PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 9


__ADS_3

Di pagi hari, Zivanya yang bangun tidur mengikat rambutnya secara asal, setelah itu, ia mencuci mukanya ke kamar mandi. Dan segera pergi keluar rumah untuk berbelanja.


“Mei, tolong kamu bangunin anak-anak ya! Aku mau beli sayur dulu sebentar.”


“Iya, mbak.” Mei yang juga baru bangun tidur, segera menuju kamar Valencia dan Nino.


Sedangkan Zivanya, kini ia mendatangi penjual sayur yang sudah di kerumuni oleh ibu-ibu yang ada di lingkungan komplek anggrek itu.


“Pagi, Kang!” sapa Zivanya dengan ramah kepada penjual sayur.


“Pagi, Neng!” balas sang penjual sayur. “Ehh.. Neng orang baru ya?” terka penjual sayur, karena ia baru pertama kalinya melihat Zivanya di tempat itu.


“Iya, Kang, saya dan anak-anak baru pindah kemarin sore,” jawab Zivanya. Sambil ikut berdesak bersama ibu-ibu lainnya mengerumuni gerobak sayur.


“Centil banget!” tiba-tiba seorang ibu-ibu bertubuh yang jauh dari kata indah, menyindir Zivanya.


Zivanya hanya menatap ibu itu sekilas, lalu, kembali fokus memilih daging dan sayuran yang akan dia beli.


“Kang, saya minta ikannya setengah kilo, daging ayamnya sekilo, tomat, cabai juga yang lainnya!” Zivanya menumpuk semua belanjaan yang ia pilih di hadapan penjual sayur dan juga para ibu-ibu.


“Sok-sokan! Orang baru ngeborong belanjaan,” ucap ibu-ibu yang lain.


“Bu ibu! Mending cepat belanja, nanti suami dan anaknya kelaparan di rumah. Niat belanja kok malah ngegosip!” sindir Zivanya sambil memberikan uang 150 ribu kepada penjual sayur.


“Makasih ya, Kang.” Zivanya sudah menenteng kantong belanjaannya. Tapi, penjual sayur menghentikan langkahnya.


“Neng, sisanya nih! 15 rebu lagi!” panggil si penjual.


“Ambil aja, Kang. Buat anak Akang beli permen.” Zivanya setengah berteriak, pasalnya, ketika kang sayur memanggilnya, ia sudah berada di depan gerbang rumahnya.

__ADS_1


“Alhamdulillah, Si Oni dapat rezeky pagi-pagi dari Si Neng cantik,” Oni adalah nama anak kang sayur yang baru berusia 3 tahun. Dan nama tukang sayur itu adalah Udin.


“Dasar, belagu tu si perempuan!” ibu-ibu yang mengerumuni gerobak tukang sayur itu terus menggosip. Hingga membuat Kang Udin kesal.


“Emak-emak! Jadi gak sih belinya, saya mau keliling lagi nih!”


“Sabar napa sih, Kang!”


“Kang, saya utang tahu tempenya ya. Satu bungkus,” kata seorang ibu-ibu yang paling awal menyindir Zivanya tadi.


“Aduh! Kumaha atuh, yang kemarin saja belum di bayar malah sudah mau ngutang lagi!” ujar Kang Udin.


Ibu itu hanya tersenyum malu di hadapan ibu-ibu lainnya. Sedangkan Kang Udin, hanya memutar bola matanya dengan malas.


.


.


.


“Iya, Mom.”


“Mommy, Valen boleh ikut antar Kak Nino ke sekolah yang baru, tidak?” tanya Valencia sambil menyuap nasi yang ada di sendok nya.


“Boleh, sayang! Kalau begitu, Mommy siap-siap dulu, ya. Kalian cepat habiskan sarapannya,” Zivanya meninggalkan Nino dan Valen bersama Mei yang sedang sarapan.


Beberapa saat kemudian, Zivanya kembali dengan pakaian yang sudah rapi. Dres selutut berwarna merah muda dan juga make up tipis yang menghias wajahnya.


“Ayo, sayang, Mei!” ajak Zivanya.

__ADS_1


Mereka pun keluar rumah, dan mendatangi taxi yang sudah menunggu di depan gerbang. Namun, saat Zivanya hendak masuk kedalam taxi itu, ia teringat pada ponselnya yang tertinggal.


“Mei, kamu dan anak-anak tunggu sebentar, ya! Aku mau ambil ponsel dulu, kata Zivanya lalu segera berlari kecil.


“Ayune!” Seorang pria yang kisaran berumur 43 tahun itu memandang Zivanya dari teras rumahnya.


“Apa yang ayu?” tanya orang yang ada di belakangnya.


“Itu, perempuan yang nunggu rumah baru di samping,” jawab pria itu.


“Sejak kapan, bapak jadi genit begini!” Orang yang ternyata adalah istrinya itu, menjewer suami si pria. Lalu, menarik pria itu masuk ke dalam rumah.


“Ampun, buk! Bapak gak genit.”


“Ada apa sih, Bu?” tanya anak dari perempuan dan pria itu.


“Ini, bapakmu ngintipin perempuan centil yang tinggal di rumah sebelah.”


“Itu gak bener, Ren. Ibumu bohong, wong bapak tadi sedang santai di teras rumah, tiba-tiba ibumu jewer telinga bapak,” kilah sang bapak.


“Kalian berisik! Ya udah deh, Rendi berangkat sekolah dulu,” ABG yang berusia 18 tahun dan berstatus sebagai pelajar kelas 3 SMA itu, segera pergi meninggalkan ibu dan bapaknya yang sedang bertengkar.


Ia segera keluar dari rumah, dan tanpa sengaja. Ia berpapasan dengan Zivanya yang sedang berjalan menuju taxi.


“Bidadari! Cantiknya, bukan main..” Rendi melongo saat melihat penampilan dan wajah cantik Zivanya.


Zivanya melewati pemuda itu begitu saja, dan segera masuk kedalam taxi.


Sedangkan Rendi, pemuda itu malah bengong seperti orang bodoh di tempatnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG!


__ADS_2