
“Oh, jadi kamu mau selingkuh! Iya, bang?” teriak Mei yang baru saja turun dari lantai atas karena merasa haus.
Willy menatap kesal pada istrinya yang berdiri di anak tangga. “Siapa yang mau selingkuh?” Willy bangkit dari karpet tempatnya duduk dan mendekati istrinya.
“Kamu! Aku denger, kamu bilang masih banyak perempuan di luar sana!” Mei berbicara dengan meninggikan suaranya. Membuat Arya dan Zivanya ikut terkejut di buat nya. “Aku juga udah capek sama kamu yang gak bisa di andelin!” cetus Mei. Wajahnya terlihat memerah.
“Mei! Gak gak boleh ngomong kaya gitu, dia suami kamu loh!” tegur Zivanya. Zivanya ikut bangkit dari duduknya bersama Arya.
“Udah deh, mbak. Mending diem, suara mbak bikin Mei pusing!”
Plak! Willy yang mulai kesal, tiba-tiba menampar wajah Mei. Arya dan Zivanya yang menyaksikan menjadi begitu kaget. Mereka hanya diam saja, dan melihat perdebatan sepasang anak manusia itu.
“Kamu mukul aku, Will? Kamu nampar aku!” Mei memegangi wajahnya yang terasa panas.
“Gak baik bicara kayak kasar kayak gitu sama Mbak Vanya. Ingat siapa kamu!” tunjuk Willy. Pemuda itu tampaknya benar-benar telah habis kesabaran. “Hampir sebulan ini, aku selalu sabar sama sikap kamu yang keterlaluan. Tapi, jika kamu berani ngomong kasar sama Mbak Vanya ataupun Bang Arya, aku gak akan pernah terima!”
“Kamu jahat, Will. Aku benci sama kamu!” Mei memukuli dada Willy dengan membabi buta.
“Sekarang kamu mau apa? Mau cerai? Kalau emang itu mau kamu, aku akan ceraikan kamu!”
__ADS_1
“Willy, semua bisa di omongin baik-baik. Jangan mengambil keputusan di saat kayak gini!” Arya ikut angkat bicara.
“Aku manusia, bang. Kalau memang selama ini dia gak beneran suka sama aku. Harus bilang dari awal, jangan permainkan Willy kayak gini.”
“Mau kamu sekarang apa, Mei? Kamu mau kita pisah? Kamu gak suka kan liat aku, kamu gak suka kan deket aku! Sekarang ayo, aku antar kamu pulang ke orangtua kamu. Biar mereka tau kelakuan kamu!” Willy menarik paksa pergelangan tangan Mei menaiki anak tangga rumah itu.
“Aku gak mau pulang! Aku mau di sini aja!” Mei memberontak, ia minta di lepaskan pada Willy. Tapi, Willy yang benar-benar sudah habis kesabaran tidak mendengarkan istrinya.
Sesampainya di kamar, Willy mendorong tubuh Mei ke atas ranjang. Dengan kasar dan tidak sabaran, Willy mengambil tas dan mengeluarkan pakaian Mei dari dalam lemari. Ia memasukan pakaian Mei kedalam tas dengan asal.
Mei yang melihat suaminya mengamuk, menjadi takut. Ia menangis sembari berteriak dan bangkit dari ranjang itu.
“Beng, gimana ini?” Zivanya begitu takut. Saat ini, ia sedang di tuntun Arya menaiki anak tangga rumah itu.
“Aku juga gak tau, mereka juga masih sama-sama muda. Emosi mereka masih suka meluap-luap,” kata Arya.
Benar yang di katakan Arya. Bahwa umur Mei dan Willy memang masih muda, jauh jika di bandingkan dengan Zivanya. Umur Mei baru menginjak usia 22 tahun, sedangkan Willy hanya lebih tua dua tahun dari umur Mei sendiri.
“Aku udah gak tahan, Mie. Aku ini manusia, yang setiap hari kamu usir dan setiap malam selalu kamu suruh tidur di lantai. Salah gak salah selalu kamu marahi, aku capek!”
__ADS_1
Willy yang sedang memasukan pakaian istrinya itu, menoleh kebelakang. Karena, ia tidak mendengar lagian suara isak tangis istrinya itu.
Alangkah terkejutnya dia, saat berbalik. Mei tergeletak di belakangnya bahkan di lantai itu sudah terdapat cairan berwarna merah.
“Mei!” pekik Willy dengan kencang. Ia segera melempar tas yang ada di tangannya dan segera menghampiri istrinya yang sudah tidak sadarkan diri itu.
.
.
.
BERSAMBUNG!
*
Sembari nunggu up. Bisa mampir ke karya kakak online Neng yang ada di bawah ini, ya!
__ADS_1