PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 21


__ADS_3

“Ar, ayo!” ajak Zivanya yang sudah siap. Kini, janda itu sudah rapi dan terlihat sangat cantik dengan dres brukat selutut yang ia kenakan. Rambut panjangnya tergerai indah.


“Ar lagi, kebiasaan amat sih!” guman Arya.


“Terus maunya apa? Abeng?” goda Zivanya.


“Tersera deh, panggil sayang juga aku gak nolak,” ucap Arya sambil bangkit dari sofa tempatnya duduk.


Mereka berdua pun, segera berangkat untuk mencari keberadaan tempat tinggal Kang Udin si penjual sayur keliling.


Hari baru, hubungan baru, dan semoga menjadi jalan kehidupan yang baru dan lebih baik lagi. Tiada sujud tanpa doa yang terucap dari bibir Arya, selama ini ia berdoa pada sang pemilik kehidupan, agar dapat di satukan bersama Zivanya. Ia meminta, agar sang pemilik kehidupan membukakan pintu hati Zivanya agar mau menerimanya. Dan sepertinya, hari ini sang pemilik kehidupan telah mengabulkan doa-doanya.


Mereka berdua menyusuri jalanan dengan mengendarai mobil Arya. Mereka banyak bertanya pada warga komplek. Para ibu-ibu tidak menjawab jika Zivanya yang bertanya, lain hal nya dengan Arya. Jadi, Zivanya lebih memilih berdiam diri di dalam mobil dan meminta Arya yang turun dari mobil itu dan bertanya pada ibu-ibu komplek.


“Ar, kamu aja ya yang tanya. Aku gak mau nanya lagi, mereka gak suka dan selalu memandang rendah aku,” ucap Zivanya dengan mengerucutkan bibirnya.


“Anggap aja, mereka itu fans julid. Yang iri sama kamu,” Arya mengacak rambut Zivanya.


Lama mereka berkeliling mencari kediaman Kang Udin. Hingga akhirnya, mereka bertanya kepada seorang bapak-bapak yang pulang dari Mushola.


“Pak, maaf. Saya mau tanya,” ucap Arya yang turun dari mobilnya dan menghampiri Bapak itu.


“Iya, Kang. Mau tanya apa?” tanya bapak itu dengan sopan.


“Saya mau tanya, di mana rumah Akang penjual sayur keliling yang namanya-“ Arya menghentikan ucapannya. Lalu memandang Zivanya yang berada di dalam mobil.


“Namanya Kang Udin!” sahut Zivanya.


“Oh, iya. Namanya Kang Udin, langganan calon istri saya beli sayur,” ucap Arya pada bapak itu. Pasalnya, bapak itu menatap heran pada Zivanya yang berada di dalam mobil.


“Si Udin? Itu Akang lurus aja lewat jalan ini, terus nanti di depan sana, ada belokan. Nah, di ujung jalan itu, rumah yang paling ujung itu rumah Kang Udin.”


“Makasih, ya. Pak,” ucap Arya. Lalu, ia segera kembali ke mobilnya dan segera bergegas menuju tempat yang di maksud bapak itu tadi.


Sekitar lima belas menit kemudian, mobil yang di kendarai Arya berhenti di depan gang kecil.

__ADS_1


Zivanya dan Arya segera turun. Tapi, Arya terlihat ragu. Ia menatap Zivanya, lalu menatap jalanan yang ada di bawah kakinya.


“Van, jalannya becek,” ucap Arya dengan pelan.


“Ayo, gak papa. Nanti sepatunya aku cuci,” kata Zivanya.


Jalanan yang ada di gang itu, memang sedikit becek. Tapi, tidak mengurungkan niat di hati Zivanya untuk membantu Kang Udin.


“Tapi beneran, rumahnya di dalam sana!” ujar Arya.


“Iya, kan mungkin aja!”


Sudah cukup lama mereka menelusuri gang sempit itu, yang hanya bisa di lalui motor dan juga pejalan kaki. Tapi, mereka belum juga sampai di rumah yang paling ujung.


