
“Dari rumah janda, ehh janda. Maksud Rendi, dari rumah mbak Vanya, tetangga baru kita,” kata Rendi kepada ibunya.
“Jadi, perempuan genit yang ada di sebelah rumah kita, janda?” tanya ibu Rendi yang bernama Tati itu.
“Iya!” jawab Rendi singkat, lalu melewati sang ibu begitu saja. Ia pergi menuju kamarnya.
“Ahh.. Wangi sekali,” Rendi mencium tangannya yang bekas bersalaman dengan Zivanya. “Semoga nanti malam, kita bertemu di alam mimpi, Mbak Vanya.”
ABG itu berguling-guling di atas ranjangnya sembari membayangkan wajah cantik Zivanya.
.
.
.
“[Hallo, Vanya!]” sapa orang yang ada di seberang telpon.
“[Ya, ada apa? Kangen ya!]” goda Zivanya. Membuat orang yang ada di seberang telepon terkekeh kecil.
“[Emang, kalo kangen gak dosa?]”
“[Enggak sih! Emang situ mau ngangenin janda anak dua kayak sini, hahaha!]”
“[Udah deh, jangan buat aku makin baper. Aku nelpon kamu, Cuma mau bilang. Kalo aku, belum bisa kirim motornya kesana buat kamu,]”
Ya! Orang yang menghubungi Zivanya adalah Arya, sahabat almarhum Valentino.
“[No problem! Motornya bisa kapan aja, lagian aku gak terburu-buru. Sekolah Nino juga tidak terlalu jauh dari sini.]” jelas Zivanya.
__ADS_1
“[Maaf banget, ya.]” ucap Arya. Ia merasa tidak enak hati pada Zivanya.
“[Oiya, gimana lingkungan di sana? Orangnya ramah-ramah gak?]” tanya Arya, seakan ia sudah paham akan situasi di tempat tinggal Zivanya yang baru.
“[Baik, orangnya juga ramah-ramah.]” jawab Zivanya.
“[Hahaha! Aku tau, gak usah di tutupin. Mereka pasti bilangin kamu genit kan?]”
“[Kok kamu tau?]”
“[Ya tau lah! Di manapun kamu berada, para perempuan lain akan selalu beranggapan begitu. Kamu kan emang genit dan centil, aku pun menganggap kamu kayak gitu kok! Hahaha.]”
“[Sialan! Awas ya kamu, entar kalo ketemu. Ku sunat sampe abis!]”
“[Coba aja kalo berani!]” tantang Arya.
Zivanya yang kesal, langsung mematikan sambungan telpon itu. Sedangkan di seberang telpon, Arya tak henti-hentinya tertawa. Ia senang sekali menggoda Zivanya, baginya, membuat wanita yang berstatus sebagai janda itu kesal, menghadirkan kesenangan sendiri di hatinya.
.
.
.
Seminggu kemudian, kabar bahwa Zivanya adalah seorang janda genit dengan dua anak. Sudah menyebar ke seluruh kompleks anggrek.
Ibu-ibu yang ada di kompleks itu semakin tidak suka pada Zivanya. Terlebih lagi, jika mereka melihat suami mereka bertamah ramah kepada janda itu.
Seperti sore itu, seorang ibu-ibu tengah memarahi suaminya di tengah jalan. Karena terpergok menggoda Zivanya, si janda beranak dua.
__ADS_1
Tin! Pria kisaran 40 tahun menekan klakson motornya di belakang Zivanya yang sedang berjalan kaki bersama Valencia.
Zivanya dan Valencia menghentikan langkah mereka, dan menoleh pada motor yang ada di belakang mereka.
“Neng Vanya!” sapa pria itu.
“Ehh.. Pak Dasuki,” kata Zivanya sembari tersenyum manis. Bukan niat Zivanya untuk menggoda, tapi senyumnya memang seperti itu.
“Dari mana, Neng?” tanya pria yang akrab di sebut Pak Dasuki itu.
“Dari kedai yang ada di ujung sana, Pak. Valen minta di belikan Ice cream,” kata Zivanya dengan jujur. Valencia memang minta di belikan Ice cream, dan kebetulan ada kedai Ice cream yang tidak terlalu jauh dari kediaman Zivanya.
“Terus, sekarang Neng Vanya dan si kecil mau kemana lagi? Biar Mas Suki antar,” tawar Pak Dasuki.
“Saya dan Valen mau pulang, Pak. Terimakasih tawarannya, tapi saya dan Valen bisa berjalan kaki. Lagi pula, jarak dari sini ke rumah saya, gak sampe 100 meter,” tolak Zivanya. Sebenarnya, ia risih dengan sikap Pak Dasuki yang terkesan sok kenal dan sok dekat itu.
Diam-diam, seorang ibu-ibu yang tidak jauh dari tempat Zivanya dan Pak Dasuki, mengirim pesan kepada istri Pak Dasuki.
Saat Zivanya dan Valencia hendak berjalan dari tempat itu, tiba-tiba saja datang pengendara sepeda motor yang membonceng seorang wanita berdaster yang kira-kira umurnya 35 tahunan.
“Oo.. Jadi, bapak di sini sama janda genit ini, ya! Pantas dari siang gak pulang-pulang!” Wanita yang baru saja datang itu segera turun dari motor yang ia naiki. Lalu, mendekati suaminya dan menjewer telinga suaminya itu, di hadapan Zivanya dan Valencia.
“Ayo, sayang. Kita pulang!” ajak Zivanya pada putrinya. Ia tidak ingin, putrinya melihat hal yang tidak-tidak.
“Bapak mau selingkuh sama janda gat*l itu ya!” tuduh istri Pak Dasuki sambil menujuk Zivanya yang menuntun tangan Valencia.
“Enggak, Bu. Bapak gak sengaja lihat dia pas lewat, terus bapak tawarin naik motor bapak,” kata Pak Dasuki.
“Ibu gak mau tau, pokoknya ibu gak mau lagi liat bapak dekat-dekat sama janda genit itu!” Istri Pak Dasuki memarahi suaminya di depan banyak orang.
__ADS_1
“Ayo, pulang! Awas kalo keluar rumah lagi!” Istri Pak Dasuki segera menaiki motor Pak Dasuki.
BERSAMBUNG!