
Perjalanan dari kota tempat tinggal Arya, Zivanya dan Willy ke kampung halaman Mei. Terbilang cukup jauh, hingga memakan 4 jam perjalanan.
Baru satu jam Zivanya menyetir, ia sudah merasakan pegal-pegal di tangannya. Arya yang sudah tidak mual lagi, meminta Zivanya menghentikan mobil itu di pinggir jalan.
“Sayang, berhenti di depan sana!” tunjuk Arya pada jalanan sepi. “Biar aku yang gantiin nyetir, lagian aku udah gak mual dan pusing lagi.”
Zivanya pun menghentikan mobil itu. Mereka berdua bertukar posisi. Dan kini, Arya lah yang menyetir. Arya melaju dengan kecepatan sedang, menyusul mobil Willy yang sudah melaju cukup jauh dari mereka.
Tiba-tiba, Zivanya merasa lapar. Ia pun menelpon Mei, dan mengatakan jika dirinya lapar. Ia meminta mobil Mei berhenti dan menyuruh mereka mencari tempat makan.
“[Mei, ajak Willy cari tempat makan, ya. Aku laper,]” ucap Zivanya pada Mei yang ada di seberang telpon.
“[Iya, mbak!]”
Setelah itu, Zivanya mematikan sambungan telpon itu. Cukup jauh mobil mereka melaju, dan mereka menemukan mobil Willy dan Mei yang berhenti di depan rumah makan lesehan yang di beri nama Warung lesehan D'green.
“Beng, itu mobil Willy!” tunjuk Zivanya. Arya pun menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Willy.
Mereka berdua turun, menyusul Willy, Mei dan kedua anak mereka.
Arya memanggil pelayan rumah makan lesehan itu. “Mbak!” panggil Arya.
Dengan centil, kedua pelayan muda datang menghampiri Arya, Willy dan yang lainnya.
“Saya pesen, ini, ini, ini, ini dan ini!” Arya menujuk semua menu yang ada di dalam daftar.
“Abeng, yang lapar kamu apa aku?” tanya Zivanya. Willy dan Mei mengulum senyum menyaksikan hal itu.
__ADS_1
“Ini bawaan bayi, sayang. Anak kamu yang pengen semua ini!” ujar Arya. Membuat senyum kedua pelayan rumah makan itu sirna.
“Kirain bujangan, ternyata yang di samping itu istrinya,” bisik pelayan 1 pada pelayan 2.
“Tapi yang satunya itu, bolehlah,” kata pelayan 2.
“Sayang, kita duduk di sana!” Mei kesal dengan dua pelayan itu. Jadi ia sengaja mengatakan kata sayang pada Willy dan menggandeng lengan kekasihnya itu.
“Kamu cemburu, sayang?” goda Willy sembari mengikuti langkah Mei.
“Hmmm.. Itu cewek genit-genit banget!” cetus Mei dengan begitu tidak suka.
Akhirnya, dua pelayan itu pergi menyiapkan semua yang di pesan oleh Arya. Arya mengajak istri, anak-anaknya, Mei dan juga Willy duduk di meja yang paling besar.
Tak lama kemudian, semua pesanan itu datang. Semua makanan yang di pesan begitu menggugah selera Arya, sambal, daging, ikan, sayuran, serta lalapan dan juga minuman dingin sudah tersaji.
“Exsekusi.. Hahahaa!” Nino terbahak, lalu ia mengambil piring lebih dulu.
“Daddy duluan!” Arya mengambil piring dan mendahului Nino mengambil centong nasi.
“Yeahh, Daddy gak mau ngalah sama anaknya,” ucap Nino pelan.
Zivanya, Willy, Mei dan Valencia hanya geleng-geleng kepala. Setelah Arya dan Nino selesai mengisi piring mereka, barulah Zivanya dan yang lain mengisi piring mereka.
“Sayang, coba lalapan ini! Seger banget,” kata Arya memberikan pucuk daun kemangi pada Zivanya.
“Daun ini sepet, Beng. Bukannya kamu dulu gak suka, ya?”
__ADS_1
“Ehemm.. Tapi sekarang enak, gak sepet kok!” ujar Arya. Mulutnya penuh dengan makanan.
“Beng, pelan-pelan dong. Malu di liatin orang,” ucap Zivanya pada suaminya itu.
“Ih, Mommy. Biarin aja, lagian kita gak ganggu mereka. Kita kan makannya bayar sendiri gak minta bayar sama mereka!” ujar Nino. Bukan Arya yang membalas perkataan Zivanya tetapi malah duplikat Valentino.
“Betul itu, Boy!” Arya mengusap kepala Nino dengan tangan kirinya.
Kedua lelaki berbeda generasi itu, tampak sangat menikmati makanan mereka.
Setelah selesai mengisi perut, mereka semua melanjutkan perjalanan. Di perkiraan tinggal satu jam lagi, mereka akan sampai di kampung halaman Mei.
“Will, nanti kalau sampai dan liat keadaan keluarga ku. Kamu jangan menghina, ya,” kata Mei sembari memandang wajah Willy yang fokus pada jalanan yang ada di hadapannya.
“Dari awal kan aku udah bilang. Kalau aku orang kampung, dan hidup miskin.”
“Terus? Emang aku pernah bilang aku mencintai kamu karena harta? Aku pun hanya anak gelandangan yang kebetulan beruntung bertemu dengan mendiang nenek Bang Arya. Makanya aku bisa hidup kayak gini, mengendarai mobil mahal, pakaian bagus dan pekerjaan yang tinggi dan juga kehidupan terjamin, jika saat itu aku tidak di pungut oleh mediang nenek. Mungkin saat ini, aku masih menjadi pengamen jalanan.” Willy menjelaskan asal usulnya pada Mei.
“Satu lagi, Mei. Kita berdua adalah bagian dari 1000 orang yang hidup susah dan kebetulan beruntung bertemu orang baik seperti mereka.” Mereka yang di maksud Willy adalah orang-orang seperti Arya dan Zivanya. Orang yang sangat baik.
.
.
.
BERSAMBUNG!
__ADS_1
Ihihihikk.. Jangan lupa ya kakak, Like, Coment, Gift seihklasnya. Biar Neng makin semangat😗