“Janda!” panggil Arya pada Zivanya yang tak kenal lelah.


“Apa gebetan janda?” sahut Zivanya, membuat Arya yang sudah lelah terkekeh kecil.


“Tega ya, sebut aku gebetan janda,” kata Arya. “Cari minum dulu, aku haus banget.”


“Malah bandingin aku sama Kang Udin.”


Zivanya berjalan lebih dulu, lalu ia singgah pada sebuah warung kecil yang berada di pinggir jalan itu. Ia membeli minuman dingin untuk Arya, juga berbagai macam makanan sebagai buah tangan untuk anak Kang Udin. Tak lupa, ia kembali bertanya kepada pemilik warung.


“Bu, rumahnya Kang Udin yang sering jual sayur keliling, masih jauh gak ya?” tanya Zivanya.


“Itu, Neng. Itu rumah yang ada paling pojok!” tunjuk ibu pemilik warung.


Tentu, ibu pemilik warung itu merespon pertanyaan Zivanya dengan baik. Karena, ia tidak tahu bahwa Zivanya seorang janda. Jika ia tahu, mungkin ia akan bersikap jutek pula pada Zivanya seperti ibu-ibu kebanyakan.


“Oke, makasih ya, bu,” kata Zivanya.


Ia pun menarik Arya yang duduk bersandar di kursi kayu yang ada di depan rumah pemilik warung itu.


Kini, Zivanya dan Arya telah tiba di hadapan rumah Kang Udin.

__ADS_1


Mereka menatap iba, pasalnya, rumah yang di tinggali Kang Udin, Istri dan juga kedua anaknya, adalah rumah papan yang sudah reot dan juga kecil.


“Permisi! Permisi! Apa ada orang?” panggil Zivanya.


Beberapa saat kemudian, muncullah seorang wanita muda yang berpenampilan lusuh, umurnya mungkin di bawah Zivanya. Namun, terlihat agak tua karena himpitan ekonomi yang mungkin terbilang sulit.


“Iya, cari siapa?” tanya wanita itu.


“Betul, ini rumah Kang Udin?” tanya Zivanya sembari tersenyum manis.


“Betul, kalau boleh tau, kalian siapa dan ada perlu apa?” tanya wanita itu, ia menatap heran pada dua orang yang ada di hadapannya.


“Ah, sampe lupa. Kenalin, saya Zivanya langganan sayurnya Kang Udin!” Zivanya mengulurkan tangannya pada wanita itu.


Wanita itu tampak terkejut mendengar nama Zivanya, nama yang sering di sebut suaminya saat pulang berkeliling.


Zivanya salah mengartikan keterkejutan wanita yang ternyata istri dari Kang Udin itu. Buru-buru Zivanya menarik tangannya dari hadapan istri Kang Udin.


“Saya, Nina. Istri Kang Udin, maaf saya terkejut, saya tidak menyangka bisa bertemu neng Zivanya yang sering di ceritakan Kang Udin, ternyata Neng bukan hanya baik, tapu juga sangat cantik,” ucap Wanita itu sembari tersenyum ramah.


Zivanya bernapas lega, karena yang ia pikirkan salah.


“Kenalkan, saya Arya calon suami Zivanya!” Arya ikut mengulurkan tangannya pada wanita itu.


Arya dan Zivanya di persilahkan masuk, Zivanya meminta Arya untuk mengutarakan niat mereka datang ke rumah itu.


Kang Udin dan Istrinya sangat syok mendengar niat yang di ucapkan Arya dan Zivanya.


“Saya gak salah dengar, Kang, Neng?” tanya Kang Udin.


“Enggak, Kang Udin gak salah dengar. Kami memang berbiat untuk membiayai operasi tumor Oni,” kata Zivanya.


Kang Udin dan Istrinya tiada henti mengucap syukur kepada tuhan dan berterimakasih pada Arya dan Zivanya.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


MAKIN GAK JELAS ALURNYA!


__ADS_2