
Pagi-pagi sekali, Valencia datang ke kamar Mommy dan Daddy-nya. Ia membuka pintu kamar dengan perlahan.
Arya sebenarnya sudah bangun sedari tadi, tapi setelah mendengar langkah kaki yang begitu pelan. Arya sengaja berpura-pura tidur. Ia tahu, bahwa yang datang adalah putri kecilnya.
Valencia kini telah berdiri di depan ranjang Mommy dan Daddy-nya. Ia ingin naik ke ranjang itu, tapi di lihatnya. Mommy dan Daddy-nya itu tidur dengan berpelukan.
“Harusnya, Mommy kan peluk Valen juga. Bukan cuman Daddy.” Guman anak itu, yang terdengar oleh Arya. Arya menahan tawanya.
Dengan perlahan, pupil mata Zivanya bergerak. Ia terbangun, dan mengucek matanya.
“Morning, Mommy!” Valencia yang melihat Mommy nya sudah bangun itu, segera menyapanya.
“Morning too, Princess Mommy!” balas Zivanya. Ia mengucek matanya, bibirnya tersenyum kepada putrinya itu.
Tak lama kemudian, Arya pun ikut membuka matanya. Yang memang sedari tadi pura-pura ia pejamkan.
“Morning, Princess nya Daddy!” Arya merubah posisinya, kini ia duduk di atas ranjang itu.
“Morning, Daddy!”
“Valen udah bangun dari tadi?” tanya Zivanya.
“Iya, tadinya Valen kangen sama Daddy dan Mommy. Tapi sekarang, Valen ingin di perlakukan oleh Mommy seperti Daddy. Valen ingin tidur lagi dengan di peluk erat!” ujar gadis kecil itu.
“Iri nih, ceritanya? Sekarang kan Mommy bukan hanya Mommy Valen dan Kak Nino, tapi juga Mommy nya Daddy.” Canda Arya, membuat Valencia cemberut.
“Ya ampun, Princess Daddy jelek banget kalo kaya gitu!” ujar Arya. Ia segera bangkit dan menggendong tubuh Valencia. Ia membawa Valencia ke atas ranjang. Dan menurunkannya di tengah-tengah dirinya dan Zivanya.
“Ayo kita tidur lagi!” ajak Arya pada Valencia dan Zivanya.
Akhirnya, Arya dan Zivanya menemani Valencia tidur lagi di pagi hari itu. Mereka berdua mengelus punggung putri kecilnya dengan lembut.
__ADS_1
.
.
.
Seminggu kemudian, Arya ada tugas ke luar Kota. Mungkin untuk beberapa hari kedepan, ia tidak pulang.
Jadi, Zivanya dan anak-anak akan menghabiskan hari tanpa dirinya.
“Kamu hati-hati, ya. Beng!” Zivanya memberikan coper pakaian milik suaminya.
“Kamu juga, jaga anak-anak. Aku gak akan lama, aku bakal usahain ngerjain semuanya dengan cepat. Biar aku bisa cepat pulang dan kumpul lagi sama kalian.” Arya mencium kening istrinya dengan lembut.
“Jaga hati dan jaga mata, Beng. Aku di sini nunggu kamu,” ucap Zivanya dengan lirih.
Setelah mobil Arya dan Willy sudah menjauh. Barulah, Zivanya kembali masuk kedalam rumah.
Di satu sisi, Arya dan Willy sedang dalam perjalan ke Kota sebelah. Di sisi lain, Danu yang mengetahui bahwa Arya tidak ada. Segera menjalankan rencana jahatnya.
Ia menelpon anak buahnya, dan memerintahnya untuk menculik Zivanya.
“[Kalian kerjakan tugas kalian dengan baik, setelah berhasil. Bawa dia ke Hotel permata. Ingat! Jangan sampai terluka sedikitpun!]” Danu berbicara dengan seseorang yang ada di seberang telpon.
“[Baik, bos! Kami akan melakukannya dengan baik!]” sahut anak buah Danu.
Maka, anak buah Danu segera bergerak. Mereka menunggu di depan kediaman Arya, menunggu Zivanya keluar untuk menjemput putranya di sekolah.
Dan benar saja, saat jam hampir menujukan pukul setengah 11 siang. Zivanya keluar dengan mengendarai mobilnya. Ia bersikap sangat santai, meski di hatinya merasakan keraguan untuk menjemput putranya itu. Tapi, karena Mei dan Valencia tidak ada di rumah. Jadi, mau tidak mau ia harus menjemput putranya itu.
Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat ia memasuki kawasan jalanan yang cukup sepi, sebuah mobil Jepp hitam menghadang mobilnya. Zivanya pun menghentikan laju mobilnya.
__ADS_1
“Hei! Keluar, atau kami pecahkan kaca mobil ini!” dua orang pria berpakaian hitam dan bertato di lengannya, menggedor-gedor kaca mobil Zivanya.
Zivanya ketakutan, ia keluar dari dalam mobilnya.
“Siapa kalian?” tanya Zivanya dengan tubuh gemetar. Pasalnya, satu di antara dua orang itu mengeluarkan senjata tajam.
“Jangan banyak bacot! Turuti saja perintah kami, jika kamu tidak mau mati di tempat ini!” bentak pria yang mengeluarkan senjata tajam itu.
“Siapa kalian?” Zivanya menjadi panik saat kedua orang itu mendekati bahkan mencekal pergelangan tangannya.
“Lepasin saya!” teriak Zivanya. Ia terus berontak saat di tarik menjauh dari mobilnya.
“Nyusahin aja, buat dia pingsan aja. Biar kita gak repot, kalo dia terus berontak begini. Bisa-bisa aku khilaf dan bikin dia terluka,” kata salah satu dari kedua orang itu. “Bos kan bilang, kita gak boleh buat nih perempuan lecet sedikitpun!” Sambungnya.
Pria itu pun memukul tengkuk Zivanya. Hingga membuat Zivanya hilang kesadaran. Setelah Zivanya hilang kesadaran, barulah mereka membawa Zivanya ke Hotel Permata yang telah di sebutkan oleh Danu.
BERSAMBUNG!
Ciee.. Bang Danu bertindak. Culik Neng aja dong, Neng mah ikhlas!
Wkwkwkwk!
.
.
.
Yang baik, bantuin Neng dong. Mampir di karya baru yang ada di bawah ini!
Like, coment ya! Tekan tanda LOVE juga boleh.
__ADS_1