PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 92


__ADS_3

Hari sudah semakin malam, resort hotel VALE'S GRUP sudah mulai sepi. Willy dan Mei sudah berada di kamar pengantin mereka.


“Will, tolong dong ambilkan bajuku,” kata Mei yang berada di kamar mandi.


Tidak ada jawaban, Mei kembali berteriak. “Sayang, tolong ambilkan bajuku!”


Berulang kali Mei berteriak, tapi tetap tidak ada jawaban. Ia pun keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang membungkus tubuhnya.


“Astaga, udah tidur ternyata,” kata Mei setelah melihat Willy yang sudah tertidur pulas. Masih dengan kemeja putih, span dasar hitam dan juga sepatu yang masih melekat di tubuh dan kakinya.


Willy meringkuk di atas ranjang king size dengan taburan kelopak mawar merah itu. Melihat suaminya sudah tidur, Mei segera memakai piyama nya dan ikut tidur di samping Willy.


Sedangkan di kamar hotel milik Arya dan Zivanya. Tampak, Arya sedang memakan keripik talas yang ia bawa dari rumah. Ia memakan keripik pedas itu dengan begitu lahap.


“Eummm.. Jam berapa sih ini?” Zivanya membuka matanya, dan meraba ponsel yang ada di atas kepalanya.


“Hah? Jam 23:19 menit. Aku tidur dari sore, dan magrib gak ada yang bangunin,” guman Zivanya saat melihat jam di ponselnya.


“Beng,” panggil Zivanya pada Arya yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah bangun.


“Iya, yank. Kamu udah bangun?” Arya segera menutup toples cemilannya itu. Ia segera bangkit ke kamar mandi dan mencuci tangannya.


“Kamu belum tidur, beng?” tanya Zivanya sembari bangkit dari ranjang itu.


“Belum, aku gak bisa tidur. Mau main ubur-ubur, takut kamu marah,” kata Arya sembari berjalan ke arah ranjang.


Zivanya tersenyum, lalu ia memeluk tubuh suaminya itu. Ia mencium dada Arya yang hanya di tutupi kaos dalam.


Melihat istrinya yang seakan memberi sinyal, Arya segera melancarkan aksinya. Ia mencium bibir Zivanya dengan lembut, saat ciuman itu semakin dalam. Tiba-tiba Zivanya mendorong tubuh suaminya itu, ia mengambil tisu dan mengelap bibirnya.


“Kenapa, yank?” tanya Arya yang menyadari apa yang di lakukan istrinya.


“Pedes, aku gak mau!” Zivanya cemberut, lalu menjauhi Arya.


“Hahahaha! Maaf yank, aku lupa.” Arya tertawa terbahak. “Aku cuci muka dan sikat gigi dulu nih!”

__ADS_1


“Gak mau, aku mau tidur lagi,” cetus Zivanya. Ia segera berbalik dan tidur dengan memunggungi suaminya itu.


“Sayang, emang kamu gak kasian sama ubur-ubur ku?” rengek Arya.


“Kamu juga gak sayang sama aku, masa bibir ku di bikin pedas,” kata Zivanya dengan bersungut-sungut.


“Ya kan gak sengaja, aku lupa,” kata Arya. Lagi, Arya harus menahan hasratnya itu. Ingin memaksa, tapi ia tidak ingin menyakiti istrinya itu. Ia begitu menyayangi dan mencintai Zivanya.


Di kamar pengantin Mei dan Willy. Tampak, Willy sudah berada di ujung kaki Mei. Sepasang pengantin baru itu, tidur seperti kerbau.


Bleduk! Willy terjatuh dari ranjang pengantin itu.


“Auchhh.. Sakitnya!” er*ng Willy sembari bangkit dan memegangi kepalanya.


“Mei, sakit banget,” kata Willy sembari menarik kaki Mei.


