PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 46


__ADS_3

“Ren, lu kenapa sih? Lemes banget, kurang asupan gizi?” tanya salah satu teman Rendi.


Mereka heran dengan sikap Rendi yang selalu uring-uringan belakangan ini. Seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.


“Mbak Vanya hilang,” ucap Rendi. ABG itu menyandarkan pipinya di meja belajarnya.


“Hilang gimana?” dengan serentak, Adi, Nanang dan Tono berteriak di hadapan Rendi.


“Gue terkejot elah!” Rendi segera bangkit dari duduknya, lalu mengusap kedua telinganya.


“Lu bilang tadi, Mbak Hanya hilang?” tanya Tono.


“Iya, tepatnya pindah rumah. Karen insiden sore itu,” ucap Rendi.


“Insiden apa, Ren?” ketiga temannya itu segera duduk bergerombol di hadapan Rendi.


“Dia hampir di perkosa ama tukang PLN. Untung warga datang, tapi warga salah paham. Mereka mikir, Mbak Vanya sengaja berbuat mesum sama tuh tukang listrik, di saat warga mau usir Mbak Vanya dari komplek. Bang Arya datang, terus kasih liat bukti kalo Mbak Vanya gak bersalah dan malah jadi korban percobaan pemerkosaan.” Jelas Rendi.


“Terus? Gimana bisa Bang Arya punya bukti kalo Mbak Vanya mau di perkosa?” tanya Nanang dengan antusias.


“Rekaman CCTV. Dan yang paling penting adalah, Ternyata oh ternyata,” Rendi menjeda ucapannya. Membuat ketiga temannya itu menjadi kesal.


“Ternyata apa?” tanya ketiga temannya itu serentak.


“Ternyata, Mbak Vanya itu janda tajir melintir. Komplek anggrek itu, semuanya punya dia!”


“Hah! Serius?” pekik ketiga teman Rendi.


“Serius!” sahut Rendi.


“Terus, sekarang Mbak Vanya kemana?”

__ADS_1


“Di bawa Bang Arya pindah, kayanya mereka bakalan cepet-cepet kawin!” ujar Rendi dengan tubuh yang lemas.


“Apa yang kawin?” tanya seseorang yang baru saja masuk ke dalam kelas itu.


“Janda!” sahut Rendi lagi.


Adi, Nanang dan Tono segera pindah ke kursi mereka masing-masing, setelah mendengar suara yang bertanya itu.


“Janda siapa, Rendi?” tanya orang itu lagi. Yang ternyata adalah Guru.


“Ehh.. Bu guru, bukan janda apa-apa,” ucap Rendi dengan kikuk.


.


.


.


“Aku di pecat,” ucap Karyawan itu dengan lirih.


“Hah! Kok bisa? Kamu ngapain kok bisa di pecat?” tanya salah satu karyawan itu.


“Perempuan yang datang tadi. Ternyata istrinya Presdir!” timbal Karyawan itu, yang bernama Ismi.


“Is, kamu bercanda kan? Presdir kita masih singgel loh!” sahut karyawan perempuan yang sepertinya benar-benar menyukai Arya.


“Kalo aku bercanda, gak mungkin aku beresin barang-barang aku,” ucap Ismi. Ia kembali menangis, ia sangat menyesal. Terlebih lagi, mencari pekerjaan saat ini tidaklah mudah. Tapi, penyesalan nya itu tidak ada gunanya. Perkataan Arya tidak pernah main-main.


“Aku gak percaya, aku bakal buktiin sendiri!” ujar Karyawan yang menyukai Arya. Ia tidak percaya begitu saja, bahkan ia ingin membuktikan sendiri kebenarannya.


“Terserah, kalau kamu berani angkat kaki dari perusahaan ini saat itu juga!” Ismi segera menentang tasnya dan keluar dari perusahaan itu.

__ADS_1


Karyawan itu menjadi semakin tidak suka pada Zivanya. Ia malah nekat mencari keberadaan Zivanya dan berniat untuk menanyakan kebenarannya.


“Rat, kamu jangan nekat. Nanti kalau kamu di pecat juga, gimana?” karyawan lain menasehati perempuan itu.


“Gak mungkin aku di pecat, aku itu paling berpengaruh di sini. Lagian, aku juga gak kalah oke dari perempuan itu tadi.” Ratna, nama perempuan itu adalah Ratna.


“Kamu mau kemana, Rat?” tanya temannya saat melihat Ratna pergi menuju lift.


“Mau nyari dan ngasih perempuan itu, pelajaran!” timbal Ratna sembari memasuki lift.


Ia begitu nekat, tanpa memikirkan akibat yang akan dia terima.


Selama ini, ia memang selalu bertindak seenaknya kepada rekan-rekan karyawan yang lain. Terlebih lagi dengan karyawan baru, ia akan mengaku dekat dengan Arya atau petinggi perusahaan itu. Bahkan sudah berapa kali ia di peringati oleh Willy selaku asisten pribadi Arya. Arya sendiri pun sudah pernah memberi peringatan. Tapi, Ratna selalu memohon agar tidak di pecat. Dengan alasan ia menghidupi ibu nya yang sakit-sakitan dan juga adiknya yang masih sekolah. Jadi, Arya bukan mempertahankan Ratna, melainkan hanya kasian dengan pengakuan wanita itu.


Kini, Ratna sudah berada di lantai paling atas gedung itu. Yaitu lantai di mana ruangan petinggi perusahaan. Kebetulan sekali, Zivanya baru saja kembali dari Pantry. Di tangannya ada segelas kopi untuk suaminya.


“Hey, kamu!” tunjuk Ratna pada Zivanya yang berjalan ke arah ruangan Arya.


“Ya. Saya! Ada apa?” tanya Zivanya sembari membalikan tubuhnya.


“Iya, kalau bukan kamu. Memangnya siapa lagi!” Ratna menatap tidak suka pada Zivanya. “Saya mau tanya, apa hubungan kamu sama Tuan Arya?” tanya Ratna to the point.


“Saya rasa, apa hubungan saya dengan Arya. Gak ada hubungannya sama kamu,” jawab Zivanya. “Saya permisi dulu!” Zivanya kembali berjalan menuju ruangan Arya yang tinggal beberapa langkah lagi dari tempatnya berdiri.


“Tunggu!” Ratna menarik baju bagian belakang Zivanya. Tubuh Zivanya yang tidak seimbang akhirnya tertarik kebelakang. “Saya ingatkan, jauhi Tuan Arya!”


“Siapa kamu? Berani mengatur hidup Zivanya!”


BERSAMBUNG!


No bullying, nanti Neng terluka lagi!

__ADS_1


Hahahaa!


__ADS_2