
Setelah membereskan meja makan, Danu segera menyusul Kinanti yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Di lihatnya, istrinya itu tidur meringkuk tanpa selimut. Ia pun menyelimuti tubuh istrinya itu.
Danu menaiki ranjang itu, ia merebahkan tubuhnya disamping Kinanti. Ia segera memejamkan mata, tak lama kemudian ia pun terlelap.
Kinanti yang sudah mendengar suara deru napas Danu yang naik turun beraturan, segera membuka selimutnya. Ia pun duduk di hadapan suaminya itu.
“Aku senang kamu masih mau bertahan, sayang. Meskipun kamu bertahan bukan untuk hubungan kita, melainkan hanya untuk anak yang aku kandung. Aku udah sangat bersyukur,” kata Kinanti dengan lirih.
“Semoga cinta yang hilang akan segera hadir kembali.”
Keesokan harinya, Danu yang terbangun lebih dulu dari Kinanti. Ia segera beranjak dari atas ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Ialu segera membersihkan dirinya dan berganti pakaian.
Ia terlihat sangat tampan dengan kemeja dan celana jeans putih yang ia kenakan, dan luar kemeja putih itu, ia lapisi dengan jaket. Ia tampak sersenyum cerah di depan cermin. Membuat Kinanti yang baru saja terbangun tertegun.
“Honey, mau kemana pagi-pagi banget udah rapi aja?” tanya Kinanti.
Seketika, senyum dibibir Danu luntur. Ia pun beralih menatap Kinanti yang baru saja bangun tidur. “Aku mau ke rumah Arya, seperti yang kamu bilang semalam,” kata Danu sembari membenarkan jaketnya.
“Oh.” Seantusias itu kah suaminya? Pikir Kinanti.
“Emm.. Aku berangkat sekarang, ya. Taxi yang aku pesen, udah di depan soalnya. Kamu jangan lupa makan,” kata Danu sembari berjalan keluar dari dalam kamar itu.
Sepeninggalan Danu, Kinanti menangis meratapi nasibnya. “Sesakit ini kah Tuhan? Apakah sakit seperti ini yang dirasakan oleh Mbak Vanya saat itu?” Kinanti memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. “Kalau tau begini sakitnya, aku akan berpikir berulang kali untuk menyakiti orang lain. Rupanya begini rasanya tidak di perdulikan, sakit sakit sekali Ya Tuhan!”
.
.
.
Saat ini, Danu yang menggunakan jasa Taxi online. Sudah tiba di hadapan gerbang kediaman Arya. Ia menatap kearah rumah itu, dilihatnya tidak ada siapa-siapa di luar rumah besar itu.
__ADS_1
Danu terus menunggu, lebih satu jam ia berada di luar gerbang itu. Tiba-tiba saja, suara Valencia terdengar. Anak itu keluar bersama dengan Nino dan Mei.
“Aunty, lihatlah! Kakak curang.” Valencia menunjuk Nino yang lebih dulu mengeluarkan sepedanya.
“Nino, tadikan sudah janji. Barengan kan!” ujar Mei.
“Hahaha! Iya, iya maafin Nino,” Nino terbahak karena berhasil membuat adiknya menjadi kesal.
Kedua anak itu bermain sepeda dengan di temani oleh Mei. Kadang tertawa dan kadang menjerit, membuat Danu yang berada di luar gerbang tersenyum kecil.
Tiba-tiba, mata Mei memandang ke arah gerbang. Ia terkejut saat melihat ada Danu disana. Ia pun menatap Danu dengan tatapan tidak suka. “Ngapain sih tu orang ada disana? Jangan bilang mau berbuat jahat.” Guman Mei, gadis itu segera berjalan kearah gerbang dan hendak mengusir Danu.
“Ngapain kesini? Mau nyuri atau mau nyulik Valen dan Nino?” tuduh Mei. Membuat Danu terperanjat kaget.
“A-a-aku, a-a-aku cuman mau liat mereka aja,” kata Danu dengan gugup. Ia takut, Mei akan meneriakinya sebagai penculik.
“Udah liat kan? Ya udah sana pergi!” usir Mei.
“Iya,” kata Danu. Pria itu hendak melangkah pergi, tapi siapa sangka jika Valencia yang melihat dirinya segera berteriak.
Danu yang baru saja melangkah tiga langkah dari tempatnya, segera berbalik. Ia melihat Valencia berlari ke arah gerbang.
“Dedek jangan!” teriak Nino yang ikut mengejar adiknya itu.
“Aunty, buka pagarnya. Biarkan Daddy Danu masuk!” pinta Valencia.
Mei diam saja, dia tidak mau menuruti permintaan gadis kecil itu.
“Kakak, tolong katakan pada Aunty Mei. Suruh buka pagar ini, Valen ingin bermain dengan Daddy Danu,” pinta Valencia pada Kakaknya.
“Dia bukan Daddy kita, dia orang jahat,” kata Nino.
Menangis lah Valencia mendengarnya. “Ayo kita masuk aja ke rumah!” Nino menarik tangan adiknya itu, agar menjauh dari gerbang rumah.
__ADS_1
“Huwa.. Daddy Danu!” Valencia menangis, ia terus melihat kearah Danu yang berdiri di luar gerbang.
“Mei, tolong biarkan aku berbicara sebentar saja dengan Valencia. Aku mohon.” Danu memasukan tangannya kedalam sela-sela gerbang rumah itu.
Mei tidak mau mendengarkan perkataan Danu, ia mengikuti Nino yang berjalan sembari menarik pergelangan tangan Valencia.
“Hu..hu..hu.. Kakak dan Aunty Mei jahat, Valen tidak ingin lagi bermain sama kalian,” kata Valencia. Gadis kecil itu terus menangis.
Saat sampai di depan pintu rumah, ada Zivanya dan Arya yang hendak keluar. Mereka begitu terkejut melihat wajah kesal Nino dan Mei. Dan lebih terkejut lagi dengan keadaan Valencia yang menangis.
“Ada apa ini, Mei?” tanya Zivanya.
“Ini, Mom. Dedek mau ketemu sama orang jahat yang ada di luar gerbang sana!” tunjuk Nino ke arah gerbang rumah itu.
“Orang jahat siapa?” tanya Zivanya. Sedangkan Arya, ia segera menggendong tubuh kecil Valencia.
“Ada Daddy Danu di luar, Aunty sama Kakak gak bolehin Valen ketemu,” kata Valencia dengan sesegukan.
“Terus sekarang, Daddy Danu nya mana?” tanya Arya dengan lembut.
“Tadi masih disana!” tunjuk Valencia.
Arya menatap kearah gerbang rumah itu. Pria itu tampak mengerutkan keningnya.
.
.
.
BERSAMBUNG!
Yuk, yang punya vote nganggur bisa kasih ke ArVan.
__ADS_1
Neng minta yak, bukan malak!
Mwehehee🤭