
Satu minggu kemudian, pagi-pagi sekali suara mobil terus membunyikan klakson di pekarangan rumah Zivanya.
Zivanya yang sedang membasuh wajahnya segera berjalan menuju luar. Janda cantik itu segera berlari keluar setelah melihat siapa yang datang.
Ia berlari lalu dengan spontan memeluk tubuh Arya yang baru saja turun dari mobilnya. Wanita yang berstatus janda yang kini masih memakai pakaian tidur tipisnya itu, tengah memeluk tubuh Arya dengan erat.
Arya bingung, harus membalas pelukan itu atau membiarkannya saja. Karena Zivanya cukup lama memeluknya, ia pun memberanikan diri untuk membalas pelukan itu.
“Van, jangan lama-lama dong. Aku jadi salah tingkah nih! Kamu jangan menggoda aku terus,” bisik Arya di telinga Zivanya. Zivanya yang merasa geli setelah napas Arya meniup telinga segera melerai pelukannya.
“Maaf, abisnya aku seneng banget. Kamu datang kesini pagi-pagi sekali,” ucap Zivanya sembari tersenyum manis. “Anak-anak udah beberapa kali nanyain kamu,” sambungnya.
“Sebenarnya, yang nanyain aku, anak-anak apa Mommy nya?” goda Arya.
“Ishh.. Apaan sih!” Zivanya mencubit perut Arya dengan cukup keras.
“Auhhh.. Sakit,” Arya meringis kesakitan sambil memegang pergelangan tangan Zivanya yang jari-jarinya masih menempel pada perutnya.
Arya tidak meyangka dan tidak menduga, bahwa Zivanya yang dulunya sangat enggan untuk menyentuhnya apalagi mencium dan memeluknya. Kini, malah datang dan memeluknya tanpa di minta. Arya berpikir, mungkinkah Zivanya mulai memberinya lampu hijau, atau kini Janda itu, bersikap manis pada semua pria? Arya belum tau seperti apa semuanya saat ini.
“Ayo kita masuk!” Zivanya menarik tangan Arya memasuki rumahnya, pria itu gemas dengan tingkah Zivanya yang seakan-akan terus menggodanya.
Sedangkan di luar gerbang itu, Rendi menyaksikan semuanya.
“Siapa cowok itu?” guman Rendi. “Kenapa Mbak Vanya deket banget, bahkan meluk cowok itu segala.”
“Andai aku yang di peluk Mbak Vanya kayak gitu. Aku pasti bakal seneng banget,” Rendi terus memandang ke arah Zivanya dan Arya yang sedang tertawa bahagia itu.
Lama Rendi melihat semua itu, hingga Zivanya dan Arya menghilang dari tempat itu.
“Apa yang di lakuin mereka di dalam rumah?” guman Rendi. Jiwa kepo nya meronta-ronta. ABG itu mulai berpikir jauh akan hal yang di lakukan oleh Arya dan Zivanya.
Sedangkan Arya dan Zivanya, kini mereka tengah duduk di ruang tamu.
“Yank, tamunya gak di buatin kopi nih!” sindir Arya dengan mengatakan kata sayang.
“Yank yank yank! Yank apaan?” Zivanya memajukan bibirnya.
“Tunggu ya, aku bikinin kopi!” Zivanya bangkit dari duduknya. Belum lagi ia berjalan, Arya mencekal tangannya.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Zivanya.
“Masih ingat kan?” tanya balik Arya.
“Iya, ingat! Kopi kental pake gula merah kan?” terka Zivanya, ke arah mana pertanyaan Arya yang di lobtarkan padanya.
Arya tersenyum manis, ia tidak menyangka, bahwa Zivanya mengingat semua tentangnya, apa yang di suka dan tidak di sukai olehnya.
Zivanya segera berjalan menuju dapur. Di dapur sudah ada Mei yang sedang sibuk berperang dengan peralatan dapurnya.
“Siapa yang datang, Mbak?” tanya Mei pada Zivanya yang sedang mengiris gula merah.
“Bang Arya.” Jawab Zivanya singkat.
“Cie-cie.. Pagi-pagi hari minggu udah di apelin ama cogan,” goda Mei.
“Hust! Kamu ini!”
“Bang Arya itu baik loh, Mbak. Mei seneng banget kalo kalian bisa sama-sama,” kata Mei.
“Ngawur kamu, Mei. Mana mungkin dia mau sama janda anak dua kayak aku, jangan berharap tinggi-tinggi, nanti sakit sendiri,” ucap Zivanya. “Udah ah, aku mau kedepan lagi!” Zivanya yang telah selesai membuat kopi gula merah itu, segera melegakannya pada piring kecil dan membawanya menuju ruang tengah.
