PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 37


__ADS_3

Setelah selesai melakukan hubungan suami istri, Zivanya segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Aku ikut mandi, ya. Yank!” Arya mengekori istrinya yang hendak masuk ke kamar mandi.


“No! Aku mau mandi sendiri, aku gak mau kejadian tempo hari terulang lagi,” kata Zivanya. Dengan cepat ia masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu serta menguncinya. Ia tidak ingin, Arya melakukannya lagi di dalam kamar mandi seperti tempo hari.


“Yank, ayo dong!” teriak Arya dari luar sambil menggedor pintu itu.


Namun, Zivanya tidak menyahut. Hanya terdengar suara kecil Zivanya yang bernyanyi serta suara gemericik air.


Karena tidak mendapat jawaban dari Zivanya. Arya berjalan menuju ranjang, ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang yang empuk itu.


Arya meraih ponsel Zivanya yang ada di pojok ranjang itu. Ia pun melihat-lihat isinya yang ada di dalamnya. Lama, ia mengecek. Tapi tak menemukan apapun yang aneh di sana.


Arya tersenyum saat melihat nama kontak yang di simpan Zivanya. ‘Abeng Omesh’. “Sejak kapan dia ganti nama ini, di kontak ponselnya?” Arya tersenyum, karena yang ia tahu. Zivanya meyimpan kontaknya dengan nama Arya, bukan Abeng apalagi Omesh.

__ADS_1


Setelah itu, Arya beralih pada galeri foto yang ada di ponsel itu. Ia melihat satu-satu album yang ada, mulai dari foto terbaru, termasuk foto pernikahan mereka. Hingga, foto yang paling lama. Yaitu, foto beberapa tahun silam.


Arya membuka satu persatu deretan foto yang ada di galeri ponsel itu, di lihatnya di sana ada dirinya dan juga Zivanya berdua saja, saat mereka berjualan di depan taman. Namun, lebih banyak lagi foto Zivanya bersama Valentino dan juga bayi kecil Nino.


Terakhir, yang menjadi perhatian Arya adalah di mana foto mereka bertiga, di mana dirinya sedang merangkul Zivanya dan Valentino yang baru saja selesai ijab qobul. Ia tersenyum masam di sana.


“Hahaha, bodohnya aku,” gumannya. Tapi, sesaat kemudian. Ia mengingat sesuatu tentang foto itu.


“Foto ini!” Arya mencoba mengingat sesuatu tentang foto itu.


Ia mencari sesuatu, isi lemari ia keluarkan semuanya. Membuat kamar itu menjadi seperti kapal pecah.


“Kenapa aku gak nemuin apapun?” ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terus berpikir, di mana ia meletakan barang itu.


“Di lemari yang ini, pasti di sini!” ujarnya, ia kembali mengacak-acak isi lemari yang satunya lagi. Tapi, sama, ia tetap tidak menemukan barang yang ia cari.

__ADS_1


“Kemana sih, benda itu?” gerutu nya dengan kesal.


Tiba-tiba, mata Arya menatap laci kecil yang ada di bagian bawah lemari yang berada paling pojok. Ia pun segera mendekat dan duduk di lantai tepat di depan laci lemari itu. Di bukanya laci itu, lalu mengeluarkan isinya.


“Kotak perhiasan,” ucapnya pada diri sendiri. “Ini punya Zivanya dulu, tapi gak jadi aku kasih!” ia letakan kotak perhiasan itu di belakangnya.


Lalu, ia kembali mengeluarkan barang yang ada. “Ini juga bukan.” Ia mengambil kotak kecil yang terbuat dari kayu yang di ukir. Merasa tidak penting, ia pun meletakan kotak itu di samping kotak perhiasan.


Yang terakhir, barang yang di bungkus oleh plastik hitam. Tanpa menunggu, Arya segera membuka plastik itu, dan tampaklah kotak seperti kado yang di bungkus rapi dan bersampul foto pernikahan Valentino dan Zivanya, juga ada dirinya disana.


“Astaga, Beng! Kenapa jadi kayak gini?” Zivanya yang sudah selesai mandi dengan handuk putih yang melilit tubuhnya. Ia begitu terkejut melihat kamar itu begitu berantakan, ia pun segera mendekati Arya. “Apa itu, Beng?” tanyanya pada Arya yang sedang memegang kotak berwarna abu-abu dan bersampul foto pernikahan itu.


“Ini!” Arya mengarahkan kotak itu pada wajah Zivanya.


“Ya! Itu apa?” tanya Zivanya sembari menatap Arya dengan tatapan yang sulit di artikan. Yang pasti, Zivanya telah melihat, bahwa yang ada di sampul kotak itu adalah gambar dirinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG!


__ADS_2