PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 40


__ADS_3

“Sayang, aku ingin bicara serius,” kata Arya sambil mengusap rambut Zivanya yang bersandar di dadanya. Kini, mereka berdua sedang duduk di lantai dengan Arya yang bersandar pada kaki ranjang, sedangkan Zivanya bersandar pada Arya.


“Bicara apa?” Zivanya mendongakan wajahnya pada wajah Arya.


Arya mencium kening Zivanya. Setelah itu, ia mengutarakan niatnya. “Aku ingin, mengajak kau dan anak-anak mengunjungi makam mendiang Valentino!” ujar Arya.


“Kapan?” tanya Zivanya.


“Besok siang, apa kamu mau?”


“Mau, udah lama juga aku gak kesana sama anak-anak,” kata Zivanya sembari mengangguk cepat.


“Ya udah, besok pagi-pagi sekali kita berangkat,” ucap Arya lalu ia mendorong sedikit kepala Zivanya, lalu bangkit dari lantai itu.


“Mau kemana, Beng?” tanya Zivanya yang melihat suaminya berjalan ke arah luar kamar.


“Mau cek anak-anak, udah tidur atau belum.” Arya berjalan keluar dari kamar dan menuju kamar kedua anak sambungnya itu.


Zivanya menatap punggung Arya yang menjauh. Ia bahagia sekali, ternyata Arya sangat mencintainya dan juga menyayangi kedua anaknya.


“Terimakasih TUHAN, kau telah hadirkan dia untukku. Seorang imam pengganti untukku dan anak-anakku. Imam yang baik dan nyaris sempurna.” Batin Zivanya. Setelah itu, ia beringsut dari lantai dan berpindah ke atas ranjang. Ia membaringkan tubuhnya, menunggu suaminya kembali dari kamar anak-anak.


Sedangkan Arya yang berada di kamar anak-anak. Kini, ia sedang menyelimuti tubuh Valencia. Ia mengecup kening gadis kecil itu dengan lembut.


“Tidurlah yang nyenyak, sayang,” ucap Arya dengan lirih di telinga Valencia.


Setelah itu, ia beralih pada Nino. Putra sambungnya itu telah tertidur dengan tubuh meringkuk tanpa selimut. Di dalam dekapan anak itu, ada sebuah buku pelajaran. Arya mengambilnya, lalu meletakkannya ke atas meja belajar.

__ADS_1


“Tidurlah putra, Daddy. Daddy sangat menyayangi kalian, Daddy doakan Nino akan menjadi pria yang hebat seperti Daddy Valentino. Cerdas dan hebat.” Arya mengusap pucuk kepala Nino, tak lupa, ia juga mengecup kening anak itu.


Setelah itu, Arya mematikan lampu dan keluar dari kamar anak-anak menuju kamarnya.


Zivanya yang mendengar suara langkah kaki Arya mendekat, memilih berpura-pura tidur. Arya naik ke atas ranjang, lalu ia menyibak selimut yang menutupi wajah istrinya.


Ia tersenyum, tangannya bergerak ke arah wajah Zivanya. Di usapnya wajah itu, lalu ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening Zivanya.


“I love you, Zivanya. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, hari ini, esok, dan selamanya. Kau adalah wanita satu-satunya yang aku inginkan, wanita yang aku impikan dalam tidurku, wanita yang selalu ku ingat saat aku terbangun dari tidurku, kau pijar dalam gelapku, sayang. Kau hidupku!,” Arya berkata lirih di hadapan Zivanya. Ia terus mengusap lembut wajah istrinya.


“Aku berjanji, akan membuatmu dan anak-anak bahagia dengan caraku. Aku menyayangi kalian,” kata nya.


“Beng!” tiba-tiba Zivanya membuka matanya, lalu memeluk leher Arya dengan erat.


Arya terperanjat kaget, ternyata istrinya belum tidur. “Sayang, kamu belum tidur?” tanya Arya dengan kikuk.


“Belum, tadi aku nunggu kamu. Tapi, lama,” ucap Zivanya. “Makasih karena udah mencintai aku, menyayangi anak-anakku. Aku beruntung memiliki kamu.”


.


.


.


Keesokan harinya, Arya, Zivanya dan anak-anak sudah siap. Mereka hendak mengunjungi makam mendiang Valentino.


“Kalian sudah siap, Boy, Girl?” tanya Arya pada kedua anak sambungnya.

__ADS_1


“Sudah, Dadd,” jawab Nino dan Valencia bersamaan.


“Kalau begitu, kita berangkat sekarang.” Arya membuka pintu mobil bagian belakang dan menyuruh kedua anaknya untuk masuk.


Setelah kedua anaknya masuk dan duduk di kursi. Arya menutup pintu mobil itu, ia pun beralih pada kursi kemudi. Di samping kursi kemudi, sudah ada Zivanya.


“Kita berangkat sekarang, ya!”


Zivanya mengangguk, Arya pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Lokasi pemakaman di mana mendiang Valentino di makamkan cukup jauh dari kediaman Arya. Jadi, untuk sampai ke tempat itu. Membutuhkan waktu hampir satu jam.


“Mom, kenapa terasa lama sekali sampai nya? Kasian Daddy Valent, pasti dia lama menunggu,” kata Valencia dengan polosnya.


“Jarak dari rumah Daddy ke tempat Daddy Valentino di makamkan cukup jauh, sayang. Beda dari rumah kita yang lama, jika dari rumah lama. Jaraknya cukup dekat.” Jelas Zivanya.


Memang benar, jarak dari rumah Arya ke rumah Zivanya yang lama membutuhkan waktu sekitar 25 menit dengan jarak tempuh sedang. Sedangkan jarak tempuh antara rumah Zivanya ke pemakaman membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Jadi, jarak antara rumah Arya dan pemakaman Valentino memakan waktu sekitar satu jam perjalanan.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Mobil Arya berhenti di depan pemakaman umum di mana mendiang Valentino di makamkan.


“Ayo, Daddy!” Valencia menarik tangan Arya menuju ke arah pemakaman.


“Jangan lari-lari, Valencia!” ujar Zivanya.


“Valen sudah tidak sabar ingin memeluk Daddy Valent dan memberi tahu, bahwa sekarang Valen sudah punya Daddy yang nyata,” kata Valencia dengan gembira.


Kegembiraan itu, membuat perasaan Arya dan Zivanya kembali bersedih. Mereka kembali teringat dengan kepergian Valentino yang tragis dan tiba-tiba itu.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


Jangan lupa, jejaknya! Like, coment, gift juga boleh. Hihihik!


Beri kritik dan saran ya! Banyak Typo bertebaran dan tulisan yang berantakan, maafkan Neng yang baru belajar ini!


__ADS_2