“Hah?!” Mei terperanjat kaget, dan ikut terbangun. Ia segera turun dari ranjang itu dan melihat keadaan Willy.


“Will, kamu kenapa?” tanya Mei dengan panik. Ia melihat kepala Willy yang sedang di gosok oleh Willy sendiri. “Kepala kamu kenapa merah begini?”


“Sini aku tiup,” ucap Mei sembari meniup kening suaminya yang tambah memerah.


Willy memperhatikan wajah Mei yang sangat dekat dengan wajahnya dan begitu serius meniup keningnya. Jantung Willy menjadi berdetak begitu cepat.


“Mei, kepalaku udah gak sakit. Sakitnya pindah Mei,” kata Willy tiba-tiba.


“Pindah kemana?” tanya Mei begitu serius.


“Sakitnya pindah kesini, kayaknya aku sakit jantung dan paru-paru, Mei. Coba cek, jantungku berdetak gak normal.” Willy menarik tangan kanan Mei dan melegakannya di dadanya.


“Aku positif, Mei. Positif mencintai kamu!” ujar Willy. Tanpa aba-aba, Willy menarik tubuh Mei dan menggendongnya. Lalu, ia menghempaskan tubuh itu ke atas ranjang.


Willy segera melepas sepatu dan kemejanya, ia lempar sepatu dan kemeja itu secara asal. Mei yang menunggunya di atas ranjang, terlihat memejamkan mata. Ia merasakan gugup dan takut, karena dari yang ia dengar dan juga artikel yang ia baca, melakukan hubungan badan untuk pertama kalinya sangatlah sakit.


“Bismillah,” batin Mei saat Willy memulai mencium wajahnya.

__ADS_1


Willy pun melakukan semua yang sudah ia pelajari dari situs dewasa. Cukup lama ia melakukan pemanasan, dan kini kedua anak manusia itu sudah sama-sama polos.


“Mei, maafin aku, ya. Kalau aku gak bisa bikin kamu puas, aku janji bakal lakuin semuanya dengan hati-hati. Kamu tahan, ya!” Willy mencium kening Mei.


Ia pun mencoba untuk menerobos pertahanan Mei. 1 2 3 4x ia mencoba, tapi selalu gagal.


“Aihh, sudah banget. Rasanya kepalaku udah pusing,” gerutu Willy setelah gagal melakukan hal itu sebanyak 4x.


“Aku coba lagi,” kata Willy dan Mei mengangguk pelan.


“Willy!” pekik Mei dengan kencang saat Willy berhasil menerobos pertahanan nya. Tampak, air mata Mei keluar dari sudut matanya. Tangannya mencakar punggung Willy, bukan hanya Mei yang merasakan sakit, tapi juga Willy. Punggung Willy ikut terluka dan berdarah akibat cakaran kuku panjang Mei.


“Mei, maafin aku,” bisik Willy di telinga Mei. Ia menghapus air mata Mei dengan lembut.


Cukup lama Willy bermain dengan pelan, air mata Mei telah berhenti menetes. Kini, tangisan Mei sudah berubah menjadi des*han indah.


"Emmm! Uhhh!"


Willy semakin bersemangat. Ia semakin cepat bermain di atas tubuh Mei. Hingga akhirnya, ia berhasil melepaskan peluru pertamanya di dalam milik Mei.


“Pantesan Bang Arya suka mengurung Mbak Vanya di dalam kamar, jadi gini rasanya.” Batin Willy. Kini, ia sudah selesai, ia mencium pipi, kening dan mata Mei hingga turun ke bibir.


“Makasih ya, sayang. Maafin aku, udah bikin kamu sakit,” kata Willy.


Mei menggeleng, “Gak perlu minta maaf, bukannya kita sama-sama menikmati semuanya?” Mei memeluk tubuh Willy.


“Kalo gitu, kita ulangi lagi, ya!” pinta Willy. Membuat mata Mei membola penuh.


.


.


.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


__ADS_2