
Beberapa hari kemudian, Arya menjadi semakin sering membawa Valencia ke purasahaan. Begitu juga dengan Zivanya, pada siang hari, setelah ia menjemput Nino di sekolah. Ia kan datang ke perusahaan dengan membawa bekal makan siang untuk suami, anaknya dan juga Willy.
Seperti saat ini, setelah makan siang di perusahaan. Valencia dan Nino di temani Willy main di taman. Tentunya di temani juga oleh dua orang OB yang di tugaskan Arya untuk menjaga anaknya saat di perusahaan.
“Kalian berdua, tolong bantu Willy menjaga anak-anak saya. Tidak perlu mengerjakan pekerjaan lain, kalian hanya perlu menjaga dan mengawasi anak saya. Saya akan menaikan gaji kalian, jika kalian bekerja dengan baik,” kata Arya kepada dua orang OB.
“Baik, Tuan!” dengan perasaan bahagia. Kedua OB itu mengerjakan tugas yang di berikan Arya pada mereka.
Mereka berdua segera mengikuti Willy yang menuntun tangan kecil Valencia. Dan di ikuti oleh Nino dibelakangnya.
“Uncle, nanti kita main ke kantin yang kemaren, ya. Valen ingin dibelikan es kelapa muda lagi,” ucap Valencia pada Willy.
“Oke, gril!” sahut Willy. “Kamu diam aja, boy. Kamu mau makan apa?” tanya Willy pada Nino yang cenderung lebih pendiam dari Valencia.
“Apa saja, Uncle. Yang penting tidak membuat Nino keracunan!”
Lagi-lagi, Willy hanya di buat geleng-geleng kepala. Karena tingkah Nino.
Di satu sisi , Willy dan kedua bocah itu sedang menuju kantin perusahaan. Di sisi lain, Arya tengah merayu istrinya.
“Ayolah, yank. Sekali aja!” bisik Arya di telinga Zivanya. Kini, Zivanya tengah duduk di pangkuannya.
“Ini kantor, loh, Beng! Bukan kamar hotel,” kata Zivanya.
Arya tidak mendengarkan perkataan istrinya, ia malah menelusupkan tangannya ke dalam dres selutut berwarna merah yang di kenakan Zivanya. Hingga membuat, dres itu tersingkap dan tampaklah paha putih dan mulus Zivanya.
__ADS_1
“Beng!” Zivanya menahan tangan suaminya yang mulai beraba-raba lebih dalam lagi.
Melihat istrinya yang sudah mulai terbuai, Arya menciumi dan menj*lat punggung Zivanya. Membuat Zivanya merasa semakin kegelian.
“Emmm, Beng. Jangan di sini!” Zivanya memejamkan matanya, ia menikmati sensasi yang di berikan Arya.
Zivanya menolehkan kepalanya pada Arya yang memangkunya. Dengan cepat, Arya menyambar wajah istrinya dan mencium serta mel*mat bibir merah istrinya itu.
“Beng!” Zivanya menatap penuh harap pada Arya, agar Arya segera melakukan hal yang lebih. Padahal, sebelumnya ia menolak keinginan Arya, tapi saat ini, malah ia yang malah meminta lebih.
“Kita pindah,” bisik Arya sembari menggigit kecil daun telinga Zivanya.
Arya menggendong tubuh istrinya menuju kamar yang ada di dalam ruangan kerjanya itu. Kamar khusus untuk nya beristirahat jika ia malas untuk pulang ke rumah, saat ia masih lajang.
‘Bruk' Arya menghempaskan istrinya ke atas ranjang yang empuk. Ia mendorong tubuh istrinya itu, di angkatnya dres Zivanya.
“Hust!” Arya meletakan jari telunjuknya di bibir Zivanya. Ia ingin, Zivanya diam. Agar ia bisa memulai permainan panas itu.
Arya melucuti semua kain yang melekat di tubuh istrinya, setelah itu, pandangannya tertuju pada area bawah Zivanya.
Zivanya di buat seperti cacing kepanasan saat jari Arya bermain pada area sensitif nya.
“Ahh.. Sayang!” Zivanya mend*sah, tubuhnya terus bergerak seperti cacing. Ia merasakan nikmat yang luar biasa karena permainan Arya.
“Yank, udah basah. Aku mulai, ya,” ucap Arya sembari menarik jarinya yang berada dalam pada milik istrinya itu.
__ADS_1
Setelah itu, Arya segera melepas pakaian yang ia kenakan. Ia menaiki tubuh istrinya, bibirnya terus bergerak menjelajahi wajah dan juga area leher dan dada Zivanya. Ia menj*lat, menggigit serta mengh*sap di sana. Meninggalkan banyak jejak cinta.
Zivanya tak henti-hentinya mengeluarkan des*han indah. Membuat Arya semakin semangat. Arya segera melancarkan aksinya, ia bergerak perlahan. Dan gerakan itu makin lama makin cepat. Setelah cukup lama, Arya dan juga Zivanya mencapai puncak kenikmatan mereka.
Arya menger*ng panjang, dan menjatuhkan tubuhnya di samping Zivanya. Di ciumnya kening Zivanya dengan lembut.
“I LOVE U, makasih buat semuanya sayang,” ucap Arya.
Setelah itu, mereka berdua tertidur. Untuk anak-anak, Arya sudah menyuruh Willy mengantarnya pada Mei yang ada di rumah.
Jadi, nanti setelah Zivanya bangun. Ia tidak perlu khawatir pada anak-anaknya.
Jam sudah menujukan pukul 15 sore, Zivanya baru membuka matanya. Ia mencari keberadaan Arya, ternyata Arya sudah tidak ada. Ia pun mengusap matanya, ia tersenyum kala mengingat Arya yang menjadi semakin liar dan buas, memberi kepuasaan tersendiri untuk dirinya.
Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu segera turun dari ranjang. Ia menuju pintu kamar itu sembari menutupi mulutnya yang terus menguap.
“Beng!” Zivanya memanggil Arya dari daun pintu.
Arya dan rekan kerjanya menoleh pada sumber suara.
Zivanya begitu terkejut, ia pikir tidak ada orang lain di ruangan itu. Ia segera berbalik dan menutup pintu kamar itu. Ia takut di marahi oleh Arya. Sedangkan rekan-rekan Arya, menatap penuh tanya pada Arya. Baru pertama kalinya mereka melihat wanita bersama dengan Arya, apa lagi melihat dari penampilan wanita itu, sudah pasti mereka habis melakukan sesuatu.
“Mohon maaf, saya tinggal sebentar!” Arya pamit kepada rekan kerjanya, lalu dengan cepat ia masuk kedalam kamar. Menyusul istrinya.
BERSAMBUNG!
__ADS_1
Jangan lupa, like dan coment. Biar Neng makin cinta, ehh salah! Makin semangat. Wkwk!