PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 94


__ADS_3

Zivanya yang baru saja pulang dari menjemput Nino di sekolah, segera menghentikan mobilnya karena teriakan Valencia.


“Mommy, berhenti!” teriak Valencia.


“Kenapa, sayang? Ada apa?” tanya Zivanya sembari melambatkan laju mobilnya.


“Di depan ada Daddy Danu. Tolong berhenti,” kata gadis kecil itu.


Zivanya memandang keluar dari kaca mobil. Ia melihat Danu sedang duduk bersandar di kursi dengan wajah yang terlihat begitu lelah. Ia pun menghentikan mobilnya tepat di hadapan Danu.


Ia dan Valencia segera keluar dari mobil itu. Tapi tidak dengan Nino, anak itu memilih untuk berdiam diri di dalam mobil.


Danu yang melihat Zivanya dan Valencia keluar dari dalam mobil hitam itu, membulatkan matanya.


“Daddy!” panggil Valencia sembari berlari ke arah Danu.


“Valencia, Zivanya,” sebut Danu dengan lirih.


Danu segera menangkap tubuh Valencia yang berlari ke arahnya. “Princess daddy, apa kabarnya?” tampak, Danu tersenyum pada Valencia.


“Baik dong, dad.”


“Kamu kenapa disini?” tanya Zivanya pada Danu.


“Habis cari kerja,” kata Danu. Ia terlihat sungkan berbicara dengan Zivanya. Wanita yang pernah ia sakiti tapi begitu sangat ia cintai.


“Dapat?” tanya Zivanya dan Danu menggeleng.


“Mana ada perusahaan yang mau menerima ijazah SMA kayak gini,” kata Danu sembari tersenyum kecut.


“Kamu udah makan?” tanya Zivanya dan lagi, Danu hanya menggeleng.


“Ya udah, kita cari makan dulu. Aku juga udah laper banget,” kata Zivanya.


“Kalian aja, ya. Aku harus lanjut lagi!” ujar Danu. Ia tidak enak, jika harus ikut bersama Zivanya.


“Gak ada penolakan, kita teman kan? Valencia juga akan sangat sedih kalau kamu menolak,” kata Zivanya. Membuat Danu mengikuti langkah Valencia menuju mobil.

__ADS_1


Di dalam mobil itu, terlihat Nino sudah pindah duduk di kursi bagian depan. Anak itu bergumam saat melihat Danu masuk ke dalam mobil bersama Valencia. “Sudah kuduga, dia pasti ikut,”


“Nino!” tegur Zivanya yang mendengar gumanan putranya itu.


“Hehee, iya, mom?” Nino hanya terkekeh kecil.


.


.


.


Arya memanggil Willy ke ruangan kerjanya. Ia mengatakan pada Willy, ada sesuatu yang penting yang harus ia bicarakan. Willy pun segera datang ke ruangannya.


“Ada apa, bang?” Willy berjalan gontai dan mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di depan meja kerja Arya.


“Mulai malam ini, kamu sama Mei pulang ke rumah utama,” kata Arya membuat Willy menggosok telinganya. Apakah ia salah dengar atau tidak.


“Aihh.. Apa Willy gak salah dengar?” tanya Willy.


“Tapi kenapa, bang?” tanya Willy dengan heran. “Suruh pindah buru-buru, pasti ada alasannya kan?”


“Gak usah tanya kenapa. Kalau kamu gak mau pindah, ku coret namamu dari daftar KK!” ujar Arya.


“Bukannya KK kita emang udah pisah ya, bang?” Willy mendekatkan wajahnya pada wajah Arya.


“Oh, bukan KK kalau gitu. Tapi daftar persaudaraan adik dan kakak!”


“Ya udah, aku telpon Mei sekarang. Suruh dia siap-siap,” kata Willy mengalah.


Willy pun segera menghubungi istrinya. “[Hallo, Mei!]”


“[Iya, yank. Kenapa?]” tanya Mei yang ads di seberang telpon.


“[Kamu kemas pakaian kita, malam ini kita harus pindah ke kediaman Bang Arya,]” kata Willy sembari melirik Arya yang ada di hadapannya.


“[Tapi kenapa? Kok buru-buru banget?]” tanya Mei.

__ADS_1


“[Jangan banyak tanya, Mei. Cepat bersiap, nanti Willy akan menjemput,]” kata Arya yang telah merebut ponsel Willy. Setelah itu, ia mematikan sambungan telpon itu.


“Vangke kau, bang. Aku belum sempat mencium istriku!” maki Willy. Ia tidak suka, Arya mematikan sambungan telpon itu begitu saja.


“Ini kantor, jadi di larang bucin kecuali bos!”


“Mana ada peraturan kayak gitu, bang,” kata Willy.


“Ada lah! Di sini, bos nya aku apa kamu? Aku kan? Jadi kamu harus nurut sams bos,” ucap Arya membuat Willy semakin dongkol.


“Udah, sana pergi ke ruangan kamu!” usir Arya.


“Astaga, kejam banget sih bang.” Willy segera pergi dari ruangan kerja Arya. Ia selalu saja di buat kesal dengan tingkah Arya yang selalu seenaknya.


.


.


.


BERSAMBUNG!


Sembari nunggu update, bisa mampir di karya Mak online Neng yang ada di bawah ini ya!


DUDA VS ANAK PERAWAN


(Santi Suki)


Yusuf, Duda muda dan keren yang beranak satu. Karena kebaikan akhlaknya banyak disukai oleh kaum hawa.


Zulaikha, anak perawan yang masih berseragam OSIS. Bilqis, mahasiswi magang di tempat anaknya sekolah. Sarah, CEO muda yang merupakan atasannya di kantor.


Yusuf, harus membesarkan Asiah seorang diri. Anak gadis kecil yang aktif dengan rasa ingin tahu yang kuat. Kecerdasan dan gaya bicaranya sering membuat orang-orang dibuat mati kutu.


Bagaimana kisah Yusuf dalam membesarkan Asiah. Anak perawan mana yang akan mendapatkan hati Yusuf?


__ADS_1


__ADS_2