PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 68


__ADS_3

“Penjara? Apa maksud kamu?” tanya Zivanya yang begitu terkejut.


“Danu di penjara?” tanya Arya. “Sejak kapan?”


“Iya, sejak kejadian itu. Dia memutuskan untuk mengembalikan seluruh harta yang ia dapat dari menipu Mbak Vanya, dan dia juga memutuskan untuk menyerahkan diri ke kantor polisi,” kata Kinanti. Ia menceritakan semuanya kepada Arya dan Zivanya.


“Lalu, apa hubungannya sama saya?” tanya Zivannya bernada dingin dan tidak perduli.


“Tolong, Mbak. Cuman Mbak Vanya yang bisa membebaskan Bang Danu, saya mohon bantu saya,” kata Kinanti. Ia masih berada di posisi nya. Bersimpuh di kaki Zivanya.


“A-a-aku..” Zivanya tergagap, ia menatap suaminya yang ada di sampingnya. Tapi, Arya yang berada di sampingnya itu diam saja.


“Aku gak bisa bantu kamu,” kata Zivanya kemudian. Membuat Kinanti semakin terisak.


“Tolong lah, Mbak. Aku janji, setelah ini gak akan pernah muncul dan ganggu kehidupan Mbak Vanya dan keluarga. Aku mohon, tolong bebasin Bang Danu. Kasiani aku dan anakku, Mbak,” ucap Kinanti dengan lirih.


Zivanya mengerutkan dahinya, tatapannya pun jadi berfokus pada Kinanti seorang.


“Hamil tanpa di dampingi suami sangat sulit dan menyakitkan. Tapi, aku harus gimana? Dulu, aku hamil tanpa Bang Valentino. Bukan hanya hamil, tapi juga mengurus anak balita sendirian. Jika aku mampu, kenapa dia enggak? Dan kenapa malah mengemis maaf dan ampun seperti ini?” batin Zivanya.


“Sayang, jangan melamun. Gak baik, kamu kan lagi hamil,” ucap Arya yang ada di samping Zivanya dengan lembut sembari menyentuh bahu istrinya itu.


“Mbak lagi hamil juga?” tanya Kinanti, ia sedikit mendongakkan wajahnya. Wajah yang pucat dan penuh air mata.

__ADS_1


“Iya.” Jawab Zivanya singkat.


“Karena, Mbak lagi hamil. Tolong kasiani aku, Mbak. Bayangkan jika mbak yang ada di posisi aku,” kata Kinanti. Ia mengiba dan terus mengiba. Tapi, nampaknya Zivanya tidak perduli sama sekali.


“Kamu suruh aku bayangkan posisi kamu saat ini sama aku?” Zivanya menatap Kinanti dengan cara memiringkan kepalanya. “Sekarang, aku minta kamu bayangkan. Dimana kamu lagi hamil, terus suami kamu meninggal dalam kecelakaan. Kamu bukan Cuma hamil, tapi juga punya anak balita. Gimana tuh?”


“Mending kamu, Danu gak mati. Cuma di penjara doang, itu juga karena dia memang bersalah.”


“Kalau, Mbak Vanya memang gak bisa bantu aku. Aku mohon pamit, makasih waktunya, Mbak.” Kinanti bangkit dari lantai rumah itu. Ia menyeka air matanya. Setelah itu, ia pamit pergi meninggalkan kediaman Arya.


Zivanya terus menatap kepergian Kinanti dengan tatapan dingin yang menusuk. Seakan-seakan tak punya hati dan perasaan.


Setelah Kinanti menghilang dari pandangannya. Zivanya menangis, tubuhnya merosot di lantai itu.


“Hiks.. Aku jahat, Beng. Aku jahat!” Zivanya terisak. Air mata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya keluar dengan sendirinya.


“Aku harus gimana? Aku gak tega liat dia, hamil tanpa suami itu sangat sakit, Beng.” Zivanya menangis dalam dekapan Arya.


“Sayang, jangan menangis. Ingatlah! Semua takdir manusia sudah digariskan oleh TUHAN!”


“Lagi an, Danu di penjara karena memang salah dia. Dia udah berbuat jahat, jadi dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya!” Arya mengusap punggung istrinya.


“Mbak, jangan menangis. Kasian kandungan, Mbak,” kata Mei yang masih ada di tempat itu.

__ADS_1


.


.


.


Kinanti terus menyusuri jalanan, ia terus menangis. Tujuannya adalah kantor polisi, ia ingin menemui suaminya.


Melihat angkot yang melintas, Kinanti segera menyetopnya dan masuk kedalam angkot tersebut.


Beberapa saat kemudian, Kinanti sudah tiba di kantor polisi. Ia segera masuk dan menuju ruangan dimana suaminya di tahan.


Setelah Kinanti meminta pada polisi penjaga lapas. Danu pun di izinkan keluar dan di beri waktu lima menit seperti biasanya untuk mengobrol.


Kinanti sudah duduk di kusri untuk orang yang membesuk tahanan.


“Bang Danu!” panggil Kinanti masih dengan wajah yang di banjiri oleh air mata.


Danu membalas, tapi bukan menyebut nama Kinanti. “Zivanya!”


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG!


__ADS_2