
Setelah acara akad nikah di pagi hari, siang harinya di langsung kan acara resepsi. Resepsi di adakan di resort hotel VALE'S GRUP. Hotel bintang lima milik anak-anak Zivanya.
Saai ini, Mei dan Willy duduk di kursi pelaminan. Mereka di apit oleh kedua orangtua Mei, Arya dan Zivanya.
“Beng, aku ngantuk,” bisik Zivanya pada suaminya. Pasalnya, memang dari pagi Zivanya tidak beristirahat. Apa lagi, dari siang hingga sore hari itu. Tamu undangan terus berdatangan hingga membuat Zivanya harus duduk berdiri duduk berdiri, membuat wanita hamil itu tidak berhenti bergerak.
“Aku antar ke kamar, ya,” kata Arya.
“Tapi, Willy gimana?” Zivanya tidak enak hati meninggalkan Willy sendirian. Tidak ada yang menemani pemuda itu di kursi pelaminan.
“Udah, biarin. Nanti setelah antar kamu, aku balik kesini lagi!” ujar Arya. “Will, abang antar mbak mu dulu, ya.” Pamit Arya pada Willy.
“Iya, bang,” kata Willy.
“Kenapa?” tanya Mei pada Willy.
“Mbak Vanya, kecapekan kayaknya. Dari pagi gak istirahat,” kata Willy.
“Aku juga capek,” rengek Mei. Ia menempelkan kepalanya pada bahu Willy.
“Nanti malam, aku pijitin,” kata Willy sembari mengangkat kepala Mei dan mencium hidung Mei dengan singkat.
“Bener, ya! Awas kalo bohong, aku tagih!”
“Iya, beneran.”
.
.
.
Di dalam kamar hotel Arya dan Zivanya. Saat ini Zivanya sudah duduk di tepian ranjang, Arya membantunya untuk melepaskan sepatunya.
“Capek?” tanya Arya sembari melepaskan sepatu yang di pakai oleh Zivanya. Dan Zivanya mengangguk.
“Ayo baringan, biar aku pijitin kakinya,” kata Arya. Ia menyuruh istrinya itu untuk berbaring di atas ranjang.
“Beng, bajunya boleh ganti ganti gak?” tanya Zivanya. Ia sangat tidak nyaman memakai kebaya seperti itu.
__ADS_1
“Boleh, tunggu sini. Aku ambil baju ganti di tas dulu,” ucap Arya. Ia pun berjalan ke pojok ranjang. Ia membuka koper pakaian dirinya dan Zivanya. Ia mengambilkan baju gaun pendek untuk istrinya.
“Gak mau ini, beng! Baju tidur aja,” tolak Zivanya.
“Sayang, ini masih sore. Nanti kalau tiba-tiba kamu pengen keluar gimana?”
“Aku gak mau keluar, aku pengen tidur,” kata Zivanya. Ia merengek seperti anak kecil. Entah karena lelah, atau karena bawaan bayinya. Yang pasti, saat ini ia bersikap sangat manja.
“Iya, iya aku ambilkan piyama tidurnya.” Arya mengembalikan baju gaun yang ada di tangan nya. Ia mengambil piyama tidur untuk istrinya.
Zivanya meminta Arya membantunya melepaskan kebaya yang ia pakai. Hingga membuat Arya menelan ludah saat melihat dada besar istrinya itu.
“Yank, ubur-ubur nya bangun. Gimana dong?” bisik Arya.
“Gak tau, sana-sana! Aku capek!” Zivanya mendorong wajah suaminya yang berada tepat di ceruk lehernya.
Karena penolakan istrinya, Arya pun hanya bisa menahan hasratnya. Ia tidak ingin memaksakan kehendak pada istrinya yang tengah hamil muda itu.
Ia membantu istrinya memakai piyama tidur, setelah itu ia memijat kaki istrinya dengan lembut.
“Abeng,” panggil Zivanya dengan pelan.
“Gosokin pinggangnya aja, pegel, beng,” ucap Zivanya. Arya pun segera menggosok pinggang istrinya itu.
Sekitar lima belas menit kemudian, tidak ada lagi pergerakan dari istrinya. Yang tandanya, istrinya itu sudah terlelap. Arya pun memilih untuk turun dari ranjang king size itu, ia menyelimuti tubuh istrinya dan membiarkannya istirahat dengan nyaman. Setelah itu, ia keluar dari kamar hotel menuju aula tempat resepsi pernikahan Willy dan Mei.
“Bang, mana Mbak Vanya? Kenapa di tinggal sendirian?” tanya Willy saat Arya kembali duduk di samping kirinya.
“Udah tidur, pinggang dan kakinya pegal,” kata Arya.
“Gara-gara mengurus aku, kalian semua jadi susah dan kecapekan,” ucap Willy dengan perasaan tidak enak hati.
“Sekali lagi ngomong kaya gitu, hati-hati kepalan tanganku ini melayang ke bibir dower mu itu!” Arya mengepalkan tangannya dan mengarahkannya pada adik angkatnya itu.
“Hehehee, enggak lagi, bang. Makin lama abang jadi semakin seram,” kata Willy.
“Hust!” panggil Arya pada Willy yang sedang sibuk dengan tamu.
“Kenapa, bang?” tanya Willy.
__ADS_1
“Tuan Arkan dan istrinya datang,” kata Arya sembari menujuk pada sepasang tamu undangan yang begitu tampan dan cantik.
“Selamat sore, Tuan Arkan dan istri!” sapa Arya dengan ramah.
“Selamat siang TUAN ARYA!” Pria yang bernama Arkan itu menekan kata Tuan Arya. Ia mendelik kepada Arya, karena ia begitu tidak suka di sebut dengan sebutan TUAN.
Sedangkan istri dari Arkan, hanya tersenyum manis. “Selamat, ya. Semoga jadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah,” ucap Laras istri dari Arkan. Ia tampak mencium pipi Mei dan memeluknya.
“Amin, makasih doanya,” kata Mei.
“Istrimu, mana Ar?” tanya Arkan kepada Arya.
“Sudah istirahat, maklum sedang hamil muda. Jadi, bawaannya cepat lelah,” kata Arya. “Kalian gimana? Apa istrimu udah hamil?” Arya balik bertanya.
Setelah mendengar pertanyaan Arya, raut wajah Arkan dan istrinya seketika berubah. Tampak, sepasang suami istri itu saling melempar pandang.
“Belum, mungkin belum rezekynya,” ucap Laras dengan cepat tapi bernada lambat.
Setelah cukup lama berbincang kepada Arya dan sepasang pengantin itu. Arkana dan istrinya berpamitan pulang.
.
.
.
BERSAMBUNG!
*
ARKANA SUDRAJAT & KIRANA LASARATI akan meluncur insya allah di pertengahan bulan ini, ya! Dengan judul buku “Suamiku CEO Impoten”
Neng kasih tahu lebih dulu, biar gak bertanya siapa itu Arkan dan Laras.
Arya : Bilang aja kalo mau promosi buku baru, Neng!
Willy : Neng emang gak punya malu!
Danu : Hust! Gak boleh kaya gitu, Neng Syantik adalah yang terbaik! Wkwkwk
__ADS_1