PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 66


__ADS_3

Setelah sampai di rumah. Zivanya segera mengeluarkan gorengan suaminya dari dalam kantong plastik dan meletakkan gorengan itu didalam piring.


“Sayang, ini gorengan kamu!” Zivanya meletakkan gorengan itu di atas meja makan. Tepat dihadapan Arya.


Arya hanya menatap gorengan itu sekilas, dan fokus kembali pada game yang ada di ponselnya.


“Abeng!” Zivanya menghela napas Karas. Suaminya itu kini berubah menjadi sosok yang menyebalkan.


“Iya, apa sih! Yank?” Arya meletakan ponselnya. Lalu, ia menatap wajah istrinya.


“Itu makan gorengan nya, nanti makin dingin. Kan gak enak,” kata Zivanya. Ia menujuk gorengan yang ada di hadapan suaminya itu.


“Kamu nyuruh aku makan gorengan lagi? Kamu pikir aku apa?” Arya menatap wajah istrinya itu. “Tadi aku udah makan banyak kan di sana?”


“Kalau udah makan banyak, kenapa Abeng beli lagi sebanyak ini?” gerutu Zivanya.


“Kan siapa tahu pengen lagi,” kata Arya.


“Astaga, Beng!”


Zivanya nampak frustasi dengan sikap baru suaminya itu. Akankah suaminya itu akan bersikap aneh selama ia hamil?


Zivanya menyimpan sepiring gorengan itu kedalam lemari, setelah itu ia pergi meninggalkan Arya sendirian.


Karena merasa lelah, Zivanya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tapi, saat ia baru saja terlelap. Putri kecilnya masuk ke dalam kamarnya dan membangunkannya.


“Mommy, bangun!” Valencia mengguncangkan lengan Mommy nya itu.


“Mommy, bangun. Lihatlah Daddy!”


Zivanya kembali membuka matanya, ia melihat putrinya yang berdiri disamping ranjangnya itu.


“Ada apa sayang?” tanya Zivanya pada putrinya.


“Ayo, Mom. Lihat Daddy!” Valencia minta Mommy nya itu turun dari ranjang dan keluar dari kamar itu.

__ADS_1


“Daddy kenapa?” tanya Zivanya. Ia segera turun dari ranjang dan mengikuti langkah putrinya.


Saat tiba dilantai bawah, Valencia menarik Mommy nya ke arah dapur. “Lihat, Mom!” tunjuk gadis kecil itu pada meja dapur.


Zivanya menggelengkan kepalanya. Ia mendekati suaminya yang sedang tidur mendengkur di kursi dan kepalanya ia sandarkan dimeja makan.


“Ya ampun, Beng!”


“Mom, kenapa Daddy jadi aneh dan malas begini?” tanya Valencia dengan heran.


“Daddy aneh seperti itu, karena adik yang ada di dalam perut Mommy sedang nakal,” kata Zivanya dengan pelan kepada putrinya.


“Adik?” Valencia nampak berpikir, jari telunjuk nya ia letakan di dagunya. “Valencia akan punya adik?” tanya anak itu.


“Iya, Valen akan segera menjadi kakak juga seperti Kak Nino!” ujar Zivanya.


“Horee!” teriak Valencia dengan girang.


“Sana, Valen mandi dulu. Hari sudah sore, setelah itu. Ajak Aunty Mei dan Kak Nino beli ice cream yang banyak,” kata Valencia kepada putrinya itu.


Valencia segera pergi meninggalkan Mommy dan Daddy-nya yang sedang tidur itu.


“Beng, bangun! Ayo pindah,” kata Zivanya dengan pelan.


Arya mengejapkan matanya, ia menatap wajah Zivanya yang ada di hadapannya.


“Sayang, badanku capek,” kata Arya dengan pelan.


“Pindah kekamar, nanti aku pijitin,” Zivanya mengusap rambut suaminya.


Dengan lesu, Arya bangkit dari duduknya. Ia berjalan menaiki anak tangga, dan masuk ke dalam kamar. Zivanya mengikutinya dari belakang.


Arya menghampakan tubuhnya ke atas ranjang, Zivanya ikut duduk. Ia memijat kaki suaminya dengan pelan. “Yank, punggungnya aja,” kata Arya. Ia membuka kancing kemejanya dan membuka kemeja itu.


Cukup lama Zivanya memijat punggung Arya. Hingga akhirnya, Arya mengatakan sudah cukup. “Udah, Yank.” Arya membalikan tubuhnya menghadap Zivanya. Ia tersenyum pada istrinya itu.

__ADS_1


“Aku bisa baca pikiran kamu tau, Beng! Jadi gak usah senyum mesum kayak gitu.” Zivanya mencebikan bibirnya. Ia sudah paham dengan gelagat suaminya.


Mendengar perkataan istrinya, Arya segera menarik tubuh itu ke atas tubuhnya. “Beng, pintunya!” Zivanya menoleh pada pintu kamar yang sedikit terbuka.


Arya menukar posisi, kini Zivanya berada dibawah Kungkungan tubuhnya. Ia bangkit perlahan dari ranjang itu dan berjalan menuju pintu kamar. Di kuncinya pintu kamar itu dan segera kembali keatas ranjang.


“Sayang..” Arya menaiki tubuh istrinya dan mencium bibirnya dengan singkat.


“Beng, mainnya pelan-pelan, ya. Ingat, ada anak kamu disini.” Zivanya mengarahkan telapak tangan Arya pada perut ratanya.


“Ya, sayang!” Arya mengusap perut itu dengan lembut. Setelah itu, ia menciumi wajah Zivanya. Zivanya mengalungkan tangannya di leher Arya.


Sepasang anak manusia itu berciuman dan membelitkan lidah, serta bertukar air liur.


Setelah merasa cukup puas, Arya menghentikan ciuman panas itu. Kini, ia beralih pada leher dan area dada istrinya. Ia mengecup, menj*lat serta mengh*sap disana. Membuat Zivanya mengeluarkan suara indah.


“Auchh.. Beng!” Zivanya menggeliat dan mengeluarkan rintihan kecil saat Arya mengh*sap pucuk bukitnya.


“Buka semua, ya. Yank!” bisik Arya, tangannya sibuk melepas seluruh kancing kemeja yang di kenakan istrinya itu.


Zivanya mengangguk dengan mata terpejam. Arya segera melucuti semua kain yang melekat pada tubuh istrinya. Kini, tubuh istrinya sudah polos sepolos bayi.


Setela istrinya polos, Arya segera melepas span hitam yang ia kenakan. Ia segera kembali menaiki tubuh istrinya, ia menciumi wajah dan leher istrinya dengan buas.


“Ahh..” des*h panjang Zivanya. Tanpa aba-aba, Arya segera memasukan adik kecilnya kedalam sarang berlendir istrinya itu.


“Beng, pelan-pelan,” ucap Zivanya dengan lirih. Mendengar istrinya, Arya segera memelankan pacuan kudanya.


Setengah jam kemudian, Arya dan Zivanya sama-sama mencapai puncak kenikmatan mereka.


“Aaarrkkhh..” er*ng panjang Arya. Setelah melepaskan pelurunya didalam milik Zivanya dan tubuhnya ambruk kesamping. Di kecupnya pelan kening istrinya. “Makasih, sayang. Kamu udah memberi aku segalanya, cinta, kasih sayang, perhatian, dan kebahagian yang tidak ada bandingannya.” Arya memeluk tubuh istrinya itu dengan erat.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG!


__ADS_2