
“Asataga, Kinanti!” pekik Zivanya.
Zivanya segera berlari kecil ke arah Kinanti yang terduduk di lantai pinggiran meja kompor.
“Mbak Vanya,” ucap Kinanti sembari memegangi perutnya.
“Danu, Danu mana?” tanya Zivanya panik.
“Udah berangkat ke kantor,” kata Kinanti.
“Ketuban nya udah pecah, kamu tahan ya. Kita ke rumah sakit sekarang,” kata Zivanya dengan panik. Ia segera membantu Kinanti berdiri dan memapah tubuh Kinanti keluar dari apartemen itu.
Di dalam mobilnya, Zivanya membantu Kinanti duduk. Tak lupa, ia juga memakaikan Kinanti sabuk pengaman. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, saat ini ia benar-benar panik. Ia takut, terjadi hal buruk pada Kinanti dan bayinya.
“Telpon, telpon abang!” Di saat menyetir, Zivanya menyempatkan untuk menelpon suaminya.
“Hallo sayang!” Sahut Arya yang ada di seberang telpon. Ia baru saja turun dari mobilnya dan memasuki lobi perusahaan.
“Abeng, cepet kesini. Aku lagi jalan ke rumah sakit, Kinanti mau melahirkan. Aku takut, beng. Hiks!”
“Jangan nangis, jangan panik. Hati-hati, aku kesana sekarang,” kata Arya. Ia mematikan sambungan telpon itu.
“Panggilkan Danu!” teriak Arya pada salah satu karyawannya.
Karyawan itu segera mengangguk dan menemui Danu yang berada di raungan kerja paling ujung.
“Dan, di panggil Pak Arya. Dia nunggu di lobi,” kata Karyawan itu setelah tiba di ruangan kerja Danu.
“Kenapa, ya? Apa aku berbuat salah?” batin Danu. Ia begitu takut, kalau-kalau Arya akan memecatnya karena melakukan kesalahan.
Dengan perasaan takut, ia segera berjalan keluar dan menuju lobi.
“Ada apa, pak?” tanya Danu formal setelah ia tiba di lobi, tepat di hadapan Arya.
__ADS_1
“Kita kerumah sakit sekarang,” kata Arya, membuat Danu terkejut.
“Ada apa, pak? Apa terjadi sesuatu pada Valencia?” tanya Danu dengan panik.
“Bukan Valencia, tapi istrimu!” cetus Arya. Arya tidak menyangka, bahwa yang pikiran Danu langsung tertuju pada putrinya. “Zivanya datang kesana untuk menemui dan menemani istrimu, dan ternyata istrimu mau melahirkan!”
“Astaga, Kinanti,” guman Danu. Tanpa sadar, Danu merebut kunci mobil yang ada di tangan Arya dan berlari ke arah mobil Arya yang terparkir.
Semua karyawan yang melihat hal itu terkejut. Mereka menjadi bertanya-tanya, ada hubungan apa Danu si karyawan biasa dengan Arya sang pemilik tunggal perusahaan DIRGANTARA GRUP.
Di tengah rasa penasaran mereka semua, mereka hanya bisa diam tanpa berkata apa-apa. Karena ada Willy si mayat hidup yang mengawasi mereka semua.
Arya segera mengejar Danu yang sudah memasuki mobilnya. “Danu!” teriak Arya sembari menggedor kaca mobilnya. “Buka gak! Kalau gak kamu buka, ku colok matamu!”
“Ahh, maafkan saya, pak. Saya panik!” Danu segera membuka pintu mobil samping kemudi. Arya pun segera masuk dan duduk, setelah memastikan Arya duduk. Danu segera melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.
“Bapak, bapak! Gila apa?” gerutu Arya. Ia sangat tidak suka di panggil dengan sebutan bapak oleh Danu.
“Enggak, dari angkatan sampai hamil lima bulan. Mana ada aku perduli,” kata Danu jujur. Membuat mata Arya membola penuh seperti mau keluar dari tempatnya. Ingin sekali Arya memukul kepala Danu sampai berdarah-darah.
“Gila kamu!” cetus Arya.
“Serius, Ar. Dari sebelum dia hamil, pikiranku selalu tertuju sama Zivanya. Terus pas tau dia hamil sebulan setengah, aku semakin gila mikirin istrimu itu. Sampe akhirnya aku nekat culik istrimu dan akhirnya aku sadar dan lari ke kantor polisi. Sebulan lebih aku mendekam di tahanan. Setelah kamu dan Zivanya bebasin aku, aku masih sibuk mikirin yang udah terjadi tanpa mikirin anakku dan Kinanti. Tapi setelah itu aku sadar, Kinanti istriku wanita yang udah banyak berkorban buat aku. Meskipun aku akui, semua jalan salah yang aku tempuh dialah yang mengawali!”
Arya tampak serius menyimak semua perkataan Danu. Tak terasa, saat ini mobil yang di kendarai Danu berhenti du parkiran rumah sakit.
“Kok berhenti!” tanya Arya. Ia tidak sadar jika telah sampai.
“Udah sampek!” Danu meninggalkan Arya yang masih berada di dalam mobil.
“Cepet banget, dia aja belum kelar cerita,” guman Arya. Arya segera membuka pintu mobil dan mengejar Danu yang sudah berajalan lebih dulu dengan tergesa-gesa.
Sedangkan Zivanya dan Kinanti, kini sudah berada di UGD.
__ADS_1
“Mbak, sakit banget,” lirih Kinanti. Ia terus bergerak sembari menahan sakit.
“Bagaimana ini, mbak? Air ketubannya sudah kering. Jika terus seperti ini, bayinya bisa meninggal,” kata Dokter.
“Lakukan saja operasi, Dokter. Tolong cepat lakukan yang terbaik,” kata Zivanya.
“Baiklah kalau begitu, tolong tandatangi berkas-berkas ini!”
Akhirnya, Kinanti di bawa ke ruang operasi. “Kamu harus kuat, demi Danu dan anak kalian!” Zivanya menggenggam tangan Kinanti, sebelum Kinanti di bawa masuk ke ruang operasi.
Danu dan Arya pun tiba di dalam rumah sakit itu, mereka menghampiri Zivanya yang duduk di kursi tunggu.
“Sayang!” panggil Arya pada Istrinya yang duduk sembari mengusap perutnya, tampak mata Zivanya memerah.
“Abeng!” Zivanya bangkit dan memeluk suaminya itu. “Beng, aku suruh Kinanti di operasi.”
“Iya, dia dan bayinya pasti sehat dan selamat,” kata Arya.
Danu hanya diam, tampak sekali bahwa pria itu was-was dengan keadaan istrinya. “Semoga Kinanti dan bayinya baik-baik aja.” Batin Danu.
.
.
.
BERSAMBUNG!
*
Sembari nunggu up, bisa mampir di karya yang ada di bawah ini ya!
__ADS_1