Zivanya segera meletakan kopi yang ia bawa ke atas meja di hadapan Arya. Sebelum ia memberikan kopi itu pada Arya, tak lupa ia mengaduknya. Lagi-lagi, Arya di buat makin suka dengan tingkah kecil Zivanya. Bagaimana tidak? Zivanya yang mengaduk kopi itu, sempat-sempatnya menyendok gula merah yang belum hancur, lalu meyendoknya dan memasukan ke dalam mulutnya.
“Vanya!” tegur Arya. Melototlah sepasang mata Zivanya.
“Maaf, aku gak sengaja,” ucap Zivanya sembari mengulum senyum.
“Sejak kapan sih, kamu jadi nakal begini!” Arya menarik Zivanya, hingga kini, Zivanya terduduk di pangkuan Arya.
Deg deg deg.. Jantung keduanya berdetak dengan kencang. Tubuh Zivanya seakan membeku, satu tahun lebih ia berhubungan bersama Danu, jangankan duduk di pangkuannya, di sentuh oleh Danu saja, ia sangat enggan. Tapi kenapa, ia berani mencium Arya bahkan kini, tanpa sengaja ia malah duduk di pangkuan pria itu.
Arya yang memangku Zivanya, terdiam sambil mencium aroma wangi yang berasal dari rambut janda itu. Begitupun dengan Zivanya, sendok yang ia pegang terjatuh ke lantai. Di saat keduanya sedang larut dalam pikiran masing-masing dengan posisi Zivanya yang duduk di pangkuan Arya. Tiba-tiba saja, suara yang berasal dari luar membuyarkan lamunan keduanya.
“Permisi!” teriak Rendi yang berdiri di ambang pintu. Sambil memandang ke arah Zivanya dan Arya.
“Ehh.. Ada orang,” ucap Zivanya.
Arya pun segera melepas tangan ya dari perut Zivanya dan sedikit mendorongnya agar Zivanya dapat turun dari pangkuannya.
__ADS_1
“Siapa dia? Pagi-pagi ganggu aja,” ucap Arya yang mulai sewot.
“Anak tetangga di sebelah rumah,” jawab Zivanya.
“Ehh.. Rendi, ada apa?” tanya Zivanya pada Rendi.
“Gak ada apa-apa, Mbak. Cuma iseng doang, pagi-pagi banget pintu rumah Mbak Vanya udah ke buka. Ya udah, Rendi langsung samperin aja,” kata Rendi sambil menatap Arya yang duduk di samping Zivanya.
“Sini, masuk!” panggil Zivanya.
Rendi pun segera memasuki rumah Zivanya, Ini pertama kalinya baginya masuk ke rumah itu setelah seminggu lebih Zivanya menempatinya.
“Abang ini, siapanya Mbak Vanya?” tanya Rendi yang kepo pada Zivanya.
“Dia itu-“ belum selesai Zivanya mengucapkan kata-katanya. Arya lebih dulu menjawab.
“Kenalkan, saya Arya, calon suami Zivanya!” Arya mengulurkan tangannya pada Rendi. ABG itu nampak kecewa mendengar pengakuan Arya.
Mendeliklah Zivanya yang mendengarnya, “Yank! Ini tamunya gak dibikinin minum?” Arya sengaja memanggil Zivanya dengan sebutan Yank di hadapan Rendi, karena ia tidak suka pada bocah yang ada di hadapannya saat ini.
Zivanya yang mendengar ucapan yang seperti perintah baginya itu, segera pergi menuju dapur.
Dan kini, tinggallah Arya dan Rendi yang berada di ruang tamu itu.
“Siapa nama kamu?” tanya Arya dengan ketus pada Rendi.
“Rendi, bang!” jawab Rendi sambil menundukkan kepalanya.
“Kamu suka ya, sama calon istri saya?” selidik Arya.
“Enggak, bang.” Jawab Rendi lagi.
“Syukurlah kalo gitu, kalo kamu berani-beraninya ganggu dia. Bakalan hek!” ancam Arya sambil mempraktekan cara menyembelih pada Rendi.
ABG yang berusia 18 tahun itu meneguk selavina nya dengan kasar. “Kalo gitu, saya pamit ya, bang!” Rendi segera bangkit dari duduknya dan segera pergi dari rumah itu.
Arya tertawa terbahak-bahak melihat Rendi pergi dengan wajah yang begitu ketakutan.
BERSAMBUNG!
__ADS_1