. Nanti setelah beresin ini, aku nyusul,” kata Danu dengan tiba-tiba. Membuat perasaan Kinanti begitu senang.


“Meskipun kamu udah gak cinta sama aku, tapi aku seneng bang. Karena kamu masih mau perhatiin aku.” Batin Kinanti.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG!


__ADS_2