
“Jangan ucapkan itu, Mei. Aku yang minta maaf karena udah jadi suami yang gak peka sama penderitaan istri sendiri.” Willy menciumi tangan istrinya.
“Will, aku udah gak tahan lagi. Aku pengen, setelah aku pergi. Kamu cari ganti aku, ya.” Pinta Mei pada suaminya.
“Gak ada, Mei. Aku gak bisa, kamu pasti sembuh! Besok kamu bakal di operasi, pihak rumah sakit akan mendatangkan dokter dari singapore buat hilangin tumor yang ada. Kamu pasti sembuh!” Dengan penuh keyakinan, Willy terus berbicara pada Mei.
“Jangan nangis, malu sama Bang Arya dan Mbak Vanya,” ucap Mei dengan lirih.
Selama ini, Mei selalu menyembunyikan penyakitnya. Ia tahan rasa sakit itu sendirian. Sudah dua bulan ia di vonis kanker oleh dokter. Awal kejadian itu, ia mengira bahwa dirinya tengah hamil.
Flashback on
Dua bulan yang lalu, tepatnya di pagi hari. Mei merasakan sakit di bagian perutnya.
Memang akhir-akhir itu, ia sering merasakan pusing, mual dan juga sakit yang luar biasa di bagian perutnya.
Karena ia memang belum mendapat tamu bulanan di bulan itu. Ia berpikir, bahwa ia tengah hamil. Dengan perasaan senang, ia berniat akan pergi kedokter setelah mengantar Nino kesekolah.
Niat hati, ia ingin memberi kejutan untuk Willy. Tapi, hasil yang ia dapatkan sangatlah menyakitkan. Ia harus menerima kenyataan bahwa ia menderita kanker rahim.
“Selamat pagi, dokter,” sapa Mei saat ia tiba di ruangan dokter kandungan.
“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” tanya dokter wanita itu dengan ramah.
“Saya ingin periksa, dokter. Saya sudah telat datang haid selama dua minggu,” kata Mei sembari tersenyum manis.
“Oh, mau periksa,” kata dokter itu. “Apa sebelumnya sudah tes pakai alat kehamilan?” tanya dokter.
“Belum dokter,” jawab Mei. Gadis muda itu berbicara dengan jujur dan apa adanya.
__ADS_1
“Kalau begitu, mbak buang air kecil dulu.” Dokter itu memberikan wadah kecil tespeck pada Mei. “Jangan lupa alat ini di gunakan!” dokter itu membalas senyuman Mei.
Mei yang sudah melihat cara memakai alat tes kehamilan itu di youtube. Segera mencobanya.
Tak lama kemudian, Mei keluar dari kamar mandi yang ada di ruangan dokter itu.
“Gimana, mbak?” tanya dokter itu pada Mei.
Dahi Mei berkerut, “Garisnya satu, dokter. Berarti negative, ya!”
“Kalo gitu, kita lanjut periksa aja,” kata dokter sembari meminta Mei untuk berbaring di ranjang pasien.
Cukup lama dokter itu memeriksa, tapi pada akhirnya dokter itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
“Sudah selesai, mbak.” Dokter itu memaksakan senyum pada Mei.
Dokter itu menggeleng pelan. “Maaf, mbak. Mbak tidak hamil,” kata dokter.
“Kenapa mesti minta maaf, dokter? Mungkin memang belum saatnya saya hamil, lagi pula saya juga baru beberapa bulan menikah,” kata Mei.
“Bukan begitu, mbak.” Balas dokter itu. “Saya akan rekomendasikan mbak kepada dokter Ilyas, mbak bisa periksa sama dia. Ini nomer ruangannya, mbak bisa cari dokter Ilyas di lantai 3 gedung rumah sakit ini!” ujar dokter itu.
Mei bingung, niatnya ingin periksa kandungan. Tapi, kenapa malah di rekomendasikan pada dokter lain. Dengan ragu dan heran, Mei mengambil nomer ruangan yang di berikan dokter wanita itu.
Singkat cerita, Mei sudah selesai di periksa oleh dokter Ilyas. Mei begitu terkejut saat melihat dan membaca laporan lab yang di berikan dokter Ilyas.
“Gak mungkin dokter, ini semua salah,” kata Mei.
“Saya juga berharap seperti itu, mbak. Tapi inilah kenyataannya,” kata dokter Ilyas.
__ADS_1
“Kalau begitu, operasi saya secepatnya dokter!” pinta Mei.
“Maaf, mbak. Jika yang ada di dalam tubuh mbak hanya tumor, saya bisa dengan cepat mengambil tindakan,” kata dokter Ilyas. Tampak, dokter muda itu menghela napas panjang. “Tapi, yang mbak derita adalah kangker. Kangker dan tumor itu berbeda, tumor menyerang dengan lambat, sedangkan kangker, kangker sejenis tumor ganas. Saya tidak berani mengambil tindakan berbahaya tanpa izin dan sepengetahuan keluarga anda!”
“Kalau begitu, saya pamit, dokter. Terimakasih!” Mei segera meninggalkan ruangan dokter Ilyas.
Ia keluar dari rumah sakit itu dengan wajah yang lesu. Ia memasuki mobilnya dan menangis tersedu-sedu disana.
“Hiks.. Gimana ini? Ya allah, kenapa bisa kayak gini? Ini gak mungkin kan, semuanya pasti salah,” Mei terus menangis.
Setelah mengetahui penyakit yang ia derita. Mei kerap kali menyendiri, ia pun mulai bersikap kasar dan dingin pada suaminya. Ia juga sering menolak bila di pinta Nino dan Valencia untuk menemani kedua anak itu bermain.
Tidak hanya sampai di situ, ia juga sering membantah apa yang di katakan Zivanya. Ia juga sering menolak melayani suaminya, bahkan tidak segan-segan ia mengusir Willy dari hadapannya dan mengatakan bahwa Willy adalah suami yang tidak berguna.
Flashback off
.
.
.
BERSAMBUNG!
*
Sembari nunggu up, bisa mampir di karya mama online Neng yang ada di bawah ini ya!
__ADS_1